Setiap hampir selalu ada pesta di rumah-rumah pembesar termasuk Gubernur Jenderal VOC di Hindia Belanda. Yang paling sibuk tentu budak-budak mereka.
Penulis: Rahmat Ali di Jakarta | tayang di Majalah Intisari edisi September 2010 dengan judul "Suka Duka Budak Gubernur Jenderal"
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Perdagangan budak di Batavia di era VOC begitu merajalela. Sejarah mencatat, hingga zaman Gubernur Jenderal Reynier de Klerk (1777 - 1780) yang gendut dan suka pesta, aktivitas itu masih berlangsung. Termasuk di rumah sang Gubernur Jenderal sendiri.
Mereka, para budak, yang melayani segala kepentingan majikan besar lelaki dan perempuan di rumah mewahnya (biasa disebut Vila Molenvliet) adalah hasil pembelian dari pasar budak. Mereka tidak hanya berasal dari pulau-pulau Nusantara, tapi juga dari negeri-negeri jauh seperti India, Sri Lanka, bahkan Benua Afrika.
Mereka dibeli sesuai kepandaian masing-masing.
Makelar budak sebelumnya menggembar-gemborkan komoditinya. Dipromosikan kalau budak-budaknya itu kompeten dan ahli di bidang pekerjaannya, dan pasti memuaskan.
Bagi calon pembeli yang berpikir panjang, tentu tidak mau percaya begitu saja. Harus diteliti dan dites secermat-cermatnya karena sesal di kemudian hari tidak akan berguna. Jangan sampai terkecoh mulut manis dan puji-pujian makelar.
Untunglah yang didapatkan dari utusan pihak Gubernur Jenderal-biasanya budak-budak pilihan yang amat berguna saat dipekerjakan di rumah pejabat tertinggi di pemerintahan VOC itu.
Majikan mata keranjang
Di rumah Gubernur Jenderal, orang yang sangat berperan mengatur dan membagi tugas para budak tentu saja sang nyonya rumah, Vrouwe Sophia Francina.
Beberapa budak lelaki dan perempuan nantinya bukan hanya melayani tuan dan nyonya besar di vila Molenvliet itu, tapi juga para tamu yang tidak henti-hentinya hadir di perjamuan resmi dan tidak resmi. Jika ada budak yang berbuat salah, nyonya besar akan menjatuhkan hukuman, apalagi kalau kesalahan itu terkait pelayanan terhadap tamu.
Para budak yang bekerja di pembesar VOC lainnya, di tuan-tuan tanah, atau saudagar besar, umumnya tidak diperlakukan dengan baik. Budak-budak perempuan ditempatkan di kamar berukuran kecil yang tidak berventilasi hingga sulit bernapas dengan leluasa.
Mereka pun jadi sering jatuh sakit, bahkan meninggal. Sementara budak-budak lelaki ditempatkan di bangunan sayap jauh di belakang rumah induk.
Untuk mengelakkan hal-hal yang tidak diinginkan, ditugaskan seorang marinjo atau mejores de casa alias mandor penjaga ketertiban. Toh seketat apa pun pengawasan, karena beberapa budak perempuan ada yang ditempatkan di bilik tidak jauh dari kamar majikan lelaki, affair sering terjadi.
Para majikan lelaki umumnya sering dihinggapi penyakit genit cherchez la femme atau mata keranjang.
Di lain pihak, budak-budak perempuan sendiri – terutama yang muda-muda – tampak menggiurkan dan moncer, kerap bergaya pasa bira bira corpore (cara berjalannya dengan megal-megol seperti itik). Atau sengaja melakukan skuta tudu banda (melirik-lirik nakal genit) dan juga brienka brienka oleo (main mata yang mengundang).
Antara budak perempuan satu dengan lainnya kemudian sering terjadi iri-mengiri karena majikan lelaki lebih menyukai salah satunya. Lalu berkelahilah mereka.
