Debut Impian Como: tim asuhan Cesc Fabregas hancurkan RB Leipzig untuk menandai kedatangan mereka di panggung Liga Champions
Hendra Wijaya September 11, 2026 01:44 PM

Debut Impian Como: tim asuhan Cesc Fabregas hancurkan RB Leipzig untuk menandai kedatangan mereka di panggung Liga Champions

Kebangkitan Como dari kerasnya divisi bawah hingga ke puncak sepak bola Eropa mencapai titik paling membara pada Kamis malam ketika mereka membongkar RB Leipzig. Dalam penampilan pertama sepanjang sejarah klub di Liga Champions, tim besutan Cesc Fabregas tampil setenang para veteran berpengalaman dan mengamankan kemenangan bersejarah 4-1.

Lompatan luar biasa dari Serie B menuju sorotan Eropa

Tepat empat tahun lalu, pada 10 September 2022, Como masih terpuruk di papan bawah Serie B, menelan kekalahan kandang 2-0 yang memukul mental dari Sudtirol. Melompat ke 10 September 2026, perubahan yang terjadi nyaris terasa ajaib. Lariani bukan sekadar memainkan laga pertama mereka di Liga Champions; mereka mendominasinya, menyingkirkan kekuatan besar seperti RB Leipzig dengan penampilan yang akan dikenang selama beberapa dekade.

Fabregas menghabiskan sepekan dengan meredam besarnya momen tersebut, mengatakan kepada para wartawan menjelang pertandingan: "Melawan Leipzig, ini akan menjadi pertandingan seperti yang lain." Langkah psikologis yang brilian itu jelas menular ke para pemain, yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gugup panggung saat menghadapi tim Jerman yang sudah menjadi langganan kompetisi ini. Ketika Leipzig tampak terguncang oleh atmosfer dan intensitas tim tuan rumah, Como justru bermain dengan kejernihan dan tujuan yang menegaskan bahwa mereka layak berada di antara elite Eropa.

Baturina dan Diao bersinar dalam penampilan dominan

Meski sebagian besar pembicaraan sebelum laga berpusat pada kecemerlangan kreatif Nico Paz, justru bintang-bintang lain yang mencuri sorotan pada malam bersejarah ini. Paz, walaupun kondisi fisiknya belum 100%, tetap sempat memperlihatkan kelasnya dengan menyumbang dua assist penting, tetapi malam itu benar-benar menjadi milik Martin Baturina. Gelandang serang Kroasia itu mencetak gol pertama Como sepanjang sejarah di Liga Champions lewat momen sihir murni, menyambar umpan tarik cerdas dari Tasos Douvikas dan menuntaskannya dengan penyelesaian yang sangat klinis.

Mendampingi Baturina adalah Assane Diao, yang perjalanan kariernya di Como bak rollercoaster. Setelah musim debut yang gemilang lalu melewati periode sulit yang diwarnai cedera tahun lalu, Diao tampak kembali ke versi terbaiknya yang mematikan pada Kamis malam. Ia nyaris mustahil dijaga di sisi sayap, terus-menerus menyerang lini pertahanan Leipzig dan memaksa mereka mundur, sebelum menyempurnakan penampilannya dengan melepaskan tembakan keras untuk gol ketiga Como pada menit ke-54 setelah menerima sodoran dari Paz. Dipadukan dengan etos kerja tanpa lelah dan ketajaman penyelesaian Tasos Douvikas—yang menunjukkan naluri predatornya sekaligus kemampuannya menghubungkan permainan sebagai penyerang nomor sembilan modern—serangan Como terlihat sebagai salah satu yang paling mematikan di kompetisi ini. Pemain pengganti Maximo Perrone lalu mempercantik skor, menuntaskan umpan terobosan Nico Paz pada masa injury time untuk mengubah kedudukan menjadi 4-1.

Kejeniusan taktik dan cetak biru Fabregas

Keluwesan permainan Como menjadi bukti kualitas staf pelatih, dengan setiap pergerakan seolah dikoreografikan oleh Fabregas dari tepi lapangan. Ini bukan tim yang ingin bertahan dalam dan mengamankan hasil imbang; ini adalah tim yang ingin mencekik lawannya. Susunan taktik yang diterapkan memastikan Leipzig tak pernah benar-benar nyaman menguasai bola, karena blok menengah Como langsung berubah menjadi tekanan ganas begitu pemicunya muncul.

Justru mentalitas "klub besar" inilah yang paling mengesankan para pengamat. Bahkan ketika Leipzig mencoba bangkit pada babak kedua, Como tidak panik. Sebaliknya, mereka semakin teguh pada prinsip-prinsipnya, memakai keunggulan teknik untuk keluar dari tekanan. Cara tim ini mengelola bola, memanfaatkan kombinasi-kombinasi pendek dan tajam untuk menggeser lawan secara horizontal sebelum melepaskan umpan vertikal mematikan, telah menjadi ciri khas era Fabregas.

Mercusuar baru bagi sepak bola Italia di Eropa

Bagi para penggemar sepak bola Italia, penampilan Como terasa seperti angin segar dan memunculkan perbandingan yang tak terelakkan dengan masa puncak Atalanta asuhan Gian Piero Gasperini. Sudah lama tidak ada wakil Serie A yang menyerang laga Eropa dengan agresivitas tanpa rem dan niat ofensif sebesar ini. Tim Como ini mewakili era baru bagi Calcio—era yang ditandai keberanian, kemahiran teknik, dan penolakan untuk gentar terhadap tatanan lama. Mereka benar-benar menjadi iklan hidup bagi pertumbuhan sepak bola Italia, sekaligus memberi cetak biru tentang bagaimana klub-klub yang lebih kecil dapat bersaing di level tertinggi melalui rekrutmen cerdas dan identitas bermain yang jelas.

Meski fase liga baru saja dimulai, seluruh Eropa pasti mulai memperhatikan hasil-hasil yang datang dari Stadion Sinigaglia. Klub ini telah bertransformasi dari proyek yang sekadar memancing rasa penasaran menjadi kenyataan menakutkan bagi lawan mana pun. Saat mereka bersiap menghadapi duel domestik berikutnya melawan Parma dan Roma, Fabregas tentu ingin memastikan skuadnya tetap membumi, tetapi para suporter layak dimaafkan bila mulai berani bermimpi besar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.