TRIBUNTRENDS.COM - Sejumlah orang di lingkungan sebuah sekolah dasar di Desa Langkap, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mulai mempertanyakan kebiasaan seorang kepala sekolah dan seorang guru perempuan yang disebut kerap masih berada di sekolah setelah kegiatan belajar mengajar selesai.
Keduanya disebut beberapa kali berada berdua di lingkungan sekolah hingga sore hari.
Pintu ruangan yang tertutup kemudian ikut memunculkan tanda tanya. Mengapa mereka masih berada di sekolah ketika aktivitas sudah berakhir? Mengapa kejadian serupa disebut berulang?
Kecurigaan yang semula hanya menjadi pembicaraan akhirnya mendorong komite sekolah dan warga mengambil langkah untuk mencari kepastian.
Sebuah kamera CCTV portabel dipasang secara tersembunyi.
Dari situlah, dugaan perilaku tidak pantas yang sebelumnya hanya menjadi kecurigaan disebut mulai menemukan titik terang.
Baca juga: Sempat Dimutasi, Bu Guru SD Pekalongan yang Viral Mesum di Sekolah Ternyata Masih Aktif Mengajar
Tokoh masyarakat Desa Langkap, Saim (46), mengungkap bahwa kecurigaan terhadap keduanya bukan muncul dalam waktu singkat.
Menurutnya, keberadaan kepala sekolah dan guru perempuan tersebut secara berduaan disebut terjadi berulang kali.
Bahkan, Saim menyebut ada waktu tertentu ketika keduanya diduga kerap berada di sekolah bersama-sama setelah kegiatan sekolah selesai.
"Sangat gereget karena dilakukan bukan hanya sekali. Bahkan itu sudah menjadi kegiatan rutinitas yang dilakukan setiap hari Rabu dan hari Sabtu," kata Saim dikutip dari Kompas.com, Rabu (9/9/2026).
Pernyataan tersebut membuat dugaan yang sebelumnya hanya berupa kecurigaan menjadi semakin serius di mata warga.
Sebab, pola yang disebut berulang membuat sejumlah orang mulai memperhatikan aktivitas keduanya.
Seorang warga Langkap mengatakan kecurigaan tersebut pada awalnya tidak langsung muncul.
Menurutnya, warga mulai merasa ada sesuatu yang berbeda karena pola keberadaan keduanya di sekolah disebut terjadi berulang.
Salah satu hal yang kemudian diperhatikan adalah keberadaan dua sepeda motor di lingkungan sekolah ketika kegiatan belajar mengajar sudah selesai.
Keduanya disebut kerap pulang lebih sore.
"Awalnya enggak curiga. Curiga-curiganya kok sering seperti itu dan pintu tertutup," ujarnya.
Pintu ruangan yang tertutup, keberadaan dua sepeda motor hingga sore, serta kebiasaan keduanya yang disebut sering berada di sekolah setelah kegiatan selesai perlahan membentuk rangkaian kecurigaan.
Warga kemudian mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya dilakukan di dalam ruangan.
Yang menjadi perhatian lebih jauh, menurut warga, kebiasaan tersebut disebut mulai diketahui oleh siswa.
Sejumlah siswa disebut mempertanyakan mengapa kepala sekolah dan guru perempuan tersebut kerap masih berada di sekolah hingga sore.
Bagi warga, situasi semacam itu dinilai tidak semestinya sampai menjadi bahan pertanyaan atau imajinasi para siswa.
"Ini sampai menimbulkan pertanyaan dan imajinasi yang tidak semestinya siswa bayangkan," ujarnya.
Keresahan tersebut akhirnya menjadi salah satu alasan munculnya inisiatif untuk memastikan dugaan yang beredar.
"Sebenarnya karena keresahan guru dan masyarakat, itu akhirnya timbul inisiatif untuk membongkar perilaku kepala sekolah itu," kata Saim.
Baca juga: Kepsek dan Guru SD Pekalongan Punya Jadwal Rutin Berbuat Asusila, Sempat Kepergok Murid dan Warga
Menurut warga sekitar, sejumlah orang di lingkungan sekolah disebut pernah melihat kepala sekolah dan guru tersebut berada berdua di sekolah.
Guru, siswa, hingga wali murid disebut pernah memergoki keduanya.
Namun, ketika ditegur, keduanya disebut memberikan bantahan.
"Sempat kepergok dengan guru, sempat kepergok dengan wali murid. Ketika ditegur itu mengelak. Makanya dari komite sekolah ada inisiatif memasang CCTV itu untuk bisa mengambil bukti apa yang dilakukan," ujar Saim.
Dari sinilah komite sekolah kemudian mengambil keputusan untuk mencari bukti atas dugaan yang selama ini berkembang.
