Arti Lambang Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Praja Cihna
Joko Widiyarso September 11, 2026 03:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Lambang Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dikenal dengan nama Praja Cihna. 

Bentuk Praja Cihna mirip dengan perisai merah dengan bingkai sayap emas. Lambang ini sudah eksis sejak tahun 1755 saat Sultan Hamengkubuwono 1 mendirikan Keraton Yogyakarta. 

Lambang kenegaraan ini tidak hanya sebagai pajangan tetapi memiliki fungsi yang beragam, mulai dari ragam hias pada bangunan, kop surat resmi, hingga wujud medali penghargaan.

Setiap elemen yang menyusun Praja Cihna memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Mengutip penjabaran makna dari Keraton Yogyakarta, lambang ini terdiri dari delapan unsur utama:

ELEMEN LAMBANG - Detail elemen lambang Kesultanan Yogyakarta Praja CIhna
ELEMEN LAMBANG - Detail elemen lambang Kesultanan Yogyakarta Praja CIhna (https://sonobudoyo.jogjaprov.go.id/)

1. Songkok atau Mahkota
Penutup kepala prajurit ini melambangkan watak ksatria yang menggambarkan sifat seorang raja.

2. Sumping atau Hiasan Telinga
Elemen ini menyematkan beberapa 9, yakni giwang menyerupai bunga matahari sebagai lambang kehidupan, daun keluwih yang bermakna kelebihan, serta makara yang melambangkan perlindungan demi keselamatan keraton.

3. Praba atau Sorot Cahaya
Cahaya di sini merepresentasikan pribadi yang mampu menegakkan kehormatan Jawa Mataram.

4. Lar atau Sayap
Bentuk sayap burung ini menggambarkan cita-cita yang menjulang tinggi hingga setinggi langit.

5. Tameng
Warna merah pada tameng melambangkan keberanian dalam membela kebenaran ttanpa meninggalkan sifat kewaspadaan.

6. Seratan atau Tulisan Ha Ba
Aksara Jawa 'Ha' dan 'Ba' adalah singkatan dari gelar Sultan yang sedang bertakhta. Gelar ini memuat harapan luhur agar Sultan mampu melindungi, membela, dan mewujudkan kemakmuran bagi rakyatnya. Ditulis berwarna kuning keemasan sebab melambangkan keagungan.

7. Bunga Padma atau Teratai
Bunga teratai yang terapung di atas air melambangkan kehidupan duniawi yang menjadi fondasi bagi kehidupan di akhirat kelak.

8. Tumbuhan Sulur
Elemen ini melambangkan kehidupan yang terus berlanjut layaknya tanaman sulur yang terus tumbuh dan merambat tanpa henti. 

Selain Praja Cihna yang mewakili institusi kesultanan, Keraton Yogyakarta juga memiliki lambang khusus bagi pribadi Sultan. Lambang ini disebut dengan Cihnaning Pribadi.

Wujud visual Cihnaning Pribadi sama persis dengan Praja Cihna tetapi dengan satu perbedaan, yaitu terdapat tambahan Huruf Murda di bagian bawah helai sayap. Huruf Murda ini berfungsi sebagai penanda angka dari Sultan yang sedang bertakhta.

Dilansir dari rekam jejak penggunaannya, Cihnaning Pribadi kerap ditemukan pada perabot-perabot rumah tangga yang merupakan peninggalan dari para Sultan terdahulu. 

Lambang pribadi milik Sri Sultan Hamengku Bawono Ka 10 pernah dicetak secara resmi pada kertas undangan upacara pernikahan putri-putri keraton.

(MG Fuza Nihayatul Chusna)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.