Bukan saja adu mulut dan tampar-menampar. Pisau pun ikut berbicara sehingga mengakibatkan korban.
Syukurlah kehidupan di rumah Vrouwe Sophia Francina tidak sejelek seperti yang sering tersiar di masa itu. Dia ramah dan manusiawi. Sebelum meninggal (lahir 1722) dia meninggalkan banyak harta, di antaranya diwariskan ke beberapa budak.
Mereka yang menyaji makanan dan minuman untuk para tamu, misalnya tjao (jenis minuman Cina), cendol, alunga-tambienjo (manisan buah asam), alunga loobie-loobie (manisan lobi), alunga carmella (manisan cermai), alunga nanas (manisan nanas), dan alunga noguera (manisan pala).
Setelah meladeni, para budak berkumpul di halaman belakang.
Biarpun saputangan milik seorang nyonya pejabat jatuh ke lantai, si nyonya tidak bakal mau mengambil. Salah seorang budak perempuan di halaman belakang itulah yang dipanggil untuk segera memungut sapu tangan itu.
Atau ketika tusuk konde bertatah berlian milik seorang nyonya terlepas dari cantolannya. Cepat-cepat budak perempuan dipanggil untuk mengambilkan kemudian memasangkan permata yang copot ke tusuk-konde, lalu menusukkannya ke rambut.
Masih ada lagi, sang nyonya besar, tamu resmi, minta ke budak perempuan untuk meneteskan ajetie de roja (minyak mawar) atau ajetie de Paauw Sandal (minyak cendana) lainnya yang semerbak ke lenau renda (saputangan renda). Telinga gatal pun memerlukan budak perempuan untuk mengorek lubang kuping.
Sama juga dengan punggung yang gatal. Seorang budak perempuan dipanggil lagi kesekian kalinya untuk menggaruk punggung.
Dun, duh, duh. Bukan main gaya yang melebihi ningrat kerajaan si nyonya-nyonya VOC itu!
Pamer rompi terbaru
Hampir setiap malam ada saja pesta untuk mengisi kekosongan setelah sore hari. Ketika tamu-tamu berdatangan saat Matahari terbenam, budak-budak itu langsung disibukkan.
Sang Gubernur Jenderal ke-31 itu seperti tidak bosan-bosannya menerima tamu, walaupun dia agak mahal bicara.
Tuan-tuan besar mengenakan topi kebesaran beserta pedang di samping pinggang mereka. Budak-budaklah yang memapah kemudian menyimpan topi dan pedang di tempat penyimpanan khusus.
Para nyonya terpengaruh priyayi-priyayi wanita di kerajaan-kerajaan sehingga meniru makan sirih. Untuk kepentingan kebersihan, budak-budak selalu menyediakan tempolong untuk tempat membuang ludah merah akibat menyirih.
Sementara tuan-tuannya merokok cerutu atau membakar tembakau untuk disedot pakai pipa. Jika pipanya kosong habis terbakar maka kewajiban budak lelaki mengisikan tembakau baru yang mahal ke dalam pipanya.
Para pembesar yang diundang pesta malam di rumah Gubernur Jenderal de Klerk kebanyakan mengenakan wig. Setiba di dalam rumah mewah berlantai dua itu mereka mencopot wig masing-masing dan segera menutupi kepala-kepala yang kebanyakan plontos.
Menutupi botak masing-masing pakai topi kecil warna hitam atau putih. Mereka pun membuka jas masing-masing. Para budak lelaki bertugas menyimpankan jas-jas tersebut berikut tongkat-tongkat berhiaskan berlian.
Saat suda tidak berjas, kesempatan bagi para tamu undangan untuk bersok-sokan memperlihatkan rompi-rompi mereka yang baru. Jelas terbuat dari bahan mahal yang dihias sulaman benang emas atau perak.
