Ratusan Guru Sumedang Jalan Kaki ke Mapolres, Laporkan Ismi Rinjani Soal Ucapan Sudutkan Guru
Machmud Mubarok September 11, 2026 03:35 PM

 

Laporan Kontributor Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Ratusan anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Ikatan Guru Olahraga (IGORA ) Kabupaten Sumedang berjalan kaki dari Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS) menuju Mapolres Sumedang, Jumat (11/9/2026) pagim

Rombongan guru tersebut datang untuk melaporkan seorang pendemo, Ismi Rinjani, terkait pernyataannya yang terekam dalam video dan kemudian viral di media sosial.

Pernyataan Ismi Rinjani itu dinilai PGRI menyudutkan dan menggeneralisasi profesi guru.

Rombongan yang berjumlah sekitar 100 lebih guru itu dipimpin langsung Ketua PGRI Kabupaten Sumedang, Pepen Supendi, dan Ketua IGORA Sumedang, Ermansyah. 

Para guru terlihat mengenakan kaus sebagai atasan dan celana olahraga. Mereka berjalan bersama dari kawasan PPS menuju Mapolres Sumedang.

Berdasarkan pantauan TribunJabar.id, pukul 10.10 WIB, sebagian anggota rombongan masuk ke Mapolres Sumedang untuk menyampaikan laporan. Sementara sebagian lainnya menunggu dengan duduk-duduk di halaman kantor kepolisian.

Baca juga: Demo 27 Agustus 2026, Ada 2 Kubu Massa Bawa Misi Berbeda, Ini Tuntutannya

Baca juga: PGRI Sumedang Tempuh Jalur Hukum Terkait Orasi yang Menyudutkan Profesi Guru

Baca juga: Sekpri Wabup Sumedang Bantah Jadi Korban Penganiayaan-Pelecehan, Beredar Narasi Tanpa Sumber Jelas

Langkah hukum tersebut merupakan tindak lanjut dari sikap PGRI Sumedang terhadap video orasi Ismi Rinjani yang sebelumnya viral.

Dalam video tersebut, Ismi Rinjani menyampaikan sejumlah pengalaman buruk yang dikaitkannya dengan masa sekolah di Sumedang.

Pernyataannya antara lain menyinggung adanya guru olahraga yang disebut melakukan tindakan tidak pantas, guru yang disebut mengajar dalam kondisi mabuk, hingga temuan sisa kondom di ruang kelas.

Pepen sebelumnya menyatakan PGRI keberatan karena pernyataan tersebut dinilai menyudutkan sekaligus menggeneralisasi profesi guru.

“Saya ketua PGRI Sumedang, menanggapi adanya pernyataan yang dinilai menyudutkan dan mengeneralisasi profesi guru, yang tidak baik dan sangat menyakiti kami, yang disampaikan pada saat unjuk rasa, pada hari kamis tanggal 3 September 2026,” ujar Pepen.

Pernyataan IR itu disampaikan saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Sumedang pada Kamis (3/9/2026). Aksi tersebut berkaitan dengan kasus isu yang menyeret menerpa Wakil Bupati Sumedang, Fajar Aldila.

Sebelumnya, PGRI juga mengimbau para guru, khususnya guru olahraga, untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi. PGRI meminta persoalan tersebut diselesaikan melalui jalur hukum.

Kini, ratusan guru mendatangi Mapolres Sumedang sebagai bentuk tindak lanjut atas keberatan terhadap pernyataan yang mereka nilai telah merugikan dan menyakiti profesi guru.

Sebelumnya, puluhan massa berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Sumedang, Kamis (3/9/2026) siang. 

Buntut dari unjuk rasa itu, pagar gedung DPRD Sumedang terjungkal dan dirusak pendemo. 

Selain itu, di media sosial, tersebar perkataan pengunjuk rasa yang kurang pantas soal Kota Sumedang. 

Unggahan vidoe di akun Facebook Atto Bes, yang dikutip Tribun Jabar.id,Senin (7/9/2026), seorang pengunjuk rasa yang juga koordinator aksi bernama Ismi Rinjani terekam berorasi sambil melontarkan kata kurang pantas. 

Dalam potongan video yang tersebar, perempuan tomboy tersebut mengatakan Sumedang adalah kota yang "Brengsek". 

Dia bercerita bahwa dia lahir dan besar di Sumedang. Kemudian, sudah 10 tahun ini dia meninggalkan kota ini. Menurut penelusuran, Ismi Rinjani saat ini berdomisili di Yogyakarta. 

"Saya sudah 10 tahun meninggalkan kota berengsek ini," kata Ismi yang didahului ceritanya mengenai kelahirannya di Sumedang. 

Ismi diketahui sebagai koordinator aksi. Dia sendiri merupakan orang yang menggalang dana dari berbagai elemen dan melaporkan penggunaan dana untuk unjuk rasa itu secara terbuka di akun media sosialnya. 

Politisi Partai Gerindra ini meminta semua pihak untuk menahan diri sampai hasil investigasi dari tim khusus yang dibentuk Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, keluar. 

Namun, teruntuk masyarakat Sumedang, Dony menyampaikan permohonan maaf atas situasi yang tidak pasti ini. Dia mengaku telah bertemu dengan kedua pihak. 

"Selaku Bupati Sumedang, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Kabupaten Sumedang atas opini yang berkembang di masyarakat. Saya memahami bahwa situasi ini menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat," kata Dony dihubungi TribunJabar.id, Kamis (3/9/2026). 

Terkait Dony yang telah bertemu pihak Wabup Sumedang dan pihak yang dinarasikan sebagai korban, Dony mengaku telah mendapatkan penjelasan yang gamblang. 

Hal ini berkaitan dengan posisinya sebagai kepala daerah dan kepala pemerintahan yang memastikan proses mencari kebenaran tetap berjalan dengan tetap melindugi hak dan martabat setiap pihak untuk diperlakukan secara adil.

"Kedua belah pihak telah menyampaikan penjelasan," katanya. 

Akan tetapi, Dony tidak bisa menyimpulkan. Dia mengajak semua pihak untuk tidak berasumsi sendiri sebelum hasil investigasi muncul. 

"Saya memahami masyarakat membutuhkan penjelasan, tapi penjelasan yang bertanggung jawab dan tidak membuat kesimpulan,"

"Sebagaimana arahan Gubernur bahwa semua pihak untuk menahan diri dan tidak berasumsi sendiri atau berstatement sendiri sebelum adanya hasil resmi dari tim investigasi yang telah dibentuk oleh Gubernur Jawa Barat," kata mantan politisi PPP. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.