TRIBUNNEWS.COM - Konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel semakin meluas setelah Iran meningkatkan serangannya terhadap Yordania.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim serangan tersebut menyasar fasilitas yang digunakan untuk pemeliharaan, persiapan, dan pengoperasian jet tempur AS seperti F-35, F-16, dan F-15.
Iran sebelumnya juga telah menyerang wilayah Yordania dengan alasan menargetkan kepentingan serta fasilitas militer AS di negara tersebut.
Namun serangan terbaru menjadi perhatian karena Iran berupaya menunjukkan, mereka masih memiliki kemampuan untuk menjangkau aset militer AS di kawasan, meskipun Washington telah memindahkan sebagian kekuatannya lebih jauh dari wilayah Iran.
Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional, Wibawanto Nugroho menilai konflik antara Iran dan AS tidak semata-mata berkaitan dengan perang rudal.
Menurutnya, kedua negara juga tengah berusaha menunjukkan kekuatan dan kemampuan masing-masing dalam mempertahankan kepentingan strategis di Timur Tengah.
Wibawanto menjelaskan, Iran tidak harus menyerang wilayah utama atau homeland AS untuk memberikan tekanan kepada Washington.
Sebaliknya, Iran dapat memfokuskan serangan terhadap aset-aset strategis AS yang tersebar di Timur Tengah.
Dengan strategi tersebut, Iran dapat memberikan tekanan terhadap jaringan militer AS tanpa harus berhadapan langsung dengan keseluruhan kekuatan militer Amerika di wilayah negaranya sendiri.
Baca juga: Iran Buat AS-Israel Waspada, Rudal Balistik Kembali Diproduksi dari Komponen Lama
"Kekuatan Iran tidak hanya dapat dilihat dari jumlah rudal yang dimiliki. Kemampuan tersebut juga berkaitan dengan daya jangkau serangan, kemampuan bertahan setelah mendapat serangan balasan, jaringan kelompok proksi, serta kemampuan memberikan tekanan terhadap distribusi dan kepentingan AS di kawasan," jelas Wibawanto dalam program Youtube Live Kompas Petang.
Wibawanto menilai serangan Iran ke Yordania dapat menjadi bagian dari strategi untuk menekan berbagai aset militer penting AS di Timur Tengah.
Target tersebut berpotensi mencakup instalasi militer AS di negara-negara seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, maupun fasilitas strategis lainnya.
Tekanan juga dapat diarahkan kepada negara-negara yang memiliki hubungan dekat atau berafiliasi dengan kepentingan AS di kawasan, termasuk sejumlah negara Arab.
Namun, strategi tersebut bukan berarti Iran memiliki kemampuan untuk mengalahkan kekuatan militer AS secara langsung.
Menurut Wibawanto, serangan Iran lebih tepat dilihat sebagai upaya meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan Washington untuk mempertahankan operasi militernya.
Semakin banyak pangkalan dan aset AS yang harus dilindungi, semakin besar pula kebutuhan untuk mengerahkan sistem pertahanan udara, personel, pesawat, kapal perang, serta berbagai sumber daya pendukung lainnya.
Dengan demikian, perang tidak hanya menghasilkan biaya militer, tetapi juga dapat memberikan dampak terhadap aspek ekonomi dan politik AS.
Di sisi lain, serangan Iran terhadap aset AS juga dapat mendorong Washington meningkatkan eskalasi terhadap Teheran.
AS memiliki sejumlah pilihan untuk merespons, mulai dari meningkatkan serangan terhadap target militer Iran, memindahkan dan memperkuat pasukan, hingga memperketat perlindungan terhadap aset strategis di kawasan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengendalikan risiko agar konflik tidak berkembang menjadi spiral eskalasi yang semakin sulit dihentikan.
Washington juga dapat menggunakan tekanan militer sebagai bagian dari strategi untuk memaksa Iran masuk ke meja perundingan.
Dalam kondisi tersebut, peningkatan serangan tidak selalu berarti AS ingin membawa perang tanpa batas.
Tekanan militer juga dapat digunakan untuk memperkuat posisi tawar Washington ketika mencari jalan keluar dari konflik.
Mengutip dari Al Jazeera, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyampaikan target untuk mengakhiri perang pada November setelah pemilu.
Menurut Wibawanto, pernyataan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa Washington akan mundur dari konflik.
Sebaliknya, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai bagian dari strategi untuk mengontrol eskalasi sekaligus mempertahankan tekanan terhadap Iran.
Dengan menetapkan batas waktu politik, AS dapat berusaha menunjukkan bahwa perang memiliki tujuan dan tidak akan berlangsung tanpa arah.
Namun, sebelum mencapai titik tersebut, Washington masih harus menghadapi kemampuan Iran dalam memberikan tekanan terhadap aset militernya di berbagai wilayah Timur Tengah.
Serangan ke Yordania memperlihatkan bahwa konflik kini tidak hanya berpusat pada wilayah Iran dan Israel. Jaringan pangkalan, fasilitas militer, serta kepentingan strategis AS di negara-negara sekutu kawasan juga menjadi bagian dari medan persaingan.
Jika serangan terhadap aset AS terus berlanjut, Washington akan menghadapi pilihan sulit antara meningkatkan tekanan militer, memperkuat pertahanan di kawasan, atau membuka ruang negosiasi untuk menghentikan konflik.
Pada akhirnya, persaingan Iran dan AS di Timur Tengah bukan hanya mengenai siapa yang memiliki lebih banyak rudal atau kekuatan militer.
Konflik tersebut juga menyangkut kemampuan kedua pihak mempertahankan pengaruh, meningkatkan biaya bagi lawan, dan memaksa pihak lain menerima kondisi politik yang dianggap menguntungkan.
Serangan Iran terhadap Yordania menjadi salah satu gambaran bahwa Teheran masih berupaya mempertahankan pengaruhnya di kawasan, sementara AS harus mencari cara untuk melindungi jaringan militernya tanpa membiarkan konflik berkembang menjadi perang yang semakin luas.
(Tribunnews.com / Namira)