TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dulu, lereng Gunung Merapi menjadi tempat warga Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, menggantungkan hidup dari aktivitas penambangan pasir.
Kini, kondisi itu perlahan mulai berubah. Warga yang dulunya bergantung pada tambang pasir, kini mulai menekuni profesi sebagai petani.
Melalui program Lumbung Mataraman, puluhan warga perlahan mengubah cara pandang, dari penambang menjadi petani yang mengolah lahan untuk menghasilkan rupiah.
Lurah Glagaharjo, Suroto, mengungkapkan mengubah mindset dari penambang menjadi petani merupakan tantangan utama yang dihadapi saat awal mengembangkan Lumbung Mataraman Glagaharjo.
Sebab, sebagian besar warga di wilayahnya merupakan penambang pasir yang sudah turun-temurun.
"Warga masyarakat kita basic-nya itu kan penambang pasir. Lah, terus tiba-tiba kemarin kita beri program terkait ketahanan pangan, kita galakkan pertaniannya. Alhamdulillah kemarin sudah bisa jalan, biarpun itu juga harus kita kawal," cerita Suroto beberapa waktu lalu.
Kelompok Tani Adu Nasib
Mengganti pekerjaan utama warga dari penambang pasir menjadi petani, menurut Suroto, benar-benar diawali dengan niat. Bahkan, nama kelompok tani pun disesuaikan dengan niat awal tersebut, yakni Kelompok Tani Adu Nasib.
Suroto menjelaskan, penamaan Kelompok Tani Adu Nasib dipilih karena saat kelompok itu dibentuk, kemampuan warga Glagaharjo di sektor pertanian masih sangat minim.
Pasalnya, identitas utama warga selama ini adalah sebagai buruh atau pengusaha tambang pasir.
"Namanya dipaskan dengan niat kita. Basic kita itu kan pertambangan. Mau langsung dibalik ke pertanian, ya mudah-mudahan ada hasilnya. Tapi ya itu, namanya juga adu nasib. Dan alhamdulillah, terbukti hasilnya ada," tuturnya sambil tersenyum.
Berdasarkan evaluasi program yang berjalan sejak 2025, sektor pertanian cabai di lahan inti berhasil memberikan hasil yang memuaskan bagi sekitar 31 hingga 34 petani yang terlibat.
Secara rata-rata, setiap petani mampu mengantongi uang tunai sekitar Rp5-6 juta dari sistem bagi hasil panen. Masa panen cabai ini berkisar antara 3-5 bulan sejak masa tanam.
Dalam setahun, para petani bisa menanam cabai dua kali. Saat memasuki musim panen, cabai bisa dipetik 2 hari sekali, sampai puluhan kali masa petik.
Selain itu, komitmen keberlanjutan juga dijaga pihak kalurahan. Sebanyak 20 persen dari pendapatan bersih disisihkan sebagai dana cadangan.
Hal ini dilakukan agar ketika program tidak lagi disokong anggaran pemerintah, usaha yang dijalankan di Lumbung Mataraman tetap dapat berputar secara mandiri.
Baca juga: Pemda DIY Perketat Akuntabilitas dan Desain Ulang Lumbung Mataraman
Tambah Ayam Petelur dan Perikanan Modern
Setelah sukses mengembangkan komoditas cabai, Pemerintah Kalurahan Glagaharjo berencana menambah unit usaha berupa budidaya ayam petelur.
Pengembangan ini nantinya menggunakan anggaran yang digelontorkan Pemda DIY melalui Dana Keistimewaan (Danais) sebesar Rp500 juta pada 2026 ini.
Keberadaan ayam petelur tersebut diharapkan dapat menambah variasi hasil produk peternakan di kawasan lumbung.
"Kalau yang Rp500 juta ini kita konsentrasi ke ternak ayam. Ayam petelur. Jadi di (Lumbung Mataraman) situ nanti sudah ada telur puyuh, puyuhnya, terus nanti kita tambah ayam itu, terus ada pengembangan terkait dengan pertanian juga di situ," ujar Suroto.
Di sisi lain, Pemerintah Kalurahan Glagaharjo juga mendapatkan bantuan program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupa kolam ikan yang dilengkapi teknologi kincir.
Program tersebut akan ditempatkan di Lumbung Mataraman sebagai upaya mendongkrak perekonomian dan kesejahteraan warga.
Suroto bercerita, baginya tolok ukur kesuksesan Lumbung Mataraman di wilayahnya bukanlah seberapa besar percontohan yang bisa dipamerkan ke desa lain, melainkan keberhasilan nyata dari sudut pandang masa depan warganya.
Ke depan, setelah sukses di lahan inti seluas dua hektar, pihak kalurahan memperluas kerja sama melalui sistem bagi hasil di lahan plasma tambahan seluas kurang lebih dua hektar. Keuntungan dari lahan tersebut nantinya langsung masuk ke Pendapatan Asli Kalurahan (PAD).
Kini, harapan besar Pemerintah Kalurahan Glagaharjo mulai menampakkan titik terang. Puluhan warga yang dulunya akrab dengan aktivitas penambangan di lereng Gunung Merapi kini mulai terlibat dan mau diajak merawat tanaman hijau di ladang.
"Jadi sekarang inti (lahan seluas) 2 hektar, kemudian ada 2 hektar lahan tambahan plasmanya itu. Artinya akan ada banyak petani yang terlibat di dalamnya," ujar dia
Salah satu petani Sriyono mengaku hadirnya Lumbung Mataraman menjadi secercah harapan baru bagi masyarakat Mataraman. (*)