BGN Larang Susu Kental Manis di Menu MBG, Dokter Ungkap Bahaya SKM untuk Anak
Wahyu Aji September 11, 2026 05:35 PM

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA -- Badan Gizi Nasional (BGN) resmi melarang penggunaan susu kental manis (SKM) maupun produk sejenis dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan makanan dan minuman yang diberikan kepada penerima manfaat memenuhi kebutuhan gizi, khususnya anak-anak, serta tidak menimbulkan risiko akibat konsumsi gula berlebihan.

Larangan itu diputuskan dalam rapat koordinasi BGN bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait, yakni Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta asosiasi industri dan koperasi susu.

Melalui akun Instagram resminya, BGN menegaskan, produk berbahan SKM dengan kandungan gula tinggi tidak diperbolehkan sebagai minuman dalam menu MBG.

“BGN secara tegas melarang penggunaan produk minuman susu, minuman mengandung susu, minuman rasa susu, maupun susu kental manis dalam menu MBG,” demikian pernyataan resmi BGN.

Secara teknis, kental manis tidak sama dengan susu yang dikonsumsi sebagai sumber pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Kental manis dibuat dengan mengurangi sebagian kandungan air dari campuran susu dan kemudian menambahkan gula dalam jumlah tertentu.

BPOM juga mengatur bahwa kental manis digunakan sebagai topping, pelengkap, atau bahan baku dalam olahan makanan dan minuman, bukan sebagai minuman yang menjadi sumber gizi tunggal bagi anak.

Dari sisi medis, Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Qolbu Insan Mulia Batang, dr. Osa Endiputra, M.Sc., Sp.G.K., AIFO-K, menegaskan bahwa kental manis bukanlah pengganti susu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.

Hal ini dikarenakan, kandungan gula dalam kental manis jauh lebih dominan dibandingkan zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

“Susu kental manis itu bukan susu. Hati-hati, susu kental manis itu bukan susu, itu gula. Gula bentuknya cair kental,” ujar dr. Osa dikutip di Jakarta, Jumat (11/9).

Ia menjelaskan, konsumsi minuman dengan kandungan gula tinggi secara rutin dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan pada anak.

Di antaranya kelebihan berat badan, obesitas, hingga kerusakan gigi.

Bahkan dalam jangka panjang, pola konsumsi tinggi gula juga dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit tidak menular ketika anak tumbuh dewasa.

Selain dampak terhadap kesehatan fisik, konsumsi kental manis rutin juga berisiko membentuk kebiasaan anak menyukai makanan dan minuman dengan rasa yang terlalu manis.

Kebiasaan tersebut dapat membuat anak lebih sulit menerima makanan atau minuman sehat yang memiliki rasa alami dan tidak terlalu manis.

Akibatnya, pola makan anak berpotensi menjadi kurang beragam. Anak bisa lebih memilih makanan atau minuman manis dibandingkan sumber makanan yang kaya protein, vitamin, mineral, dan zat gizi penting lainnya.

Anak yang mengonsumsi minuman tinggi gula dapat merasa kenyang karena mendapatkan asupan kalori, tetapi belum tentu memperoleh zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh dan berkembang.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena anak membutuhkan asupan protein, vitamin, mineral, serta berbagai zat gizi lain secara seimbang.

Jika rasa kenyang lebih banyak diperoleh dari makanan atau minuman tinggi gula tetapi rendah zat gizi, anak berisiko kehilangan kesempatan untuk mendapatkan asupan bergizi dari makanan lainnya.

Baca juga: Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Khawatirkan Kebijakan SKM Picu PHK

Dengan kebijakan tersebut, menu MBG diharapkan tidak hanya membuat anak kenyang, tetapi juga memberikan zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan mereka.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.