TRIBUNTRENDS.COM - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. Dudung Abdurachman menegaskan Ulta Levenia Nababan sudah tidak lagi menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP).
Dikutip dari Youtube Kompas.com pada 11 September 2026, penegasan tersebut disampaikan Dudung pada Kamis (10/9/2026) untuk merespons sorotan publik terhadap pernyataan Ulta mengenai dugaan keterkaitan fenomena alam di Indonesia dengan pihak luar, termasuk proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).
Dudung memastikan pandangan yang disampaikan Ulta tidak mewakili sikap resmi KSP.
"Ulta sudah bukan di KSP lagi. Dulu dia di staf KSP sebagai tenaga ahli utama, tetapi sekarang sudah tidak,
Dia sekarang salah satu deputi di Bakom," ujar Dudung dalam keterangannya, Kamis (10/9/2026).
Baca juga: Tuduh Erupsi Rekayasa Asing, Ulta Levenia Didepak dari KSP? Dudung Abdurachman: Bukan Anggota Saya
Dudung kembali menegaskan bahwa Ulta sudah tidak menjadi bagian dari KSP sehingga pernyataan yang disampaikannya mengenai fenomena alam tidak dapat dikaitkan dengan lembaga tersebut.
"Jadi, bukan anggota saya lagi itu," kata Dudung.
Menurut Dudung, fenomena alam yang terjadi belakangan ini merupakan bagian dari dinamika alam yang telah dipelajari oleh para ahli.
Ia juga mengatakan perkembangan fenomena tersebut terus dipantau berdasarkan kajian ilmiah.
"Kalau masalah bencana alam, kalau menurut saya itu dinamika alam lah ya, dan para ahli juga sudah mempelajari, kemudian melihat perkembangan saat ini," ujar Dudung.
Dudung menyatakan tidak melihat alasan untuk mengaitkan berbagai fenomena alam tersebut dengan kepentingan pihak luar.
"Menurut saya, tidak dikaitkan dengan apalagi kepentingan dengan pihak luar dan sebagainya," katanya.
Sebelumnya, Ulta Levenia Nababan menjadi sorotan setelah menyampaikan pandangannya mengenai sejumlah fenomena alam yang terjadi di Indonesia.
Melalui unggahan di media sosial, Ulta mempertanyakan sejumlah erupsi gunung berapi yang terjadi dalam waktu berdekatan.
Ia kemudian mengaitkannya dengan HAARP, sebuah fasilitas penelitian di Alaska yang kerap menjadi objek berbagai teori konspirasi mengenai kemampuan mengendalikan cuaca maupun memicu bencana alam.
"Walau tidak ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi," ujar Ulta dalam unggahannya, Senin (7/9/2026).
Ulta juga menyoroti waktu terjadinya erupsi sejumlah gunung api yang disebutnya berdekatan dengan pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.
"Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?" ujarnya.
Meski demikian, Ulta menyatakan pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadinya.
Kontroversi tersebut kemudian mendorong KSP memberikan klarifikasi mengenai status Ulta di lingkungan lembaga kepresidenan.
Dudung menegaskan bahwa Ulta telah berpindah posisi dan kini disebut sebagai salah satu deputi di Badan Komunikasi (Bakom).
Dengan demikian, pernyataan Ulta terkait dugaan keterlibatan pihak asing maupun HAARP tidak merepresentasikan sikap KSP.
Dudung justru menekankan bahwa berbagai bencana dan fenomena alam yang terjadi harus dilihat sebagai bagian dari dinamika alam berdasarkan kajian para ahli.
Sementara itu, upaya untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari Ulta mengenai pernyataannya masih dilakukan.
(TribunTrends.com)