Damkar Mataram Catat Puluhan Kebakaran Lahan Selama Musim Kemarau
Laelatunniam September 11, 2026 02:20 PM

Laporan Khairil

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM – Ancaman kebakaran meningkat seiring kondisi cuaca yang kian panas dan musim kemarau yang berlangsung panjang. Di Kota Mataram, kebakaran lahan menjadi salah satu kejadian yang cukup sering ditangani petugas dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi tersebut membuat Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Mataram meningkatkan kesiapsiagaan, baik dari sisi personel, armada, maupun sarana dan prasarana pendukung.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran Dinas Pemadam Kebakaran Kota Mataram, Multazam,  mengatakan bahwa kebakaran lahan cukup intens terjadi selama musim kemarau.

Bahkan, sepanjang Agustus 2026, Damkar Kota Mataram mencatat sekitar 25 kejadian kebakaran yang harus ditangani petugas.

Sementara itu, memasuki September hingga 11 September 2026, sudah terdapat sekitar lima hingga enam kejadian kebakaran yang dilaporkan. Kejadian tersebut tidak hanya terjadi di wilayah Kota Mataram, tetapi juga mencakup kawasan perbatasan yang masuk dalam jangkauan penanganan petugas.

“Kalau dirata-ratakan, hampir setiap hari ada kejadian,” kata Multazam.

Tingginya frekuensi kejadian menunjukkan bahwa risiko kebakaran selama musim kemarau tidak bisa dianggap sepele. Terlebih, kondisi lahan yang kering dan cuaca panas membuat api lebih mudah menyala serta cepat merambat.

Dua Kebakaran Lahan Terjadi dalam Dua Hari

Dalam dua hari terakhir, Damkar Kota Mataram kembali menangani dua kejadian kebakaran lahan.

Salah satunya terjadi sekitar pukul 10.45 WITA di kawasan Jempong, tepatnya di belakang kawasan perkantoran di Kota Mataram. Kebakaran melanda lahan kosong yang cukup luas, diperkirakan mencapai sekitar 90 kavling.

Begitu menerima laporan, petugas Damkar langsung bergerak menuju lokasi. Sebanyak 15 personel dikerahkan untuk melakukan pemadaman. Namun, setibanya di lokasi, petugas melihat luas area yang terbakar cukup besar sehingga membutuhkan dukungan tambahan.

“Teman-teman berangkat langsung. Kami mengerahkan 15 personel untuk melakukan pemadaman. Di lokasi teman-teman melihat areanya lumayan luas, kemudian meminta back up lagi,” jelasnya.

Penanganan kebakaran tersebut tidak hanya mengandalkan Damkar. Sejumlah unsur turut membantu proses pemadaman, termasuk aparat penegak hukum (APH) dan pihak swasta yang berada di sekitar lokasi.

Kolaborasi tersebut menjadi penting mengingat lokasi kebakaran berada di kawasan yang berdekatan dengan perkantoran dan berpotensi menimbulkan dampak lebih luas apabila api tidak segera dikendalikan.

Petugas membutuhkan waktu hampir tiga jam hingga api berhasil dikendalikan.

Multazam menjelaskan, kondisi cuaca panas dan kemarau panjang membuat api di lahan terbuka lebih cepat merambat. Risiko tersebut semakin besar ketika kebakaran terjadi pada siang hari saat kondisi panas cukup tinggi.

“Dengan kemarau panjang dan cuaca yang cukup tinggi, api lebih cepat merambat. Tetapi karena kesigapan dan kesiapsiagaan kami serta koordinasi dengan APH, swasta dan instansi lainnya, alhamdulillah bisa kita atasi,” ujarnya.

Menurutnya, respons cepat dan koordinasi lintas pihak menjadi salah satu kunci dalam penanganan kebakaran. Langkah tersebut diperlukan agar api tidak meluas dan merembet ke kawasan permukiman maupun perkantoran di sekitar lokasi.

Damkar Tak Sekadar Memadamkan Api

Multazam menegaskan, tugas Damkar tidak hanya sebatas memadamkan api ketika terjadi kebakaran.

Dalam kondisi tertentu, petugas juga memberikan respons terhadap berbagai kejadian yang berkaitan dengan keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat.

Meski demikian, kemampuan petugas tetap memiliki batas, terutama berkaitan dengan ketersediaan peralatan, sarana pendukung serta keterampilan personel.

“Kalau kita bisa bantu, kita upayakan untuk membantu. Tetapi kalau memang karena keterbatasan alat, peralatan dan skill personel kami tidak mampu, tentu kami berikan penjelasan,” katanya.

Karena itu, kesiapan petugas menjadi bagian penting dalam memastikan setiap laporan dapat ditangani secara cepat sekaligus tepat.

Untuk menghadapi peningkatan risiko kebakaran selama musim kemarau, Damkar Kota Mataram terus memperkuat kesiapsiagaan personel.

Pengecekan dilakukan secara rutin terhadap personel, armada dan sarana prasarana. Pembagian tugas juga dilakukan secara jelas, mulai dari operator, sopir hingga petugas yang memiliki kemampuan khusus dalam menangani kebakaran.

Menurut Multazam, pemadaman tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Setiap kejadian memiliki karakteristik berbeda sehingga petugas harus terlebih dahulu menganalisis jenis kebakaran sebelum menentukan metode penanganannya.

“Penanganan kebakaran itu tidak sekadar simpel. Ada petugas yang fokus pada kebakaran dan harus mampu menangani dengan cepat dan tepat,” jelasnya.

Ia mencontohkan kebakaran yang melibatkan minyak. Jenis kebakaran tersebut tidak bisa langsung dipadamkan menggunakan air karena dapat meningkatkan risiko penyebaran api.

“Kalau kebakaran minyak, jangan sampai langsung pakai air. Kita harus menggunakan foam atau busa. Kami juga punya armada untuk penyemprotan busa,” katanya.

Pemahaman terhadap teori api dan kemampuan menganalisis kondisi di lapangan, lanjut Multazam, menjadi bagian penting dalam menentukan tindakan petugas.

Dengan metode pemadaman yang tepat, api dapat lebih cepat dikendalikan sekaligus mengurangi risiko terhadap petugas dan masyarakat.

Masyarakat Diminta Tidak Bakar Sampah dan Lahan

Di tengah meningkatnya risiko kebakaran, Damkar Kota Mataram meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan petugas pemadam kebakaran.

Upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan masyarakat sendiri, terutama dengan menghindari aktivitas yang berpotensi menjadi sumber api.

Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka lahan pertanian maupun perkebunan.

Warga juga diminta tidak membakar sampah sembarangan, terutama di lahan kosong yang dipenuhi rumput atau material kering.

Multazam menilai tumpukan sampah dan vegetasi kering di lahan terbuka dapat membuat api lebih mudah menyebar apabila terjadi kebakaran.

“Di masa kemarau panjang ini kita harus waspada terhadap potensi-potensi kebakaran, baik di permukiman maupun lahan,” katanya.

Ia juga meminta masyarakat saling mengingatkan dan berkoordinasi dengan lingkungan apabila hendak melakukan kegiatan yang berpotensi menimbulkan api.

Menurutnya, mencegah munculnya api jauh lebih efektif daripada menunggu kebakaran membesar dan kemudian membutuhkan penanganan petugas.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.