Laporan Reporter SURYAMALANG.COM, Imam Nawawi
SURYAMALANG.COM, LUMAJANG - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang mengidentifikasi tumpukan material vulkanik di lereng kawah Gunung Semeru diperkirakan mencapai sekitar 36 juta meter kubik.
Endapan material erupsi tersebut berpotensi mengalir ke arah timur jika terjadi awan panas guguran (APG) maupun banjir lahar dingin.
Menanggapi ancaman tersebut, pihak BPBD mengimbau warga di sepanjang alur potensi dampak, khususnya di wilayah Kecamatan Candipuro, untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan.
Baca juga: Pembatasan Akses Bromo Dampak Kebakaran: Jemplang Malang Tutup, Ranu Regulo Masih Dibuka
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan jumlah meterial tersebut masih perkiraan sementara yang berpotensi mengalami pergerakan dari kawasan puncak Semeru.
"Kalau sekitar 36 juta kubik itu saja. Ini kira-kira bisa salah, bisa benar. Itu yang berpotensi untuk turun," katanya, Jumat (11/9/2026).
Isnugroho menyebut, jumlah keseluruhan material yang menumpuk di sepanjang lereng Semeru belum bisa dipastikan, sebab pemetaan lebih detail hanya bisa dilakukan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
"Kalau tumpukan material yang ada di lereng Semeru kami nggak bisa pastikan, karena itu pernah saya request di PVMBG untuk dilakukan pemetaan drone, ternyata cuacanya berkabut, mendung," tambah Isnugroho.
Baca juga: Hasil Modifikasi Cuaca Guyur 6 Daerah Jatim Termasuk Malang: Trenggalek Turun Hujan 2 Hari
Sementara material yang berada di kawasan bukaan kawah Gunung Semeru, berpotensi bergerak mengikuti kondisi lereng dan jalur aliran. Begitu juga Jonggring Saloko kemungkinan diperkirakan mengarah ke tenggara.
"Endapan itu sudah memenuhi dari bukaan kawah hingga kilometer 2.000. Itu sudah dipatahkan, sudah penuh," ujarnya.
Berdasarkan mitigasi BPBD Lumajang bersama Pos Pantau Gunung Semeru, Isnugroho menyebut matrial vulkanik tersebut kecil kemungkinan lari ke Sumbersari Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo Lumajang jika terjadi banjir lahar.
"Atau mengarah ke Besuk Kembar, Pronojiwo itu kecil, karena perbaikan daerah aliran sungai (DAS) Curah Koboan sudah dibuat oleh yang ngerjakan proyek sedang dikerjakan," ulasnya.
Baca juga: Cuaca Malang-Kota Batu Hari Ini Jumat 11 September 2026: Kabut/Asap, Suhu Terendah 15 °C
Akan tetapi, ada kemungkinan, kata Isnugroho, jutaan kubik endapan matrial vulkanik tersebut mengarah ke timur Gunung Semeru jika terjadi awan panas guguran (APG) atau lahar dingin, sebab endapan material erupsinya lebih banyak.
"Endapan material banyak yang numpuk di bukaan kawah kawah. Jika jalur (lahar terbuka) larinya di larinya Kebon Seket, Desa Sumbermujur, Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Nah ini yang perlu kita waspadai," imbuhnya.
Oleh karena itu, BPBD Lumajang telah menyiagakan sistem peringatan dini berupa sirene yang dipasang di kawasan Curah Kobokan, Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, serta Bukit Padat, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.
"Ada aplikasi deteksi dini yang dapat dimanfaatkan masyarakat kawasan Supiturang dan Oro-Oro Ombo jika ada letusan disertai awan panas guguran. Supaya mereka tidak terpengaruh informasi hoax," ucapnya.
Baca juga: Pemkab Kediri Lanjutkan Pembangunan Jalan Menuju Kawah Gunung Kelud
Isnugroho menjelaskan, Semeru merupakan gunung berapi aktif sehingga setiap hari selalu erupsi, tetapi skala bahayanya tidak selalu sama.
"Apapun yang keluar dari perut gunung sampai ke bukaan kawah, baik itu letusan, embusan, guguran, lontaran material, lava pijar, itu dikatakan erupsi. APG salah satu bentuk erupsi. Hanya APG ini skalanya lebih besar karena ada awan panas guguran," bebernya.