Tidak ketinggalan pula jam-jam saku mereka yang berantai dan semuanya terbuat dari emas berhias intan di pinggir-pinggirnya!
Jika larut menjelang dan para tamu berangsur pulang dengan kereta ke rumah masing-masing, para budak mulai meniupi lilin-lilin. Jadi agak gelaplah, tidak sebenderang waktu pesta.
Di kamar nyonya Sophia Francina - istri Gubernur Jenderal - tiga budak perempuan berjaga di luar pintu. Mereka tidur di lantai luar pintu itu dan sewaktu-waktu bisa dibangunkan jika nyonya Sophia memerlukan sesuatu di tengah malam atau dini hari.
Sedangkan De Klerk yang kelelahan sehabis menerima tamu-tamu bawahannya, begitu selesai menerima ucapan "Bon discansoe Sinjoor" (Selamat tidur, Tuan) dari tiga budak lelaki penjaga ruangan, segera masuk ke kamar tidur.
Dia kemudian membuka pakaian, berganti mengenakan "celana nyamuk" dan baju tidur lengan panjang, mencopot wig buatan Eropa (atau yang dibuat oleh budaknya yang ahli). Wig itu diletakkan di tempat tertentu berupa cagak agar tidak rusak. Maklum, paginya akan dipakai lagi untuk kerja.
Kepalanya yang botak dipasangi topi kecil untuk tidur. Lehernya dililit syal terbuat dari wol, agar tidak masuk angin. De Klerk pun menjatuhkan diri ke tempat tidur gaya Barok warna merah dililit cat kuning keemasan yang sedang tren pada zaman itu (contohnya yang dipamerkan di Museum Fatahillah).
Bantal perut dan guling sangat penting karena benda-benda empuk itu amat bermanfaat untuk melawan angin malam dan udara dingin sehingga tidur bisa lebih nyenyak.
Tinggalkan banyak warisan
Pada zaman itu tukang masak perempuan belum dikenal. Umumnya yang memasak adalah para koki. Masakan untuk keluarga Gubernur Jenderal dibuat di dapur utama yang dibuat khusus, beda dengan dapur untuk para budak.
Jumlah para budak seluruhnya lebih dari 100 orang, belum termasuk anak-anak mereka. Bisa dibayangkan berapa rijksdaalders (ringgit Belanda) untuk memelihara mereka per bulannya.
Tidak ketinggalan para musikus seperti pemain clarinet, tukang genderang, peniup seruling, penggesek biola, peniup sangkakala untuk upacara, peniup trompet, pemain bas, pemain castagnette atau perkusi Spanyol. Orkes lengkap tersebut bermain, mengiringi meriahnya dansa-dansi.
Selain para musikus, de Klerk juga memelihara budak-budak yang berkeahlian khusus, di antaranya "tukang renda". Budak-budak perempuan lainnya adalah penyulam dan tukang konde.
Ada juga yang dijadikan tukang setrika, perajut kaos kaki, dan tukang cuci.
Jika Sophia Francina berjalan-jalan keluar dari kediamannya di Molenvliet Barat (sekarang Gedung Arsip Nasional di Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat) dia selalu diiringi oleh 12 budak perempuan yang berpakaian indah.
Budak lelaki yang bertugas sebagai tukang kebun juga tak luput dari perhatian Nyonya Besar. Kawan si tukang kebun adalah budak kandang. Ada juga budak-budak perempuan ahli pembuat teh, bahkan ahli pembuat sambal.
Sophia masih terus mempertahankan tradisi bersama para budaknya sampai lima tahun setelah suaminya meninggal pada 1780. Dia sendiri, setelah membuat hadiah-hadiah warisan untuk para budak, meninggal pada 1785.
Sebelum itu, pada 1778 Gubernur Jenderal Reynier de Klerk mewariskan sebuah yayasan serta gedungnya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (kini Museum Nasional atau Museum Gajah di Jln. Merdeka Barat, Jakarta Pusat).