Laporan Wartawan TribunnewsDepok.com, M Rifqi Ibnumasy
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, BEJI - Universitas Indonesia (UI) kembali mencetak sejarah lewat keberhasilan dokter Yogi Prawira, yang meraih gelar Doktor berpredikat Summa Cum Laude dari Fakultas Kedokteran UI.
Penelitian tingkat tinggi ini berangkat dari ancaman sepsis yang hingga kini terus menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di dunia akibat fase kelumpuhan imun pada pasien.
Pada kondisi darurat tersebut, makrofag yang bertindak sebagai sel pembersih kuman justru mengalami perubahan fungsi dari penyerang infeksi menjadi pemulih jaringan.
Baca juga: Lansia Bekasi Tulis Ulang Makna Hidup, Mahasiswa UI Ubah Edukasi Diabetes Jadi Sesi Berbagi Cerita
Fenomena pergeseran fungsi imun ini diduga kuat dipicu oleh mekanisme epigenetik molekuler berupa proses laktilasi histon.
Laktilasi histon sendiri merupakan penambahan gugus kimia laktat pada protein pembungkus DNA yang berwenang mengatur instruksi ekspresi gen di dalam sel.
"Penelitian ini membantu menjelaskan kapan biomarker muncul, bagaimana jalur epigenetik berperan dalam respons imun, serta sejauh mana jalur tersebut dapat dimodulasi melalui intervensi farmakologis," tegas Yogi, Kamis (10/9/2026).
Secara khusus, titik tumpu penelitian eksperimental ini berfokus pada dinamika laktilasi histon H3K18 sebagai pengendali utama kendali imun seluler.
Demi mengurai kerumitan molekuler tersebut, Yogi menguji 190 ekor mencit jantan BALB/c dalam model endotoksemia di laboratorium riset FK-KMK Universitas Gadjah Mada.
Hasil pengujian membuktikan bahwa kadar laktat melonjak begitu cepat sehingga tidak tepat dijadikan tolok ukur tunggal keparahan penyakit.
Sebaliknya, penilaian skor klinis Murine Sepsis Score terbukti jauh lebih presisi dalam mencerminkan keparahan serta dinamika penyakit pada tubuh pasien.
"Kebaruan penelitian ini adalah perbandingan langsung dua agen dengan mekanisme berlawanan terhadap aksis laktat-H3K18la-Arg1 dalam satu model endotoksemia yang sama," tambahnya.
Sementara itu, intervensi agen metabolik MSM dan 2-DG berhasil memperlihatkan tren positif dalam menurunkan angka kematian absolut serta memperpanjang kesintasan subjek.
Keberhasilan akademis Yogi dicapai di bawah kawalan promotor Antonius H Pudjiadi bersama jajaran tim penguji terkemuka.
Capaian terobosan riset biomedik ini mendapat sambutan hangat dari pihak pimpinan fakultas atas kontribusinya bagi dunia kedokteran intensif.
"Disertasi yang dihasilkan memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu biomedik dan kedokteran intensif, khususnya dalam memahami mekanisme molekuler respons imun pada sepsis," puji Dekan FKUI, Anna Rozaliyani.
Keberhasilan ini kian mempertegas kepemimpinan UI sebagai kampus riset unggul yang konsisten melahirkan inovasi medis demi keselamatan masyarakat luas. (m38)