TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO- Komisi 4 DPRD Kabupaten Banyumas menyesalkan hilangnya nyawa seorang pelajar SMP berinisial SH (14) yang tewas dalam kericuhan pembubaran balap liar di kawasan Bundaran Berkoh Purwokerto.
Kejadian tersebut dinilai menjadi alarm bahwa kondisi pergaulan remaja saat ini harus diperhatikan.
Semua harus terlibat, pemerintah daerah, kepolisian, sekolah dan orangtua untuk memantau pergaulan anak, terutama dalam membatasi jam malam.
Ketua Komisi 4 DPRD Banyumas, Dukha Ngabdul Wasih mengatakan, pertama dia ikut berbelasungkawa atas meninggal dunianya seorang pelajar SMP.
Dia berharap, pihak keluarga diberi ketabahan dan almarhum husnul khotimah.
"Kedua, ini jadi warning, alarm dan notice untuk semua warga Banyumas.
Bahwa kondisi pergaulan anak remaja hari ini harus menjadi krisis perhatian kita semua. Dari unsur pemerintah, masyarakat, dan semuanya," katanya kepada tribunbanyumas.com, Kamis (10/9/2026).
Dukha mengingatkan, para remaja ini cikal bakal untuk masa depan bangsa, khususnya bagi Kabupaten Banyumas.
Tetapi hari ini pergaulan begitu bebas, bahkan setiap pukul 02.00, tiap Sabtu dan Minggu menjadi waktu yang rawan untuk kenakalan remaja.
"Entah balap motor, geng motor, begitu banyak ngumpul di Banyumas," ujarnya.
Baca juga: Jadwal Pertandingan Perdana PSIS Semarang Lawan PSPS Pekanbaru
Dorong Tindakan Tegas
Menurut Dukha, keramaian anak-anak motor ini sebenarnya sudah banyak dikeluhkan oleh masyarakat, bahkan banyak yang memposting di media sosial atau platform yang lain.
Dia pun pernah melihat sendiri saat melintas di jalan sekira pukul 03.00.
Terdapat ratusan anak-anak motor, mereka tidak berhelm, kendaraan tidak standar, tidak berplat nomor, dan beberapa bahkan membawa senjata tajam.
"Saya sendiri melihatnya seram. Selain membahayakan mereka, ini juga dapat membahayakan orang lain yang memang melintas pulang kerja atau kerjanya malam," jelasnya.
Dukha menilai, sudah saatnya ada tindakan tegas dari aparat kepolisian, Satpol PP dan unsur terkait lainnya.
Tujuannya untuk mencegah adanya korban-korban yang lain.
Sehingga anak-anak yang terindikasi berkeluyuran malam hari dan berpotensi mengganggu ketertiban umum, untuk diamankan dan diberi pembinaan.
"Jika perlu diberi sanksi agar ada rasa jera. Memang mereka masih di bawah umur, justru karena itu perlu dicegah agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," ungkapnya.
Perhatikan Pergaulan Anak
Dukha mengatakan, pihak sekolah juga harus menggencarkan imbauan kepada siswa, baik saat upacara maupun di dalam kelas.
Berikan pemahaman tentang bahaya kenakalan remaja dan pergaulan bebas.
Kemudian yang tidak kalah penting, orangtua harus lebih memperhatikan pergaulan anak di luar jam sekolah.
"Bukan berarti anak-anak ini hanya tanggung jawab sekolah atau pemerintah, tetapi semua. Terutama dari orang tua," katanya.
Dukha menilai, menjadi orang tua saat ini harus terkoneksi dengan anak, baik di rumah, di luar dan memiliki akses ke handphone anak.
Anak bergaul dengan temannya boleh, tetapi tetap harus memiliki batasan.
Termasuk saat malam Minggu, meskipun besoknya libur tetap harus ada pengawasan.
Dia berharap, kejadian kemarin bisa membuat para orangtua lebih memproteksi keluarga dan anak dari pergaulan kurang baik.
"Termasuk untuk menghindari jam-jam atau waktu bermain yang kurang lazim. Menurut saya, main dan keluyuran sampai pagi itu kurang lazim untuk pelajar dan anak di bawah umur," pesannya. (fba)