TRIBUNBANTEN.COM, TANGERANG SELATAN - Pihak manajemen yang mengaku sebagai perwakilan dari PT RANS Entertainment Indonesia Tbk memberikan konfirmasi dan klarifikasi, menyusul kericuhan dan kekecewaan yang meluap dari sejumlah pemegang saham saat pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di RANS Office Building, BSD, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (10/9/2026).
Sebelumnya, suasana di kantor pusat milik emiten Raffi Ahmad dan Nagita Slavina tersebut sempat memanas.
Puluhan pemegang saham dari berbagai daerah yang sudah hadir sejak pagi mengaku kecewa karena dilarang mengikuti jalannya rapat secara offline atau tatap muka.
Kehadiran peserta secara fisik dibatasi hanya lima orang, sementara para investor merasa tidak mendapatkan informasi pembatasan tersebut secara memadai dalam undangan RUPSLB yang mereka terima.
Dari puluhan orang yang hadir di kantor RANS, mayoritas para pemegang saham mengaku belum mengetahui bahwa undangan khusus untuk menghadiri RUPSLB secara tatap muka dibatasi hanya lima orang.
Menanggapi gejolak serta emosi para investor yang hadir di lokasi, perwakilan dari pihak RANS yang enggan disebutkan nama dan jabatannya menyampaikan permohonan maaf terbuka sekaligus memberikan penjelasan atas kondisi yang terjadi.
"Saya paham. Saya memahami keresahan Bapak dan Ibu sekalian, tapi jujur saat ini kita tidak bisa melakukan apa-apa," ujar perempuan berambut sedikit pirang yang mengaku sebagai perwakilan RANS di lokasi kejadian.
Baca juga: Pemegang Saham RANS Murka, Datang dari Jauh tapi Dilarang Ikut RUPSLB Tatap Muka di BSD Tangsel
Pihak RANS menegaskan bahwa sebagai emiten, perusahaan telah menjalankan seluruh prosedur serta kewajiban keterbukaan informasi sesuai dengan regulasi dan undang-undang pasar modal yang berlaku.
"Karena nomor satu, kita sebagai emiten sudah melakukan kewajibannya. Ketika terjadi misunderstanding seperti ini, yang kami lakukan hanya menjelaskan," tambahnya.
Manajemen RANS juga menyatakan bahwa ketidaknyamanan hingga reaksi emosional dari para pemegang saham menjadi masukan dan bahan evaluasi penting bagi jajaran manajemen ke depan.
"Kemarahan teman-teman di sini kita minta maaf, kita cuma bisa minta maaf, kita terima feedback-nya. Kita terima kekecewaan para pemegang saham, ini menjadi pelajaran bagi kita. Karena kita sudah menjalankan sesuai undang-undang, sesuai peraturan, kita sudah umumkan, kita sudah panggil, enggak ada yang kita tutup-tutupin dari semuanya," tegasnya.
Lebih lanjut, pihak perseroan menjelaskan bahwa seluruh pengumuman resmi dan informasi terkait pelaksanaan RUPSLB sebetulnya telah dibuka dan dipublikasikan secara transparan.
Bahkan, perempuan yang mengenakan beragam kalung di lehernya itu menegaskan bahwa terkait informasi soal pembatasan kehadiran secara tatap muka dalam RUPSLB juga telah dipublish baik melalui website.
"Di dalam web perseroan kita umumkan, di dalam tulisan kita masukkan. Semua infonya kita buka. Jadi ini memang kesalahan yang kita juga belajar dari kejadian ini," tutup perwakilan manajemen RANS.
Berdasarkan penelusuran TribunBanten.com, sejumlah pemegang saham ternyata mendapatkan email terkait ralat pemanggilan RUPSLB yang isinya menyebutkan bahwa Kehadiran fisik dibatasi untuk profesi penunjang pasar modal yang ditunjuk, manajemen Perseroan, serta perangkat Rapat. Perseroan akan melakukan pembatasan jumlah Pemegang Saham yang dapat menghadiri Rapat secara fisik sebanyak 5 (lima) orang.berdasarkan urutan pendaftaran https://forms.gle/bo9f4ZQ7zibJj4DPA.
