Guru MAN 3 Nganjuk Meninggal Usai Cekcok dengan Siswa, Sekolah Beri Klarifikasi
Wawan Akuba September 10, 2026 08:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – MAN 3 Nganjuk memberikan penjelasan mengenai insiden yang melibatkan seorang guru berinisial S (56) dan siswanya sebelum sang guru meninggal dunia.

Pihak sekolah menegaskan tidak menemukan adanya tindakan kekerasan dari siswa yang menyebabkan guru asal Kota Kediri tersebut meninggal.

Humas MAN 3 Nganjuk Ihwanus Sofa mengatakan, peristiwa antara S dan seorang siswa memang terjadi di lingkungan sekolah pada Selasa (1/9/2026).

Namun, insiden itu disebut berawal dari persoalan penggunaan fasilitas sekolah, bukan perkelahian antara guru dan siswa.

Sekitar pukul 10.30 WIB, S menggunakan kamar mandi siswa yang berada di dekat ruang kelas sebelum mengajar.

Pada waktu yang sama, terdapat siswa yang hendak menggunakan toilet tersebut.

Siswa itu kemudian menggedor beberapa pintu kamar mandi, termasuk pintu yang sedang digunakan S.

Menurut Sofa, kejadian tersebut membuat S tersulut emosi.

S kemudian keluar dari kamar mandi dan mencari siswa yang sebelumnya menggedor pintu.

Setelah bertemu, S diduga hendak menjewer siswa tersebut sebagai bentuk teguran.

Akan tetapi, siswa tersebut menolak dan menangkis tangan S.

Gerakan itu membuat S kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh.

“Mungkin, (S) mau menjewer atau gimana, tapi si anak itu menolak. Akhirnya (S) terhuyung dan hampir jatuh. Guru dan siswa yang ada di sekitar situ menolongnya,” ungkap Sofa, Rabu (9/9/2026).

Guru dan siswa yang berada di sekitar lokasi kemudian membantu S sekaligus meredakan situasi.

S Sempat Kembali Mengajar

Setelah keadaan kembali tenang, S masih sempat berniat melanjutkan aktivitas mengajarnya.

Namun, kondisinya berubah ketika ia berjalan menuju ruang kelas.

S tiba-tiba berhenti dan kemudian muntah.

“Sesudah itu, almarhum tidak sadarkan diri. Almarhum dibawa ke Puskesmas terdekat kemudian dirujuk ke Rumah Sakit,” paparnya.

S kemudian mendapatkan perawatan di rumah sakit selama sekitar lima hari.

Ia meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026).

Pihak sekolah menyebut S memiliki riwayat hipertensi. Informasi tersebut menjadi salah satu alasan sekolah membantah dugaan bahwa kematian S disebabkan kekerasan siswa.

“Ketika pemeriksaan awal itu tensinya 240. Kalau kekerasan saya rasa kok tidak ya,” urai Sofa.

Polisi Sebut Ada Riwayat Hipertensi dan Stroke

Keterangan pihak sekolah tersebut sejalan dengan informasi yang disampaikan Polres Nganjuk.

Kasi Humas Polres Nganjuk AKP Fajar Kurniadhi mengatakan S diketahui memiliki riwayat hipertensi dan stroke.

Polisi juga telah mendatangi kediaman S di Kota Kediri.

Menurut Fajar, keluarga tidak menghendaki dilakukan visum dan menerima kematian S sebagai musibah.

“Polres Nganjuk sudah ke kediaman almarhum di Kediri. Keluarga menerima kejadian itu sebagai musibah. Dari rekam medis, almarhum sakit hipertensi dan stroke,” tutupnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.