Pemkab Pringsewu Gelar Salat Istisqa, Bupati Riyanto Ajak Perbanyak Istiqfar dan Taubat
Reny Fitriani September 11, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Pringsewu - Pemerintah Kabupaten Pringsewu, Lampung, menggelar salat Istisqa di lapangan pemkab setempat, Jumat (11/9/2026).

Baca Juga: Antrean Kendaraan di SPBU Wates Gadingrejo Terjadi pada Jam Sibuk, Didominasi Roda Empat

Salat sunah tersebut digelar sebagai ikhtiar dan doa bersama untuk memohon turunnya hujan.

Salat Istisqa dipimpin KH Sujadi Saddat sebagai imam.

Sementara Bupati Pringsewu H Riyanto Pamungkas bertindak sebagai khatib.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Pringsewu Umi Laila bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Pringsewu.

Hadir pula anggota DPRD Provinsi Lampung Syukron Muchtar, Ketua DPRD Pringsewu Suherman beserta anggota DPRD, Kapolres Pringsewu AKBP Dadi Perdana Putra, Wakapolres Pringsewu Kompol Samsuri, Dandim 0424, Kejari Pringsewu, Kepala Kantor Kementerian Agama Pringsewu Khuzil Afwa Kahuripan, serta jajaran instansi vertikal.

Sejumlah tokoh agama dan masyarakat juga mengikuti salat tersebut, di antaranya Ketua MUI Pringsewu KH Hambali.

Ratusan jamaah turut hadir dalam kegiatan yang dilaksanakan di tengah kondisi kekeringan tersebut.

Dalam khotbahnya, Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas mengatakan, pelaksanaan salat Istisqa menjadi momentum untuk menyadari keterbatasan manusia dan memohon rahmat Allah SWT.

“Kita datang melaksanakan salat Istisqa ini bukan karena kita memiliki kekuatan, tetapi justru karena menyadari betapa lemahnya diri kita. Kita mengangkat tangan ke langit, bukan karena langit membutuhkan doa kita, tetapi karena kita yang membutuhkan rahmat Allah,” kata Riyanto.

Dia menggambarkan kondisi kekeringan yang dirasakan masyarakat, mulai dari tanah yang kering, tanaman yang layu, sungai yang menyusut hingga sumur yang semakin dangkal.

Namun, menurutnya, kondisi tersebut juga menjadi pengingat agar manusia tidak hanya memikirkan kekeringan secara fisik, tetapi juga memperbaiki kehidupan spiritual.

“Hari ini kita memandang langit yang sunyi, tanah yang kering, tanaman yang layu, sungai yang menyusut, dan sumur yang semakin dangkal. Kita menunggu tetesan air dari langit. Namun marilah kita bertanya kepada diri sendiri jangan-jangan yang kering bukan hanya tanah kita, tetapi juga hati kita,” ujarnya.

Riyanto melanjutkan, yang perlu disirami bukan hanya sawah dan kebun, tetapi juga iman, taubat, dan amal saleh.

Menurut dia, kondisi kehidupan yang terasa sempit dan bumi yang kehilangan kesuburan menjadi momentum untuk kembali mengetuk pintu ampunan Allah melalui istighfar dan taubat.

“Allah seolah-olah mengajarkan kepada kita bahwa ketika kehidupan terasa sempit, ketika langit seakan menutup pintunya, ketika bumi kehilangan kesuburannya, maka salah satu pintu pertama yang harus kita ketuk adalah pintu istighfar dan taubat,” katanya.

Dia mengingatkan agar masyarakat tidak hanya berharap turunnya hujan, tetapi juga melakukan introspeksi dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

“Mungkin selama ini kita terlalu sibuk meminta hujan, tetapi lupa meminta ampun, sibuk menunggu awan, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah,” ujarnya.

Di akhir khotbah, Riyanto mengajak masyarakat menjadikan salat Istisqa sebagai momentum memperbaiki diri dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

“Marilah kita pulang dari tempat ini dengan satu tekad setelah meminta hujan kepada Allah, mari kita menjadi manusia yang pantas menerima rahmat-Nya. Mari kita hidupkan kembali masjid, kita perbanyak sedekah, kita tinggalkan maksiat, kita jaga lisan, hormati orang tua, sayangi anak-anak yatim dan bantu orang miskin, kita berdamai dengan saudara dan perbanyak istighfar,” ajaknya.

Riyanto berharap masyarakat terus mengetuk pintu Allah dengan hati yang tunduk dan memperbanyak istighfar sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi kekeringan.

(Tribunlampung.co.id/Okyindrajaya) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.