Waspada Asap Karhutla, Lapas Curup Pantau Kesehatan WBP Cegah ISPA
Hendrik Budiman September 11, 2026 05:54 PM

 

Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Curup meningkatkan langkah pencegahan gangguan pernapasan terhadap warga binaan pemasyarakatan (WBP) di tengah musim kemarau dan meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kualitas udara di sejumlah wilayah Kabupaten Rejang Lebong yang tercampur asap.

Situasi ini menjadi perhatian karena paparan asap dapat memicu gangguan pada saluran pernapasan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rejang Lebong sebelumnya mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih cukup tinggi selama Agustus 2026.

Kalapas Curup, Untung Cahyo Sidharto, mengatakan pihaknya memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan WBP karena mereka tinggal bersama dalam lingkungan lapas.

Salah satu langkah pencegahan yang dilakukan yakni menyediakan serta mengimbau WBP menggunakan masker, terutama ketika kondisi udara di sekitar lapas tercampur asap.

"Untuk mencegah gangguan pernapasan, kami mengantisipasi dengan penggunaan masker bagi warga binaan. Apalagi sekarang kondisi kemarau dan ada banyak karhutla yang menyebabkan udara tercampur asap," kata Untung kepada TribunBengkulu.com, Jumat (11/9/2026).

WBP Dipantau Jika Muncul Gejala Gangguan Pernapasan

Untung mengatakan, hingga saat ini belum ada WBP di Lapas Curup yang mengalami gangguan pernapasan dalam kondisi parah.

Meski demikian, beberapa WBP sempat mengalami keluhan ringan seperti batuk dan pilek. Keluhan tersebut, menurut Untung, masih berkaitan dengan kondisi pergantian cuaca.

"Sejauh ini belum ada yang mengalami sakit gangguan pernapasan yang parah. Ada beberapa yang batuk dan pilek, tetapi itu karena kondisi pergantian cuaca," ungkapnya.

Baca juga: Kronologi Istri di Rejang Lebong Gerebek Suami Diduga Bersama Janda di Dalam Kamar

Menurutnya, kondisi lapas yang dihuni banyak WBP membuat pencegahan dan pemantauan kesehatan harus dilakukan secara berkelanjutan.

Petugas juga melakukan pemantauan untuk mendeteksi lebih awal apabila terdapat WBP yang menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan sistem pernapasan.

"Karena kondisi di lapas cukup banyak warga binaan, kalau ada indikasi WBP mengalami penyakit pernapasan, segera kami tangani," jelasnya.

Lapas Curup Berkoordinasi dengan Dinkes

Selain melakukan pencegahan secara internal, Lapas Curup juga berkoordinasi dengan Dinkes Kabupaten Rejang Lebong dalam penanganan dan pemantauan kesehatan WBP.

Koordinasi tersebut menjadi langkah antisipasi apabila terdapat WBP yang mengalami gejala gangguan pernapasan dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Untung menegaskan, kondisi udara yang terdampak asap karhutla menjadi perhatian pihak lapas mengingat WBP tinggal secara bersama dalam satu lingkungan.

"Untuk penanganannya kami juga menggandeng Dinas Kesehatan," katanya.

1.326 Kasus ISPA Tercatat Selama Agustus

Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Rejang Lebong, tercatat 1.326 kasus ISPA sepanjang Agustus 2026.

Kasus tersebut terdiri atas 247 kasus pada balita, 223 kasus anak-anak, 193 kasus remaja, 515 kasus dewasa, dan 148 kasus lansia.

Kelompok dewasa menjadi kelompok dengan jumlah kasus ISPA terbanyak, yakni mencapai 515 kasus.

Dinkes Rejang Lebong memperkirakan kasus ISPA pada September 2026 masih berpotensi tinggi seiring kondisi musim kemarau dan perubahan kualitas udara di sejumlah wilayah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan. Penggunaan masker, menjaga kualitas udara di lingkungan hunian, serta pemantauan kondisi kesehatan menjadi bagian dari langkah pencegahan, terutama bagi warga yang tinggal dalam lingkungan dengan kepadatan tinggi.
 
 
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.