Oleh: Ir. Irham Maulana, S.P., M.Si.,
Pagi ini, linimasa media sosial saya dipenuhi wajah-wajah yang tiba-tiba "berpindah zaman".
Foto swafoto masa kini disulap AI menjadi potret bernuansa 1980-an: rambut bervolume, jaket denim, warna hangat yang sedikit pudar, seolah baru diangkat dari album keluarga lawas.
Cukup unggah satu foto, pilih preset semacam "80s Flashback", dan dalam hitungan detik kita "lahir kembali" di dekade yang bahkan tak pernah kita alami sendiri.
Tren ini menular begitu cepat, dari selebritas sampai warung kopi tempat saya menulis kolom ini. Ada istilah untuk gejala semacam ini dalam teori pembangunan.
Everett Rogers menyebutnya inovasi dengan tingkat adopsi tinggi, karena murah, gampang ditiru, cocok dengan kebiasaan orang, dan hasilnya kelihatan langsung di linimasa. Semua orang bisa coba, semua orang bisa pamer hasilnya.
Masalahnya, teori yang sama juga bisa menjelaskan kenapa aplikasi yang sebenarnya berguna bagi petani, semacam info harga pasar, prediksi cuaca, atau deteksi hama pakai AI, malah lambat dipakai di desa. Manfaatnya nyata, tapi tidak instan kelihatan, dan orang perlu didampingi dulu supaya mau mencoba.
Tidak ada yang mau pamer aplikasi cuaca di Instagram. Masyarakat yang sama, dengan HP yang sama, bisa secepat kilat ikut tren hiburan. Bedanya, teknologi yang sebenarnya bisa menolong hidup mereka belum dirancang semudah dan semenarik itu untuk dicoba dan disebarkan.
Sebagai akademisi di bidang sosial ekonomi pertanian, saya jadi bertanya-tanya, 80-an yang mana sih yang sebenarnya kita rindukan?
Dekade 1980-an bukan cuma soal rambut bervolume dan kamera flash. Waktu itu negara benar-benar hadir sampai ke sawah. Tahun 1984, Indonesia mencapai swasembada beras lewat Revolusi Hijau, program Bimas dan Inmas, dan penyuluhan pertanian yang jalan sampai ke pelosok desa.
Koperasi Unit Desa jadi tumpuan ekonomi warga, beli pupuk bersubsidi di sana, jual gabah dengan harga yang dijamin pemerintah, pinjam modal tanpa harus lewat tengkulak. Penyuluh datang langsung ke sawah, mengajarkan Panca Usaha Tani dari pintu ke pintu.
Sekarang, KUD di banyak desa tinggal papan namanya saja. Harga gabah dan komoditas lain lebih banyak ditentukan pasar, yang sering tidak berpihak pada petani kecil.
Belakangan ini pemerintah mulai membangun Koperasi Desa Merah Putih di berbagai daerah, yang digadang-gadang bisa memutus rantai tengkulak dan menjamin harga yang lebih adil.
Semoga saja kali ini benar-benar berpihak pada petani, bukan cuma bangunan baru dengan nasib yang berakhir sama seperti KUD dulu.
Anak muda desa lebih memilih merantau atau kerja di sektor jasa daripada meneruskan sawah orang tua, bukan karena malas, tapi karena bertani sekarang tidak lagi menjanjikan masa depan yang jelas. Petani kita makin menua, sementara yang muda makin sedikit yang mau turun ke sawah.
Di sinilah yang menarik. Kita ramai-ramai ingin tampil dengan wajah 80-an karena estetikanya hangat dan mengingatkan pada foto keluarga jadul.
Tapi coba tanya, siapa yang benar-benar menginginkan sistem sosial-ekonomi 80-an itu ikut kembali, lengkap dengan koperasi yang kuat dan negara yang benar-benar mengurus harga gabah? Rasanya tidak banyak.
Ini bukan salah anak muda yang ikut-ikutan. FOMO memang wajar saja di zaman serba digital ini, semua orang ingin merasa terhubung dengan apa yang sedang ramai dibicarakan orang. Tapi coba perhatikan, kita ini lebih mudah rindu pada citra masa lalu daripada mau belajar dari substansinya. Fotonya kita ambil, sejarahnya kita tinggalkan.
Ada satu risiko yang jarang kita pikirkan waktu ikut tren begini. Setiap foto yang diunggah ke aplikasi AI itu artinya kita menyerahkan data wajah kita ke server orang lain entah di mana. Buat yang sudah paham teknologi, risikonya mungkin sempat dipertimbangkan dulu sebelum ikut-ikutan.
Tapi buat masyarakat yang literasi digitalnya masih rendah, termasuk sebagian warga desa yang justru sedang didorong untuk "melek digital", kemudahan semacam ini gampang jadi jebakan yang tidak mereka sadari. Pemberdayaan digital itu bukan cuma soal kasih akses HP dan internet, tapi juga soal mengajari orang menimbang untung-rugi sebelum menyerahkan data pribadinya.
Coba bayangkan kalau semangat ramai-ramai ikut tren ini dipakai untuk hal lain. Petani di Aceh, misalnya, sebenarnya butuh info harga pasar yang bisa diakses semudah membuka Instagram, atau kelompok tani yang urun rembuk lewat grup WhatsApp sesederhana forward foto ke teman.
AI yang sekarang ramai dipakai mengedit wajah, sebenarnya bisa juga dipakai membaca cuaca atau mendeteksi hama. Bedanya cuma satu, hasilnya tidak sekeren foto retro untuk dipamerkan di media sosial.
Jadi, lain kali kita lihat lagi wajah kawan-kawan "kembali" ke 1985 di linimasa, coba tanya ke diri sendiri, dari semua yang kita rindukan dari masa itu, apakah petani yang sejahtera dan koperasi yang kuat termasuk salah satunya?
Atau jangan-jangan kita hanya ingin tampil nostalgia, sementara nasib mereka yang menanam beras yang kita makan hari ini tetap tertinggal di zaman yang justru tak ingin kita kembali.
*) PENULIS adalah Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Teuku Umar (UTU), Aceh.