TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, terus dilakukan dengan berbagai metode untuk memastikan api dan bara yang berada di lahan gambut benar-benar padam.
Salah satu upaya yang diterapkan Polres Ketapang yakni menggunakan campuran air dengan cairan X-Fire untuk melakukan pemadaman sekaligus pendinginan di area yang masih memiliki titik api dan bara.
Metode tersebut diterapkan di kawasan Km 7 Jalan Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, pada Kamis, 10 September 2026.
Penggunaan campuran air dan X-Fire dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mempercepat proses pemadaman pada lahan gambut.
Karakteristik gambut yang menyimpan bara di dalam lapisan tanah membuat proses penanganannya membutuhkan pembasahan dan pendinginan secara menyeluruh agar api tidak kembali muncul setelah permukaan terlihat padam.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung Kasat Samapta Polres Ketapang AKP Suyanto. Ia didampingi Kasubagdal Ops AKP Sudi Suriyanto bersama lima personel Samapta yang diterjunkan untuk melakukan penyemprotan di area terdampak karhutla.
Sesampainya di lokasi, tim melakukan pemantauan terhadap area yang masih ditemukan titik api maupun bara.
• Titik Panas Kalbar Tembus 1.718 Hotspot, Mempawah dan Kubu Raya Masuk Kategori Berbahaya
Petugas kemudian mengaplikasikan campuran air dan X-Fire ke permukaan lahan gambut yang terbakar sebagai bagian dari proses pemadaman dan pendinginan.
Dalam penerapannya, petugas menggunakan komposisi satu drum air berkapasitas 200 liter yang dicampur dengan 40 liter cairan X-Fire.
Dengan demikian, perbandingan campuran yang digunakan adalah 1:5 sesuai petunjuk dari Staf Khusus Aslog Kapolri.
Air dan cairan X-Fire terlebih dahulu dicampurkan kemudian diaduk hingga larutan tercampur secara merata.
Setelah siap digunakan, campuran tersebut disemprotkan langsung ke bagian lahan yang terbakar, termasuk area yang masih menyimpan bara di dalam tanah.
Penyemprotan dilakukan secara bertahap pada bagian lahan yang membutuhkan penanganan.
Petugas tidak hanya berupaya menghilangkan api yang terlihat di permukaan, tetapi juga melakukan pendinginan pada area gambut untuk mengurangi kemungkinan bara kembali memicu kebakaran.
Proses pemadaman dan pendinginan berlangsung hingga sekitar pukul 16.00 WIB. Dari kegiatan tersebut, sekitar 0,3 hektare lahan berhasil ditangani.
Hasil pemantauan setelah penyemprotan menunjukkan area gambut yang telah mendapatkan campuran air dan X-Fire berada dalam kondisi padam.
Area tersebut juga tidak lagi terlihat mengeluarkan asap sehingga proses pendinginan dinilai memberikan hasil yang cukup efektif dalam menekan potensi munculnya kembali api.
Kapolres Ketapang AKBP Putra Pratama melalui Kasi Humas Polres Ketapang IPTU Manusun Simatupang mengatakan penggunaan metode dan teknologi yang tepat menjadi salah satu bagian penting dalam penanganan karhutla.
Menurutnya, karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman memiliki tantangan tersendiri karena api dapat bertahan atau menyala kembali dari bagian bawah permukaan tanah meskipun kobaran di atas tanah sudah tidak terlihat.
• 6 Orang Utan Diselamatkan dari Kepungan Karhutla di Kayong Utara, Habitat Terputus Api
“Polres Ketapang akan terus mengoptimalkan seluruh sumber daya dan metode yang efektif dalam penanganan Karhutla. Penggunaan campuran air dengan cairan X-Fire ini merupakan salah satu inovasi yang terbukti mampu mempercepat proses pendinginan serta mencegah munculnya titik api kembali,” ujar IPTU Manusun Simatupang.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Menurutnya, pencegahan menjadi bagian penting dalam menghadapi karhutla, terutama ketika kondisi lingkungan masih memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran api.
Masyarakat juga diminta segera memberikan informasi kepada petugas apabila menemukan adanya kebakaran hutan maupun lahan di wilayahnya.
Laporan yang cepat diharapkan dapat membuat petugas segera melakukan penanganan sebelum api meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
“Kami juga mengajak seluruh masyarakat untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan adanya kebakaran melalui Call Center Polri 110,” katanya.
Polres Ketapang juga terus membangun koordinasi bersama berbagai pihak dalam menghadapi ancaman karhutla. Sinergi dilakukan bersama TNI, BPBD, Manggala Agni, pihak perusahaan serta masyarakat yang berada di sekitar wilayah rawan kebakaran.
Kerja sama lintas instansi dan masyarakat tersebut diperlukan karena penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah muncul, tetapi juga mencakup upaya pencegahan, pemantauan kawasan rawan serta pendinginan untuk memastikan api tidak kembali menyala.
Khusus di wilayah lahan gambut, proses pendinginan menjadi bagian yang tidak kalah penting karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul apabila kondisi lahan kembali kering.
Melalui berbagai upaya tersebut, Polres Ketapang bersama seluruh unsur terkait terus berupaya menekan risiko meluasnya karhutla. Penanganan dilakukan untuk menjaga lingkungan sekaligus melindungi masyarakat dari dampak kebakaran dan paparan asap, khususnya di wilayah Kabupaten Ketapang.
(*)