Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) terhadap lima jurnalis dan tiga kru speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK) memasuki hari keempat, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Basarnas Lampung Kerahkan KN SAR 224 Basudewa Cari 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda
Kapal cepat Arupadhatu 1 dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten, Senin 7 September 2026.
Kapal tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Kapal itu disebut membawa delapan orang, terdiri dari lima jurnalis, satu nakhoda dan satu anak buah kapal (ABK).
Lima jurnalis yang berada di kapal yakni M Bagus Khoirunnas fotografer Antara Banten, Ari Basuki jurnalis Merdeka, Yudhis jurnalis iNews, Daus jurnalis Anadolu, serta Donal jurnalis freelance.
Berdasarkan informasi Basarnas Banten, laporan kapal hilang kontak diterima pada Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 13.55 WIB dari Bayu, Antara Banten.
Sebelum kehilangan kontak, komunikasi terakhir dengan rombongan tercatat pada Senin sekitar pukul 14.42 WIB.
Namun, komunikasi itu kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB. Titik koordinat komunikasi terakhir berada di 6°14'40.52"S 105°40'49.48"E atau sekitar 9,98 mil laut dari daratan
Pada operasi pencarian hari keempat ini, tim SAR gabungan memperluas area pencarian hingga mencapai 3.216 NM⊃2; atau 11,03 KM⊃2;.
Kepala Basarnas Banten Al Amrad melalui Kepala Sub Seksi Operasi dan Siaga (Kasi Ops) Basarnas Banten Rizky Dwianto mengatakan, perluasan area pencarian dilakukan untuk memaksimalkan upaya menemukan para korban yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Dalam operasi pencarian hari ini, sejumlah armada laut dikerahkan untuk menyisir sektor-sektor yang telah ditentukan.
Armada yang dikerahkan di antaranya KRI Kerambit 627, KN SAR Tetuka, KP Hayabusa, KN SAR 224 Basudewa, KN Leuser 924, KAL Anyer, KP Sanjaya, RIB 02 Banten, RBB P Peucang, RIB 02 Lampung, KAL Pahowang, TB Gunung Santri, dan KRI Lepu.
Pengerahan belasan armada tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pencarian di tengah kondisi perairan lokasi hilangnya speedboat.
Sebelumnya, hingga hari ketiga operasi, tim SAR gabungan telah mengerahkan sekitar 300 personel dari berbagai unsur.
Personel tersebut berasal dari sejumlah unsur, di antaranya TNI AL termasuk Lanal setempat, Ditpolairud Polda Banten, Kodam III/Siliwangi, BPBD Provinsi Banten, hingga BPBD Kabupaten Pandeglang.
Jumlah personel maupun armada yang terlibat dalam operasi masih dapat bertambah menyesuaikan perkembangan pencarian di lapangan.
Di tengah pencarian tersebut, tim SAR sebelumnya menemukan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan korban. Barang yang ditemukan yakni satu buah life jacket dan satu botol.
Kedua barang itu ditemukan oleh kapal KRI saat melakukan penyisiran di sektor pencarian perairan.
Temuan itu kemudian diserahterimakan kepada Basarnas Banten untuk ditindaklanjuti.
Pada Jumat pagi, barang-barang tersebut selanjutnya resmi diserahkan kepada pihak kepolisian melalui Polairud Polres Pandeglang.
Barang tersebut akan menjalani proses identifikasi lebih lanjut oleh Polda Banten untuk memastikan apakah memiliki keterkaitan dengan speedboat yang hilang kontak beserta delapan orang di dalamnya.
Tim SAR gabungan hingga kini masih terus melakukan penyisiran dengan memperluas sektor pencarian.
Operasi akan terus dilakukan dengan mengerahkan kekuatan personel dan armada yang tersedia untuk menemukan para korban.
Temuan tersebut didapat KAL Anyer saat melakukan penyisiran pada Kamis (10/9/2026), yang merupakan hari ketiga operasi pencarian.
Namun, hingga Kamis sore, Tim SAR belum dapat memastikan apakah pelampung tersebut berkaitan dengan delapan orang yang hilang menggunakan speedboat Arupadhatu 1.
Danlanal Banten Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani mengatakan, pelampung yang ditemukan masih harus melalui proses identifikasi.
"Untuk temuan tim KAL Anyer saat ini masih akan dilaksanakan identifikasi terlebih dahulu. Mohon dari rekan-rekan menunggu, mengingat posisi penemuan tersebut cukup jauh dari lokasi kejadian," kata Wawan kepada wartawan di Posko SAR Carita, Pandeglang seperti dikutip di Kompas.com, Kamis (10/9/2026).
Selain life jacket, tim juga menemukan satu botol tabung berwarna putih di lokasi yang sama.
Wawan mengatakan, kedua benda tersebut belum bisa langsung dinyatakan sebagai barang milik korban.
Sebab, pelampung maupun botol serupa masih umum digunakan oleh nelayan yang beraktivitas di perairan Selat Sunda.
"Di lokasi yang ditemukan itu baru satu buah life jacket tanpa identitas dan satu buah botol tabung putih yang sepertinya masih umum digunakan oleh nelayan. Jadi kita tidak bisa langsung mendeklarasikan bahwa itu barang-barang yang berkaitan dengan korban," ujarnya.
Wawan menjelaskan, lokasi penemuan life jacket berada di sisi barat Anyer, sekitar 7,05 nautical mile (NM) dari wilayah perairan Anyer.
Jika dibandingkan dengan titik kontak terakhir rombongan, lokasi tersebut berjarak sekitar 10 hingga 12 NM.
"Kalau lokasi jauhnya penemuan dari posisi kontak terakhir kurang lebih 10-12 nautical mile, tapi kalau dari posisi Gunung Anak Krakatau itu masih perlu diukur ulang," kata Wawan.
Karena itu, tim SAR belum langsung menyimpulkan bahwa pelampung tersebut berasal dari speedboat Arupadhatu 1.
Tim akan terlebih dahulu mencocokkan temuan tersebut dengan perlengkapan yang digunakan kapal yang membawa delapan orang tersebut.
Wawan mengatakan pihaknya juga akan menghubungi pemilik kapal untuk memastikan apakah life jacket tersebut merupakan bagian dari perlengkapan Arupadhatu 1.
"Makanya itu kita membandingkan dengan membawa dulu, akan mengecek dulu dikumpulkan di posko. Tidak langsung kita merilis, karena kita akan menanyakan pemilik kapal apakah betul barang tersebut milik kapal yang disewa pada hari Senin," ujarnya.
Hingga Kamis (10/9/2026) sore, belum ada temuan lain yang dapat dipastikan berkaitan dengan delapan orang yang hilang.
(Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus)