Karhutla di Kotim Kalteng, Ular Sanca dan Puluhan Telurnya Ditemukan Mati Terbakar
Sri Mariati September 11, 2026 02:05 PM

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kembali menyisakan cerita pilu. 

Kali ini bukan hanya manusia yang merasakan dampaknya. Satwa yang hidup di sekitar kawasan terbakar juga ikut menjadi korban. 

Baru-baru ini, video yang memperlihatkan seekor ular sanca batik (Malayopython Reticulatus) bersama puluhan telurnya ditemukan dalam kondisi mati viral di media sosial. 

Induk ular beserta telur-telurnya diduga menjadi korban kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kotim. 

Peristiwa tersebut kembali mengingatkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada asap, lahan yang terbakar atau terganggunya aktivitas masyarakat. Satwa liar yang tidak sempat menyelamatkan diri juga menghadapi ancaman yang sama. 

Harie, salah seorang aktivis pecinta satwa di Sampit, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian bagi para pegiat perlindungan satwa. 

Menurutnya, kecintaan terhadap hewan membuat para aktivis berusaha melakukan apa yang masih bisa dilakukan ketika menemukan satwa yang menjadi korban. 

"Apapun yang kami lakukan, mau itu satu apapun, ya kami berusaha melindungi mereka karena mereka punya hak," ujar Harie, Jumat (11/9/2026) 

Ia mengatakan, harapan para pecinta satwa sebenarnya sederhana. Habitat dan alam tetap terjaga sehingga manusia dan satwa bisa hidup berdampingan tanpa saling mengganggu. 

"Yang kami inginkan itu habitatnya terjaga, alamnya terjaga, hidup berdampingan dengan manusia tanpa mengusik satu sama lain. Intinya kami ingin kesejahteraan hewan itu mencukupi," katanya. 

Harie mengungkapkan, di lapangan para aktivis tidak hanya menemukan satwa yang masih bisa diselamatkan. Tidak sedikit pula mereka menemukan bangkai hewan yang telah mati akibat kebakaran. 

Bangkai-bangkai tersebut kemudian dikuburkan. Bagi sebagian orang mungkin terlihat sebagai hal kecil, tetapi bagi para aktivis, proses itu membutuhkan tenaga, waktu dan kepedulian. 

"Kalau kami menemukan sisa-sisa bangkai yang mati, kami kuburkan. Itu penuh effort, energi dan waktu juga," tuturnya. 

Ia menilai kepedulian terhadap satwa memang tidak selalu mudah ditemukan, terlebih ketika perhatian masyarakat sedang tertuju pada dampak karhutla terhadap manusia. 

Padahal, satwa liar juga tidak memiliki banyak pilihan ketika habitatnya terbakar. Sebagian mungkin dapat berpindah, tetapi sebagian lainnya terjebak di lokasi kebakaran atau tidak mampu bergerak menjauh. 

Baca juga: Viral Video Penyelamatan Anak Monyet Terjebak Karhutla di Kotim Kalteng, Kini Dilepasliarkan

Baca juga: Penemuan Kardus Misterius Depan Rumah Warga Mentawa Baru Hilir Kotim Ternyata Ular Sanca Batik

Harie menyebut berbagai jenis satwa telah ditemukan menjadi korban karhutla, mulai dari ular, trenggiling, burung hingga berbagai jenis hewan melata dan satwa lainnya. 

"Miris sih pada zaman sekarang, apalagi sekarang pembakaran di mana-mana," katanya. 

Karena itu, di tengah karhutla yang masih terjadi, Harie memilih untuk berfokus pada apa yang masih dapat dilakukan di lapangan. 

"Sudah, sekarang apa yang bisa kita selamatkan, kita selamatkan. Gitu aja lah," ucapnya. 

Bagi para pecinta satwa, menyelamatkan satu ekor hewan sekalipun tetap berarti. Sebab, di balik setiap satwa yang ditemukan di tengah kawasan terbakar, ada ekosistem yang ikut terdampak dan perlahan kehilangan penghuninya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.