TRIBUNNEWS.COM - Tanggul saluran irigasi di Kampung Bojongloa Pojok, Desa Kutawaringin, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar) jebol pada Rabu (9/9/2026) pagi.
Kampung Bojongloa ini terletak sekitar 4 kilometer dari Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.
Tanggul irigasi yang lokasinya berada di atas permukiman warga ini jebol sekira 30 meter.
Puluhan rumah warga yang berada di bawahnya terdampak dan merusak dua rumah bangunan milik warga.
Warga yang terdampak pun mendapatkan bantuan dana untuk menyewa kontrakan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung.
Bupati Bandung, Dadang Supriatna mengatakan bahwa bantuan tersebut diberikan supaya warga terdampak untuk sementara bisa tinggal di tempat yang lebih aman sambil menunggu penanganan dan perbaikan tanggul.
Ada lima dari 10 rumah terdampak yang diprioritaskan untuk mendapatkan bantuan sewa kontrakan.
"Untuk 5 rumah yang terkena dampak, itu akan kami berikan untuk sewa kontrakannya selama 3 bulan,"
"Kami berikan supaya mengontrak terlebih dulu ke tempat aman, agar jangan sampai ada kejadian susulan ke depannya," ujarnya kepada awak media pada Kamis (10/9/2026).
Mengutip TribunJabar.id, lima rumah tersebut merupakan rumah milik warga yang sangat rawan terkena kejadian susulan, terutama setelah hujan mengguyur.
Selain itu, Pemkab Bandung juga bakal melakukan perbaikan terhadap rumah warga yang terdampak melalui Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Baca juga: Tanggul Jebol usai Diguyur Hujan di Bandung, Camat: Diduga Retak saat Kemarau
"Ada 10 unit rumah yang memang rumahnya kerusakan dan harus diperbaiki, sehingga tadi sudah ada pembagian,"
"2 unit rumah ini diperbaiki melalui Baznas Kabupaten Bandung, dan 8 unit oleh kami,"
"InsyaAllah secepatnya, nanti kami koordinasi secara teknis," katanya.
Untuk perbaikan tanggul, pihaknya saat ini telah mengirim surat ke kementerian terkait supaya dibantu proses perbaikannya.
"Nanti polanya Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) tetap memasukkan data melalui program Sipuri dan dengan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sungai Citarum dan Kementerian Pertanian serta Kementerian PU, yang tentunya kami selalu berjuang," ucapnya.
Sebagai langkah penanganan sementara, tanggul yang jebol mulai ditutupi geobag untuk membendung air supaya tidak masuk ke perumahan warga.
"Sementara, kami bersama masyarakat RW 17 sekitarnya bergotong-royong untuk sementara menutup bagian yang longsornya itu, supaya mengantisipasi air datang kembali," ujar Kepala Desa Kutawaringin, Dede Darmawan.
Mengutip TribunJabar.id, Camat Kutawaringin, Mamet Slamet menuturkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat karena tanggul yang jebol tersebut berada di bawah kewenangan Pemprov Jabar.
"Dinas SDA Jawa Barat. Tadi sudah datang langsung melakukan asesmen untuk penanganan selanjutnya. Itu rencananya akan dipasang bronjong dulu, nanti akan kemudian menerjunkan alat berat untuk penanganan irigasi itu," katanya, dikutip dari TribunJabar.id.
Mamet Slamet juga mengatakan, jebolnya tanggul tersebut terjadi setelah terjadi hujan pada Selasa (8/9/2026) malam.
Ia menduga, kondisi tanggul sudah retak-retak akibat kemarau dan makin rusak setelah terkena hujan.
"Awalnya, mungkin karena hujan deras, semalam. Karena kemarau panjang, mungkin ada retakan-retakan, akhirnya jebol irigasi itu, sekitar pukul 03.00-04.00 WIB dini hari," ujarnya kepada Tribun Jabar, Rabu (9/9/2026).
Setidaknya ada 10 rumah warga yang terdampak dalam kejadian ini.
Sementara dua rumah mengalami rusak ringan dan rusak sedang.
Beruntung, tak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun ada 20 warga, termasuk Mamet yang terdampak longsoran.
"Sedangkan sisa lainnya hanya terdampak dari air irigasi yang masuk ke dalam rumah,"
"Jumlah jiwa terdampak ada 20, termasuk yang rumahnya rusak berat. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa," katanya.
Sebagai Pak Camat, Mamet juga mengimbau warganya untuk selalu berhati-hati, terlebih yang tinggal di lereng karena musim hujan sudah mulai datang.
"Kami mengimbau khusus warga untuk menjaga keamanan, terutama pada saat menginjak musim hujan dari musim kemarau. Memang sering terjadi longsoran terutama di selokan atau di sungai-sungai," ucapnya.
(Tribunnews.com, Muhammad Renald Shiftanto)(TribunJabar.id, Adi Ramadhan Pratama)