TRIBUNNEWS.COM - Dalam kesibukan menjalani kehidupan sehari-hari, hati seorang muslim terkadang bisa terlena tanpa disadari.
Urusan pekerjaan, harta, kesenangan dunia, hingga berbagai aktivitas lainnya dapat membuat seseorang lupa mengingat Allah SWT dan perlahan menjauh dari ibadah.
Kondisi hati yang lalai semacam ini dalam Islam dikenal dengan istilah ghaflah, menurut penjelasan dalam laman UIN Sunan Gunung Jati.
Al-Qur’an mengingatkan umat Islam agar tidak mengikuti orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah SWT.
Dalam Surah Al-Kahf ayat 28, Allah SWT berfirman, “Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”
Peringatan tersebut menunjukkan bahwa kelalaian hati bukan perkara yang sebaiknya dianggap sepele, karena setiap Muslim sangat dianjurkan untuk istiqomah dalam beribadah.
Istiqomah bukan berarti seseorang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan memiliki kemauan untuk terus kembali kepada Allah SWT dan berusaha mempertahankan kebaikan meski menghadapi berbagai ujian.
Allah SWT berfirman dalam Surah Hud ayat 112: “Maka tetaplah engkau (Muhammad) pada jalan yang benar, sebagaimana telah diperintahkan kepadamu.”
Dalam hadis, Rasulullah SAW mengajarkan doa yang dapat dibaca setiap selesai sholat agar selalu dilindungi Allah SWT dari kelalaian dalam beribadah.
Allahumma a'inni 'ala dzikrika, wa syukrika, wa husni 'ibadatik.
Artinya: “Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.” (HR. Abu Dawud)
Doa tersebut diambil dari hadis:
Dari Mu'adz bin Jabal, bahwa Rasulullah SAW memegang tangannya lalu bersabda, “Wahai Mu'adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, sungguh aku mencintaimu.” Kemudian beliau bersabda, “Wahai Mu'adz, aku berwasiat kepadamu, janganlah sekali-kali kamu meninggalkan untuk membaca setelah setiap salat: ‘Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.’” (HR. Abu Dawud)
Baca juga: Doa agar Terhindar dari Permusuhan, Perbuatan Zalim dan Dizalimi
Agar hati tidak mudah lalai dan ibadah tetap terjaga, ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dijelaskan dalam laman BAZNAS.
Istiqomah tidak selalu harus dimulai dengan melakukan banyak ibadah sekaligus. Justru, membiasakan amalan kecil secara rutin dapat membantu seseorang menjaga semangat dalam jangka panjang.
Misalnya, membaca Al-Qur’an beberapa ayat setiap hari, melaksanakan salat sunnah rawatib, memperbanyak zikir, atau membiasakan membaca doa setelah salat.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun jumlahnya sedikit.
Karena itu, jangan memaksakan diri melakukan terlalu banyak amalan hingga akhirnya merasa jenuh dan meninggalkannya. Lebih baik sedikit tetapi konsisten daripada banyak namun hanya dilakukan sesekali.
Salat lima waktu merupakan kewajiban utama yang tidak boleh ditinggalkan.
Menjaga salat tepat waktu dapat menjadi salah satu cara untuk mempertahankan kedekatan dengan Allah SWT sekaligus mencegah hati semakin jauh dari ibadah.
Ketika salat mulai sering ditunda atau ditinggalkan, seseorang juga dapat menjadi lebih mudah lalai terhadap amalan lainnya. Oleh sebab itu, usahakan untuk segera menunaikan salat ketika waktunya telah tiba.
Selain menjaga ketepatan waktu, berusahalah meningkatkan kekhusyukan dengan memahami bacaan dan menyadari bahwa saat salat seorang hamba sedang menghadap kepada Allah SWT.
Menjaga keistiqamahan juga perlu dimulai dari niat. Ibadah yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan pujian manusia akan lebih mudah kehilangan semangat ketika tidak ada orang yang melihat atau memberikan penghargaan.
Sebaliknya, ketika tujuan utama ibadah adalah mencari rida Allah SWT, seseorang akan tetap berusaha berbuat baik meskipun tidak mendapatkan perhatian dari orang lain.