Informasi itu diterima para pemegang saham pada Rabu (9/9/2026) malam, atau beberapa jam sebelum agenda RUPSLB digelar. Sementara mereka yang hadir, telah mengonfirmasi kehadiran jauh hari melalui eASY.KSEI.
Bahkan mereka yang hadir secara personal telah mendapatkan email terkait agenda pelaksanaan RUPSLB tersebut dan terdaftar untuk mengikuti RUPSLB secara tatap muka.
Para pemegang saham baru mengetahui adanya pembatasan kehadiran tersebut pada saat sampai di kantor RANS Office Building.
TribunBanten.com mencoba mengonfirmasi Nagita Slavina, namun hingga pukul 14.00 WIB yang bersangkutan tak kunjung keluar dari kantor.
Berdasarkan pantauan TribunBanten.com di lokasi, puluhan warga sebagai pemegang saham dari berbagai daerah protes tak bisa mengikuti RUPSLB di kantor RANS.
Mereka kecewa lantaran sudah jauh-jauh datang ke kantor milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina namun mereka tak bisa mengikuti RUPSLB secara offline.
Pihak manajemen menyampaikan bahwa yang bisa mengikuti secara offline dibatasi hanya lima orang.
Namun informasi tersebut tidak diketahui oleh seluruh masyarakat luas khusus para pemegang saham RANS.
Padahal para pemegang saham yang hadir dikantor RANS mayoritas mendapatkan email undangan untuk mengikuti RUPSLB di kantor RANS Office Building yang berlokasi di Bumi Serpong Damai, BLOK CBD LOT VIII NO. 12, Kelurahan Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Dalam undangan disebutkan RUPSLB digelar pukul 11.00 WIB.
Para pemegang saham yang menerima undangan bahkan telah hadir sejak pukul 08.00 WIB.
Kondisi di kantor RANS sempat memanas, pada saat pihak manajemen meminta para pemegang saham untuk pulang.
Kemudian para pemegang saham meluapkan emosi, dan menganggap penyelenggara tidak kompeten dalam menyelenggarakan RUPSLB yang digelar perdana oleh RANS Entertainment.
Para pemegang saham juga menutut pertanggungjawaban penyelenggara atas kegiatan tersebut.
Pemegang saham asal Bogor, Irfan yang rela menyempatkan waktu di tengah kesibukan kerjanya mengaku kecewa dengan kondisi tersebut.
"Datang dari Bogor udah izin kerja, untuk ikut ke sini jelas kecewa," ungkapnya kepada TribunBanten.com di lokasi.
Ia menuturkan bahwa panitia tidak menyediakan ruangan tatap muka bagi para investor retail.
Situasi dinilai makin memburuk saat manajemen meminta mereka membubarkan diri tanpa solusi konkret.
"Kita diusir secara halus, suruh pulang begitu saja tanpa ada pertanggungjawaban. Pihak RANS cuma minta maaf gak ada solusi lain, tentu kita kecewa," tegas Irfan.
Senada dengan Irfan, Farsa selaku pemegang saham asal Tangerang Selatan turut meluapkan kekecewaan mendalam atas buruknya pelayanan manajemen di lokasi.
Ia mengaku sudah siaga sejak pagi demi mengikuti agenda tersebut.
"Kecewa dari jam 8 standby di sini, sering ikut gak kaya gini. Ini gak profesional PR dalam penanganan case-nya," ujar Farsa.
Ia juga menyayangkan sikap manajemen yang terkesan lepas tangan dan tidak memberikan jalan keluar bagi para investor yang hadir.
"Dan gak ada pertanggungjawaban apa-apa dan gak ada solusi apa-apa, kita cuma disuruh pulang. Harusnya minimal disediakan tempat kalau memang harus online. Kita gak jelas bukti kehadiran tapi gak berguna apa-apa," pungkasnya.