Beasiswa Pemuda Tangguh 2026, Sebanyak 1.214 Mahasiswa Surabaya Lolos Seleksi
Titis Jati Permata September 11, 2026 06:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Ribuan mahasiswa Surabaya harus melewati proses seleksi untuk mendapatkan Beasiswa Pemuda Tangguh.

Pada seleksi terbaru semester gasal 2026, sebanyak 1.214 mahasiswa dinyatakan lolos sebagai penerima manfaat dari total 5.183 pendaftar.

Para penerima merupakan warga Kota Surabaya, Jawa Timur, yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar Kota Surabaya.

Beasiswa ini menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.

Penerima Berasal dari Keluarga Miskin hingga Pramiskin

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Herry Purwadi, mengatakan calon penerima harus memenuhi sejumlah persyaratan.

Salah satunya berasal dari keluarga miskin atau pramiskin yang tercatat dalam data Pemerintah Kota Surabaya, maupun masuk desil 1 hingga desil 5.

"Calon penerima masuk dalam data keluarga miskin atau pramiskin Pemerintah Kota Surabaya atau berada pada desil 1 hingga desil 5. Salah satu kriteria tersebut sudah cukup untuk mengajukan bantuan pendidikan," kata Herry di Surabaya, Jumat (11/9/2026).

Selain kondisi ekonomi, penerima juga wajib memenuhi ketentuan akademik. Mahasiswa harus memiliki IPK minimal 3,00.

Khusus mahasiswa perguruan tinggi swasta, batas minimal IPK pada semester pertama dan kedua adalah 2,50. Mulai semester ketiga, mahasiswa wajib memiliki IPK minimal 3,00.

Dapat Uang Kuliah hingga Rp 2,5 Juta per Semester

Setelah dinyatakan lolos, setiap penerima memperoleh bantuan biaya kuliah maksimal Rp2,5 juta per semester.

Mereka juga mendapat uang saku Rp300 ribu per bulan dengan maksimal pemberian selama 10 bulan dalam satu tahun.

Proses daftar ulang penerima telah berlangsung di Gelanggang Remaja Surabaya pada 8-10 September 2026.

Bantuan diberikan untuk mahasiswa jenjang D1, D2, D3, D4 hingga S1.

Besaran bantuan biaya kuliah disesuaikan dengan nominal Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Jika UKT lebih tinggi dari bantuan maksimal, selisihnya menjadi tanggungan mahasiswa.

Sebaliknya, jika UKT lebih rendah, bantuan diberikan sesuai nominal UKT.

Khusus mahasiswa Universitas Terbuka (UT), penerima bantuan dapat berasal dari semester berbeda karena sistem perkuliahan kampus tersebut membuka penerimaan mahasiswa setiap semester.

Satu KK Maksimal Satu Penerima

Program Beasiswa Pemuda Tangguh juga menerapkan konsep Satu KK Satu Sarjana.

Artinya, dalam satu Kartu Keluarga maksimal hanya terdapat satu penerima bantuan.

Calon penerima juga harus ber-KTP Surabaya, belum pernah menikah, dan berkuliah di perguruan tinggi yang telah bekerja sama dengan Pemkot Surabaya.

Penerima tidak boleh berstatus sebagai PNS, PPPK penuh waktu, anggota TNI atau Polri. Mereka juga tidak boleh merupakan keluarga inti dari pihak yang masuk kategori tersebut.

Pemkot Surabaya Gandeng Sekitar 70 Kampus

Untuk memperluas akses program, Pemkot Surabaya telah menjalin kerja sama dengan sekitar 70 perguruan tinggi.

Jumlah tersebut terdiri dari 55 perguruan tinggi swasta di Kota Surabaya, Jawa Timur, dan 15 perguruan tinggi negeri yang tersebar di Kota Surabaya maupun berbagai daerah di Indonesia.

Sejumlah perguruan tinggi negeri di luar Surabaya yang telah bekerja sama antara lain Universitas Trunojoyo Madura di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Universitas Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur, Politeknik Negeri Madiun di Kota Madiun, Jawa Timur, Universitas Sebelas Maret di Kota Surakarta, Jawa Tengah, Poltekkes Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Institut Teknologi Bandung di Kota Bandung, Jawa Barat.

Penerima Tak Hanya Dituntut Kuliah

Pemkot Surabaya tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan.

Para penerima juga didorong aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Herry mengatakan mahasiswa penerima beasiswa dapat dilibatkan dalam kegiatan seperti donor darah, Sinau Bareng, Kampung Pancasila, maupun berbagai kegiatan yang digelar Pemkot Surabaya.

"Mereka juga kami dorong untuk aktif dalam kegiatan sosial. Sebagian penerima juga aktif di Karang Taruna maupun organisasi kampus. Harapannya, setelah menyelesaikan pendidikan, mereka bisa memberikan kontribusi kembali untuk masyarakat dan Kota Surabaya," ujarnya.

Aktivitas mahasiswa dipantau melalui pendamping di masing-masing perguruan tinggi. Kehadiran dalam kegiatan yang menjadi bagian dari kewajiban penerima juga dicatat dan dievaluasi.

IPK Turun Bisa Berujung Pencabutan Beasiswa

Pemkot Surabaya juga menerapkan mekanisme sanksi bagi penerima yang melanggar ketentuan.

Mengacu pada Perwali Nomor 33 Tahun 2026, bantuan dapat dihentikan apabila penerima terbukti memberikan dokumen atau keterangan yang tidak benar, mengundurkan diri, maupun melakukan pelanggaran lain yang telah diatur.

Untuk persoalan akademik, mahasiswa yang tidak memenuhi batas IPK akan mendapatkan satu kali peringatan. Jika kembali tidak memenuhi ketentuan, bantuan dapat dicabut.

"Bagi penerima yang terbukti memberikan dokumen atau keterangan tidak benar, mengundurkan diri, maupun melakukan pelanggaran tertentu yang diatur dalam peraturan, selain penghentian bantuan juga dapat dikenai kewajiban mengembalikan bantuan yang telah diterima," kata Herry.

Anggaran Beasiswa 2026 Turun

Beasiswa Pemuda Tangguh merupakan program tahunan Pemkot Surabaya yang telah berjalan selama beberapa tahun.

Pada 2025, program tersebut menjangkau 16.801 siswa SMA/MA/SMK dan 5.874 mahasiswa.

Untuk 2026, Pemkot Surabaya kembali mengalokasikan anggaran melalui APBD. Namun, anggaran yang semula diproyeksikan mencapai Rp190,56 miliar berubah menjadi Rp114 miliar dalam APBD Perubahan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan perubahan tersebut berkaitan dengan hasil pendataan penerima yang memenuhi persyaratan.

Menurutnya, pada awalnya Pemkot Surabaya menganggarkan beasiswa untuk 24.000 penerima.

Setelah dilakukan pendataan dan verifikasi, jumlah penerima yang memenuhi ketentuan hanya sekitar 13.000 orang.

"Karena ketika beasiswa itu kita anggarkan 24.000, ternyata yang terangnya ada sekitar 13.000, maka anggaran yang lainnya kita manfaatkan kembali untuk pendidikan, bidang yang sama tapi tidak dalam hal untuk beasiswa," ujar Eri.

Eri menegaskan pengurangan anggaran beasiswa bukan berarti Pemkot Surabaya mengurangi perhatian terhadap sektor pendidikan.

Dana yang tidak terserap untuk beasiswa akan dialihkan untuk kebutuhan pendidikan lainnya.

"Karena apa? Kita dan DPRD dan Pemerintah Kota itu fokus untuk yang memang tidak mampu," kata Eri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.