Karena itu, sesekali periksa kembali hati dan tanyakan kepada diri sendiri apakah ibadah yang dilakukan benar-benar karena Allah atau masih dipengaruhi keinginan untuk mendapatkan pengakuan manusia.
Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap kebiasaan dan semangat seseorang dalam beribadah.
Berada di tengah orang-orang yang senang melakukan kebaikan dapat membuat seseorang ikut terdorong untuk salat, membaca Al-Qur’an, menghadiri kajian, dan memperbanyak amal.
Sebaliknya, pergaulan yang dipenuhi kebiasaan buruk dapat membuat seseorang perlahan mengikuti perilaku tersebut.
Karena itu, pilihlah teman yang dapat mengingatkan kepada Allah dan mendukung dalam kebaikan.
Tidak hanya lingkungan secara langsung, perhatikan pula lingkungan digital dengan memilih konten yang bermanfaat dan menjauhi tontonan yang dapat membuat hati semakin lalai.
Al-Qur’an merupakan petunjuk bagi kehidupan seorang muslim. Membacanya secara rutin dapat menjadi salah satu cara menjaga hati agar tetap dekat dengan Allah SWT.
Tidak perlu menunggu Ramadan untuk kembali membaca Al-Qur’an, tetapi jadikanlah kitab suci tersebut sebagai bagian dari rutinitas harian.
Selain membaca, luangkan waktu untuk memahami makna ayat dan merenungkan pesan yang terkandung di dalamnya.
Kebiasaan tadabbur dapat membantu seseorang mengingat kembali tujuan hidup, memperkuat keimanan, dan menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Ketika hati mulai terasa kosong atau semangat beribadah menurun, kembali mendekat kepada Al-Qur’an dapat menjadi salah satu langkah untuk menghidupkan hati.
Kesadaran bahwa kehidupan manusia memiliki batas dapat menjadi pengingat agar tidak terlalu larut dalam kesibukan dunia.
Seseorang tidak pernah mengetahui kapan ajal akan datang sehingga kesempatan untuk beribadah sebaiknya tidak terus ditunda.
Mengingat kematian bukan berarti menjalani hidup dengan ketakutan, tetapi menyadarkan diri bahwa setiap waktu memiliki nilai.
Ketika seseorang mengingat adanya kehidupan akhirat dan pertanggungjawaban atas amal perbuatannya, ia akan lebih terdorong untuk memanfaatkan waktu dengan melakukan kebaikan.
Salah satu hal yang dapat membuat seseorang semakin lalai adalah kebiasaan menunda-nunda ibadah.
Ketika muncul keinginan untuk melakukan kebaikan, jangan selalu berkata, “Nanti saja.”
Semakin sering ditunda, semakin besar kemungkinan niat tersebut tidak terlaksana.
Karena itu, jika memiliki kesempatan untuk melakukan amal baik, segeralah mengerjakannya. Ingin membaca Al-Qur’an, ambil dan baca meski hanya beberapa ayat.
Ingin bersedekah, lakukan ketika memiliki kesempatan. Ingin bertaubat, jangan menunggu hari esok. Kebiasaan segera melakukan kebaikan dapat membantu melawan rasa malas dan menjaga hati dari kelalaian.
Maksiat dapat menjadi salah satu sebab hati semakin jauh dari Allah SWT.
Dosa yang terus dilakukan tanpa disertai taubat dapat membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap kebaikan dan merasa berat untuk menjalankan ibadah.
Karena itu, menjaga istiqomah bukan hanya dengan memperbanyak amal, tetapi juga berusaha meninggalkan dosa.
Jagalah pandangan, ucapan, pergaulan, serta berbagai kebiasaan yang dapat menyeret kepada kemaksiatan.
Jika terlanjur melakukan kesalahan, jangan menunda untuk bertaubat karena Allah SWT selalu membuka pintu ampunan bagi hamba yang kembali kepada-Nya.
Manusia memiliki hati yang mudah berubah. Hari ini seseorang bisa sangat bersemangat beribadah, tetapi pada waktu lain semangat tersebut dapat menurun.
Karena itu, jangan hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Mintalah pertolongan Allah SWT agar diberikan kekuatan untuk terus berada di jalan ketaatan.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)