TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali tertekan di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak mentah dunia melampaui 100 dolar AS per barel.
Pada perdagangan Jumat (11/9/2026), rupiah ditutup melemah 64 poin ke level Rp 17.611 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp 17.547 per dolar AS. Rupiah sebelumnya bahkan sempat melemah hingga 80 poin.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, lonjakan harga minyak dunia dapat memberikan tekanan berlapis terhadap perekonomian Indonesia, mulai dari APBN, nilai tukar rupiah hingga inflasi.
Baca juga: Konflik AS-Iran Mulai Mereda, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah Tipis Jadi Rp17.725 per Dolar AS
Menurut dia, harga minyak yang berada jauh di atas asumsi makro APBN akan meningkatkan kebutuhan anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi, termasuk BBM dan LPG 3 kilogram.
"Apabila pemerintah memilih untuk tidak menaikkan harga BBM di tingkat eceran demi menjaga daya beli masyarakat, pemerintah harus menanggung selisih harga yang sangat besar yang berpotensi melebarkan defisit anggaran," tutur Ibrahim dalam keterangan, Jumat (11/9/2026).
Di sisi lain, Indonesia membutuhkan dolar AS dalam jumlah besar untuk membiayai impor minyak. Kenaikan harga minyak otomatis meningkatkan permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam dan berpotensi memperlebar tekanan terhadap transaksi berjalan serta nilai tukar rupiah.
Tekanan tersebut juga dapat memicu imported inflation atau kenaikan harga barang akibat meningkatnya biaya impor.
Pemerintah berada dalam dilema. Mempertahankan subsidi BBM akan menambah tekanan terhadap APBN, sementara menaikkan harga BBM berisiko mendorong inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat.
"Kalau menaikkan harga BBM, akan memicu inflasi tinggi, menurunkan daya beli masyarakat dan berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," jelas Ibrahim.
Indonesia memang berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan harga sejumlah komoditas ekspor seperti batu bara dan minyak kelapa sawit atau CPO.
Akan tetapi, tambahan penerimaan tersebut belum tentu cukup untuk menutup lonjakan biaya impor minyak mentah.
Lonjakan harga minyak terjadi di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat disebut melakukan serangan balasan dengan menenggelamkan lima kapal tanker Iran.
Situasi semakin mengkhawatirkan setelah kelompok Houthi di Yaman memperkuat aktivitasnya di sekitar jalur Bab el-Mandeb. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi menambah hambatan terhadap distribusi minyak dunia setelah risiko yang muncul di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar memasukkan premi risiko yang lebih tinggi ke dalam harga minyak mentah.
Selain sentimen geopolitik, pasar juga mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat. Data Producer Price Index atau PPI AS pada Agustus tercatat naik 0,4 persen secara bulanan, meningkat dibandingkan kenaikan 0,1 persen pada Juli.
Sementara itu, inflasi produsen secara tahunan naik menjadi 5,4 persen, sedikit di atas perkiraan pasar sebesar 5,3 persen. Data tersebut membuat peluang kebijakan suku bunga tinggi The Fed masih menjadi perhatian pasar.
Pelaku pasar kini menunggu rilis Indeks Harga Konsumen atau IHK AS yang dijadwalkan keluar pada Jumat malam pukul 19.30 WIB. IHK Agustus diperkirakan naik 0,4 persen secara bulanan dari sebelumnya 0,1 persen, sedangkan inflasi tahunan diproyeksikan stabil di level 3,4 persen.
Adapun untuk sepekan ke depan, rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.850 per dolar AS.