TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mersi 2 Purwokerto yang menyalurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi MAN 2 Banyumas hingga kini belum kembali beroperasi lantaran masih terkena suspend dari Badan Gizi Nasional (BGN), Kamis (10/9/2026).
Sanksi penghentian operasional sementara tersebut dilayangkan sebagai imbas atas musibah keracunan yang menimpa 165 pelajar MAN 2 Banyumas pada 10 Agustus 2026 lalu.
Pihak BGN bergegas menjatuhkan sanksi pembekuan izin operasional terhadap SPPG Mersi 2 tidak lama setelah kejadian memilukan tersebut merebak.
Baca juga: Hasil Lab Keluar, 2 Bakteri di Ayam Woku Diduga Biang Keracunan MBG Ratusan Siswa MAN 2 Banyumas
Berdasarkan pemantauan di lokasi, area SPPG Mersi 2 yang bertempat di Jalan Martadireja 2 Nomor 10, Kelurahan Mersi, tampak lengang tanpa diwarnai aktivitas pengolahan hidangan MBG.
Di samping itu, tidak tampak keberadaan para pekerja maupun pimpinan SPPG di area operasional tersebut.
Sementara itu, berdasarkan analisis uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG, petugas mengidentifikasi keberadaan dua jenis mikroba berbahaya pada hidangan ayam woku, yakni bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli.
Wakil Bupati Banyumas sekaligus Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Banyumas, Dwi Asih Lintarti, mengonfirmasi bahwasanya SPPG Mersi 2 sampai saat ini memang masih berada dalam status suspend.
Prosedur untuk mengaktifkan kembali izin operasional unit dapur tersebut terhitung tidak mudah karena membutuhkan tahapan verifikasi ulang serta persetujuan resmi BGN.
"Iya menunggu keputusan BGN. Apalagi, sekarang semua harus berdasarkan keputusan pusat," katanya kepada tribunbanyumas.com, Kamis (10/9/2026).
Lintarti membeberkan bahwasanya proses inspeksi petugas menemukan beragam kekurangan fatal pada sarana prasarana SPPG Mersi 2 yang wajib dibenahi.
Faktor krusial pertama menyasar pada kualitas air baku, di mana pasokan air yang dimanfaatkan untuk membilas tempat makan atau ompreng terbukti tinggi kandungan zat besi hingga berwarna kekuningan.
Selanjutnya, fasilitas area gudang logistik beserta ruang penyimpanan masakan matang dinilai masih minim sarana pendingin udara atau AC.
Di samping itu, masalah utama yang tak kalah vital adalah belum memadainya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di lokasi tersebut.
"Pendingin atau AC yang cukup itu penting. Karena makanan masih hangat kalau langsung ditutup di ompreng, nanti cepat basi dan membuat timbulnya bakteri," ungkapnya.
Lintarti menegaskan bahwasanya temuan laboratorium secara definitif membuktikan pemicu utama keracunan ratusan peserta didik MAN 2 Banyumas berasal dari kontaminasi bakteri dalam sajian ayam woku.
Sampel masakan tersebut dinyatakan positif tercemar cemaran kuman Bacillus cereus serta Escherichia coli.
"Jadi ditemukan bakterinya di ayam woku. Kalau saya melihat di SPPG Mersi 2, air yang digunakan untuk mencuci ompreng memang kuning banget," ujarnya.
Lintarti menyerukan imbauan tegas kepada seluruh pengelola SPPG di wilayah Banyumas agar memastikan tahapan pembuatan MBG beserta sarana penunjang telah selaras dengan regulasi resmi BGN.
Tingginya rentetan insiden keracunan di berbagai wilayah belakangan ini patut dijadikan bahan evaluasi bersama secara mendalam.
"Apa-apa yang jadi aturan agar dilaksanakan. Termasuk air baku, itu yang paling urgent karena digunakan untuk mencuci sayuran, ompreng dan peralatan lainnya," pesannya.
Pihak Tribunbanyumas.com sempat mendatangi area dapur SPPG Mersi 2 guna menghimpun konfirmasi susulan pascakeluarnya hasil pengujian laboratorium.
Kendati demikian, petugas hanya mendapati seorang pekerja di lokasi yang enggan memberikan penjelasan resmi.