TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Sebanyak 2.006 pelajar di Sulawesi Barat (Sulbar) akan menerima beasiswa dan bantuan perlengkapan sekolah dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sulbar merinci 2.006 pelajar yang menjadi sasaran program beasiswa dan bantuan seragam sekolah.
Sebanyak 350 penerima beasiswa berprestasi terdiri atas 160 siswa SMA, 90 siswa SMK, dan 100 siswa SLB.
Kemudian, 600 peserta didik dari kategori afirmasi atau kurang mampu mendapat beasiswa.
Masing-masing terdiri atas 240 siswa SMA, 230 siswa SMK, dan 130 siswa SLB.
Baca juga: Penerima Beasiswa Pemprov Sulbar 2026 Capai 1.040 Orang
Sementara bantuan perlengkapan pendidikan seperti seragam, sepatu, tas, buku, dan kebutuhan lainnya dialokasikan untuk 1.056 peserta didik.
Jumlah tersebut terdiri atas 512 siswa SMA, 272 siswa SMK, dan 272 siswa SLB.
Jika ditotal, penerima program beasiswa dan bantuan perlengkapan pendidikan mencapai 2.006 peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sulbar Muhammad Nehru Sagena mengatakan bantuan ini merupakan salah satu upaya pemerintah memperluas akses pendidikan.
Program tersebut juga untuk menekan angka anak tidak sekolah, sekaligus mencegah siswa yang sudah bersekolah agar tidak putus sekolah.
"Ini bagian dari prioritas pemerintah daerah dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter," kata Nehru, dikutip dalam rilis yang diterima Tribun-Sulbar.com, Jumat (11/9/2026).
Menurut dia, program tersebut merupakan implementasi dari misi ketiga Gubernur Suhardi Duka, yakni membangun SDM unggul dan berkarakter.
Namun, Nehru mengakui alokasi tersebut belum dapat menjangkau seluruh siswa yang membutuhkan bantuan pendidikan di Sulbar.
Keterbatasan anggaran dan kebijakan efisiensi membuat pemerintah harus menentukan prioritas penerima sesuai kemampuan fiskal yang tersedia.
Karena itu, program yang berjalan tahun ini masih diarahkan kepada kelompok peserta didik yang dinilai menjadi prioritas, baik berdasarkan prestasi, kondisi ekonomi, maupun kebutuhan khusus.
Menurut Nehru, bantuan tersebut juga menjadi salah satu instrumen untuk menekan angka anak tidak sekolah.
Pemerintah tidak hanya berupaya mendorong anak yang belum bersekolah agar mendapatkan akses pendidikan, tetapi juga menjaga agar siswa yang sudah berada di bangku sekolah tidak berhenti di tengah jalan.
“Yang kedua itu juga sebagai salah satu upaya untuk menurunkan angka anak tidak sekolah sekaligus memastikan agar yang sementara bersekolah tidak putus,” ujarnya.
Di sisi lain, bantuan pendidikan juga menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap siswa Sulbar yang mampu meraih prestasi di tingkat nasional.
Nehru menyebut siswa berprestasi yang menjadi sasaran program berasal dari berbagai bidang, mulai dari olahraga, seni, iman dan takwa (imtak), hingga hafalan Al-Qur'an.
Namun, perhatian pemerintah tidak hanya diberikan kepada siswa berprestasi. Anak-anak dari keluarga kurang mampu dan peserta didik difabel juga masuk dalam skema bantuan.
“Serta beasiswa bagi anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu dan difabel. Jadi itu menunjukkan kepedulian pemerintah bahwa kita non-diskriminasi,” jelasnya.
Menurut Nehru, keterbatasan cakupan program tidak berarti kebutuhan pendidikan kelompok lainnya diabaikan. Pemerintah akan terus menyesuaikan program dengan kemampuan anggaran serta prioritas kebutuhan pendidikan di Sulbar.
Dengan skema tersebut, bantuan diharapkan dapat meringankan beban keluarga sekaligus mengurangi hambatan yang membuat anak tidak melanjutkan pendidikan.(*)