Tribunlampung.co.id, Lampung Timur - Garis pantai di kawasan pesisir Kabupaten Lampung Timur terus menyusut akibat abrasi yang semakin parah selama beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Ancam Pemukiman dan Lumpuhkan Wisata Mangrove, Warga Lampung Timur Terdesak Abrasi
Air laut mengikis secara agresif tidak hanya merusak lanskap pesisir, tetapi juga mengancam kehidupan warga sekitar, terutama para petambak dan pelaku usaha wisata pantai.
Hal itu seperti yang terjadi di Desa Bandar Negeri dan Desa Karya Makmur, Kecamatan Labuhan Maringgai. Air laut mengikis wilayah daratan di daerah itu antara 5 hingga 10 meter setiap tahunnya.
Berdasarkan penuturan warga setempat, intensitas abrasi kian memburuk setelah benteng alami berupa vegetasi pepohonan di sepanjang pantai mulai habis tergerus.
Pengurus Kelompok Tani Hutan (KTH) Desa Bandar Negeri, Sumartono, mengungkapkan bahwa abrasi parah ini setidaknya telah berlangsung selama empat tahun terakhir.
Dari total area pengelolaan pesisir seluas 4,8 kilometer yang dikelola KTH, lebih dari setengah kilometer telah terdampak langsung oleh kikisan gelombang laut.
Dampak dari abrasi ini menyasar berbagai sektor kehidupan masyarakat lokal. Kawasan wisata pantai menjadi sektor utama yang terimbas langsung.
"Kalau setiap tahun abrasi seperti ini, beberapa tahun ke depan kemungkinan bisa habis bibir pantai, kita enggak punya pantai lagi," ujar Sumartono, Jumat (11/9/2026).
Selain sektor pariwisata dan aktivitas nelayan, dampaknya mulai mengancam sektor perikanan budidaya.
Dari luas total sekitar 1.000 hektare area tambak di Desa Bandar Negeri, sekitar 5 persen di antaranya sudah mulai terdampak dan tergerus air laut.
Kondisi ini memaksa para petambak beroperasi dalam situasi yang serba cemas. "Kalau ditanami ya was-was, karena kalau terjadi abrasi ya kena limpasan. Artinya kalau ditanami apa pun ya bisa hilang," tambah Sumartono.
Pencegahan yang dilakukan warga selama ini masih sangat terbatas dan hanya mengandalkan gerakan swadaya.
Warga kerap mencoba memperkuat tanggul secara manual, namun upaya tersebut sering kali sia-sia.
"Pagi kita buat, kadang pagi ya hilang lagi," terang Sumartono.
Ancaman tidak hanya datang dari terkikisnya fisik lahan, tetapi juga dari kegagalan produksi yang dialami warga secara bertubi-tubi.
Wawan, salah satu petambak lokal, menjelaskan bahwa abrasi sepanjang lebih dari 100 meter di area tambaknya telah terjadi dalam tiga tahun terakhir.
Selain masalah lahan yang tergerus, petambak dihadapkan pada kerugian besar akibat kegagalan panen secara masif yang diduga akibat faktor cuaca ekstrem.
"Musim ini gagal panen semua. Kematian parah, terus kalau mati ya habis. Jadi petambak takut mau ngisi lagi," ujar Wawan.
Bagi masyarakat pesisir Labuhan Maringgai, sektor pertambakan merupakan satu-satunya tumpuan hidup.
Melihat situasi tersebut, warga berharap adanya perhatian khusus dari pihak pemerintah dan kementerian terkait berupa pembangunan infrastruktur pelindung pantai yang permanen.
Mereka mendesak perlunya pembuatan tanggul penangkis atau pemecah ombak (breakwater).
Kehadiran bangunan pelindung ini dinilai sangat krusial agar gelombang pasang musim timuran tidak lagi menghantam daratan secara langsung serta menyelamatkan sisa tambak dan kawasan pesisir yang tersisa.
"Cuma ini pencaharian satu-satunya, enggak ada lahan lagi, enggak ada sawah kalau daerah sini," ungkapnya.
(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)