Bukan sekadar mengandalkan cerita dari mulut ke mulut, mereka ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ketika keduanya berada di ruangan tersebut.
Sekitar akhir Juli 2026, sebuah CCTV portabel mulai dipasang.
Kamera tersebut disebut dibeli dengan harga sekitar Rp200 ribu melalui patungan warga dan komite sekolah.
Hanya ada satu kamera.
Penempatannya pun tidak dilakukan secara terbuka. Perangkat tersebut dipasang di bagian atas ruangan dengan memanfaatkan celah atap yang mengalami kerusakan.
Posisi tersebut membuat kamera dapat memantau kondisi ruangan tanpa mudah diketahui orang yang berada di dalam.
"Jadi kebetulan di ruang guru itu ada atap yang jebol. Itu dimanfaatkan untuk menyisipkan CCTV di atasnya. Jadi yang di ruangan itu juga tidak mengetahui bahwa di atas itu ada CCTV," kata Saim.
Pemasangan kamera tersebut dilakukan setelah kecurigaan warga disebut semakin kuat.
Kini, komite sekolah tidak lagi hanya memiliki cerita dari sejumlah orang yang pernah melihat keduanya berduaan. Mereka memiliki rekaman yang kemudian menjadi bagian penting dari penanganan persoalan tersebut.
Pemantauan CCTV kemudian disebut membuahkan hasil.
Menurut Saim, ditemukan dua rekaman yang memperlihatkan dugaan tindakan tidak pantas yang melibatkan kepala sekolah dan guru perempuan tersebut.
Salah satu rekaman kemudian beredar di media sosial hingga menjadi perhatian publik.
Sementara rekaman lainnya disebut masih diamankan karena dinilai lebih sensitif.
"Dari hasil CCTV itu ditemukan dua rekaman berdasarkan kecurigaan komite sekolah. Akhirnya kan memantau setiap hari yang dicurigai. Nah, terjadilah saat itu. Ada kecurigaan, akhirnya dimonitor, ternyata terjadi," ujarnya.
Temuan itu membuat persoalan yang sebelumnya hanya menjadi bahan pembicaraan berubah menjadi masalah yang harus ditangani secara resmi.
Baca juga: Alasan Kepsek dan Guru Pekalongan Tak Sadar Adegan Panasnya Terekam CCTV, Rekan Sudah Lama Curiga
Meski rekaman telah diketahui sejak awal Agustus, Dindikbud tidak serta-merta menjatuhkan tindakan.
Pihak dinas terlebih dahulu melakukan penelusuran dan klarifikasi untuk memastikan informasi serta rekaman yang beredar.
Langkah tersebut dilakukan sebelum keputusan administratif diberikan kepada kedua aparatur pendidikan tersebut.
Kepala Dindikbud Kabupaten Pekalongan, Kholid menegaskan, setelah pihaknya memastikan kebenaran rekaman, persoalan itu kemudian ditangani melalui mekanisme kedinasan atau kepegawaian.
"Begitu sudah kami pastikan kebenaran video tersebut, langsung kami eksekusi dan kami tangani secara kedinasan atau kepegawaian," ujar Kholid.
Penanganan tersebut kemudian berujung pada perubahan status tugas keduanya.
Tindakan paling tegas diberikan kepada kepala sekolah yang bersangkutan.
Kholid menyebut kepala sekolah tersebut telah dicopot dari jabatannya dan tidak lagi menjalankan tugas sebagai pimpinan sekolah.
Ia kemudian ditempatkan dalam status nonjabatan di lingkungan Dindikbud Kabupaten Pekalongan.
Kholid bahkan secara tegas menggambarkan langkah tersebut sebagai kepala sekolah yang "dikandangkan" di dinas.
"Begitu rekaman CCTV itu kita pastikan kebenarannya, kita langsung eksekusi.
Oknum kepala sekolah langsung kita copot dan 'kandangkan' di dinas.
Untuk oknum gurunya, sudah kita pindah ke tempat yang jauh," ujar Kholid saat dihubungi Tribunjateng.com, Jumat (4/9/2026).
Dengan keputusan tersebut, yang bersangkutan tidak lagi memimpin sekolah tempat sebelumnya bertugas.
Sementara itu, guru perempuan yang juga dikaitkan dengan rekaman tersebut diketahui berstatus PPPK.
Dindikbud mengambil langkah berbeda terhadapnya dengan memindahkan yang bersangkutan ke sekolah lain.
Menurut Kholid, lokasi penugasan baru tersebut berada cukup jauh dari sekolah sebelumnya.
Pemindahan itu menjadi bagian dari tindakan administratif yang dilakukan Dindikbud setelah proses penelusuran dan klarifikasi selesai dilakukan.
Dengan demikian, kedua aparatur tersebut kini tidak lagi menjalankan tugas di lingkungan sekolah yang sama.
***
(TribunTrends)