TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Yeyen Afriyanty Amma kini resmi menyandang gelar doktor dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin (Unhas)
Ujian promosi doktor berlangsung di Ruang Prof Dr Nur Nasry Noor, MPH Lt.2 FKM Unhas, Jl Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, Kamis (10/9/2026).
Sidang dipimpin Wakil Dekan Kemitraan, Riset, Inivasi, dan Alumni Prof Yahya Thamrin.
Sebagai promotor, Prof Andi Zulkifli.
Sedangkan Ko Promotor Sudirman Nasir PhD dan Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu.
Duduk sebagai penguji Prof Amran Razak, Dr Indra Fajarwati Ibnu dan Dr dr Saidah Syamsuddin.
Sebagai penguji eksternal ada Dr dr Anang S Otoluwa.
Yeyen Afriyanty Amma meraih gelar doktor lewat penelitian berjudul "Pengembangan Model Intervensi Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas Untuk Pencegahan Risiko Bunuh Diri pada Perempuan Usia 18 - 24 Tahun di Kota Gorontalo (Melalui Risk Pathway Analysis, Co- Creation dan Co- Design)"
Senyum bahagia dirasakan Yeyen Afriyanty kala namanya kini berhak menyandang gelar Doktor.
Terlebih dirinya lulus dengan predikat sangat memuaskan.
"Saudari Yeyen Afriyanty dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, dengan demikian mulai hari ini, berhak memakai gelar doktor bidang ilmu kesehatan masyarakat," kata Prof Yahya Thamrin.
Capaian ini disambut gembira Yeyen Afriyanty dan keluarga besarnya.
Ruangan penuh dengan ucapan syukur dan tepuk tangan.
"Alhamdulillah lega sudah selesai penelitian tapi ini awalnya gitu, ini pintu akan ada penelitian selanjutnya, akan ada keberlanjutan dari apa yang saya lakukan," kata Dosen Universitas Gorontalo ini.
Latar belakang penelitiannya, pada kasus bunuh diri perempuan usia 18-24 tahun yang merupakan masalah kesehatan global mendesak.
Kota Gorontalo tercatat sebagai salah satu kota dengan angka kasus tertinggi secara nasional.
Penelitian ini pun berpusat di Gorontalo, kota kelahirannya.
"Penelitian saya mulai 2024-2026, jadi sekitar 2 tahun proses penelitian saya," jelas Yeyen Afriyanty.
Hasil penelitiannya menegaskan bahwa risiko bunuh diri pada perempuan bersifat multidimensi dan memerlukan pendekatan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan eksperimental.
Model SAHABAT yang dikembangkan secara partisipatif terbukti efektif menurunkan kecenderungan bunuh diri dan memperkuat efikasi diri.
Sehingga berkontribusi terhadap terwujudnya Mental Health and Suicide-safe Community di Gorontalo.
"Pengembangan model penelitian ini kedepannya bisa sustain, bisa digunakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Apalagi hari ini tanggal hari pencegahan bunuh diri sedunia. Jadi september merupakan hari pencegahan bunuh diri," kata lulusan Unhas sejak jenjang sarjana ini.
"Semoga kita semua bisa lebih aware terhadap semua orang yang punya permasalahan kesehatan jiwa, terhadap mereka yang berjuang untuk kemudian tidak memilih keputusan bunuh diri," lanjutnya.(*)