Rawa Pening, dari Dulu Kala Memang Selalu Bikin Orang Pening
Moh. Habib Asyhad September 11, 2026 06:34 PM

Rawa Pening, dari dulu kala, khususnya sejak zaman Belanda, memang sudah bikin pening. Terutama karena eceng gondok yang menutupi permukaannya.

Penulis: Slamet Suseno | tayang di Majalah Intisari edisi Mei 1969 dengan judul "Rawa Jang Bikin Pening"

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Bahwa Rawa Pening di sebelah selatan kota Semarang betul-betul bikin pening. Mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orang yang pertama kali memberi nama “pening” kepadanya dulu.

Genangan air yang sekarang disebut “rawa” itu dulunya adalah hutan belantara dataran tinggi yang letaknya 450 meter di atas muka laut. Karena letusan Gunung Ungaran, Telomoyo, dan Merbabu, terbentuklah sebuah kom (seperti baskom) yang kemudian tergenang air.

Pohon-pohon bekas hutan mati tenggelam semua, tentunya. Tapi sayang, proses pembongkaran kayu-kayunya tidak dapat berjalan dengan sempurna, sehingga timbul tanah-tanah sepuh (veen) di dasar danau tadi, sebagai hasilnya.

Bahwa di daerah tropika kita dapat terbentuk veen mula-mula tidak begitu dipercaya oleh para ahli tanah zaman Belanda dulu. Tapi setelah semakin banyak penduduk rawa itu yang mengambil turi-turi dari bagian-bagian tanah yang mengering di tepian, untuk kemudian dijual kepada orang-orang Belanda di Semarang, maka ketidakpercayaan terpaksa dibuang.

Orang-orang Belanda waktu itu lebih senang menggunakan turf tadi sebagai bahan bakar untuk masak-memasak, daripada arang kayu (waktu belum ada seorang cerdik yang menemukan kompor minyak atau kompor atau kompor listrik seperti sekarang ini).

Karena daerah tepian danau tadi ditumbuhi tanaman-tanaman air yang berkembang biak pesat sekali, maka danau itu dalam beberapa puluh tahun saja begitu dangkal. Dan kemudian berubah menjadi rawa.

Air yang menggenanginya sebagaian besar berasal dari sungai-sungai gunung Telomoyo yang jernih airnya. Tapi di samping itu juga ada sumber-sumber di dasar rawa itu sendiri, yang turut menyuplai air.

Dan sumber-sumber ini pun bening airnya, sehingga pada suatu saat dalam sejarah ada seorang kepala kampung yang mendirikan perkampungan di dekat rawa itu yang menyebutnya dengan suara bindeng (mungkin sedang pilek atau masuk angin): rawa bening.

Oleh petugas-petugas kerajaan Demak dilaporkan sebagai rawa pening, karena salah dengar.

Lahirnya pulau terapung

Orang yang pertama kali menceritakan Rawa Pening secara hidrologis adalah Junghuhn.

Katanya, pada tanggal 4 malam 5 Februari 1885, di tengah-tengah rawa itu ada pulau baru yang terbentuk begitu saja dalam satu malam. Seperti sulapan dalam cerita seribu satu malam.

Setelah diteliti dengan seksama, ternyata duduknya perkara sebagai bentuk gas metana banyak sekali sebagai hasil proses pembongkaran tak sempurna dari sisa-sisa pohon bekas hutan belantara dulu itu. Gas-gas yang menyembul keluar ini mendesak lapisan tanah teratas yang plastis dari dasar rawa itu sampai di sana sini timbul gundukan-gundukan tanah yang melembung.

Inilah yang kemudian bisa terlepas dan muncul bersama-sama rerumputan di permukaan air, sebagai pulau baru. Kalau terbentuknya di daerah tepian, mungkin tidak menjadi soal. Tapi ini di tengah-tengah rawa!

Dan kalau yang timbul itu cuma satu, barangkali juga tidak bikin heboh. Ini banyak. Dan semuanya mengapung. Pulau-pulau yang banyak dan mengapung inilah yang mulai bikin pening para petugas irigasi yang mengurus rawa itu!

Pulau-pulau bengok

Peningnya kepala-kepala makin meningkat setelah Kebun Raya Bogor mendatangkan sejenis tanaman hias, Eichhorniacrassipes dari Brasil pada 1894. Tapi maksudnya semula tidak untuk bikin pening.

Tanaman itu hendak dipelajari sebagai objek studi yang menarik hati, karena di Indonesia tidak dapat membentuk biji. Bunganya minta diserbuki tepung sari dengan perantaraan sejenis serangga tertentu yang sayang hanya ada di Amerika Selatan, sedang di Indonesia tidak ada.

Selesai diselidiki segala-galanya sisa-sisa tanaman yang tak terpakai itu dibuang ke Kali Ciliwung yang mengalir di tengah-tengah Kebun Raya Bogor.

Tak disangka-sangka, sisa buangan ini terus mengalir ke Jakarta, sambil berkembang biak secara vegetatif, dengan membentuk anakan-anakan pesat sekali. Sampai dalam tempo beberapa bulan saja, pelabuhan Pasar Ikan sudah ramai tertutup eceng gondok, demikian namanya di Jawa Barat.

Dari Jakarta, tanaman itu kemudian tersebar ke seluruh pelosok tanah air, karena sengaja dibawa-bawa para penggemar akuarium yang terpikat keindahan bunganya. Tapi sebagaimana halnya dengan semua perhiasan, tanaman ini pun setelah dinikmati beberapa saat, akhirnya dibuang juga (kalau sudah bosan). Ke mana lagi kalau tidak ke selokan.

Di antaranya juga ada yang masuk ke Rawa Pening melalui salah satu sungai pegunungan yang lewat kota Ambarawa. Seorang penggemar akuarium tahun 1900-an di kota inilah yang didakwa menyebarkan Bengok (Eichhornia) tadi ke Rawa Pening – begitu namanya di Jawa Tengah.

Di rawa ini, bengok-bengok sungguh senang hidupnya, karena menemukan bahan organik yang berlimpah-limpah seakan-akan menerima pupuk yang subur. Dalam tempo pendek pula terbentuk pulau bengok-bengok karena anakan yang tumbuh di sekitar induknya tidak melepaskan diri, tapi turut beramai-ramai membentuk koloni baru.

Dan karena daunnya yang berbentuk centong mencuat ke atas permukaan air itu bisa tertiup angin seperti layar terkembang menyeret seluruh tubuh bagian bawahnya, maka pulau-pulau bengok itu pun lantas berpisah-pisah dihembus angin seperti perahu layar saja.

Sejak itu bengok ini turut menambah pusing para petugas yang mengurus rawa. Kalau semula mereka hanya repot membersihkan pulau-pulau rumput (Phragmites), kini terpaksa berhadapan dengan pulau-pulau bengok pula.

Gerakan pembersihan dengan gergaji

Pada 1931, keadaan rawa itu sudah gawat, sampai yang berair hanya tinggal separuhnya saja. Dan sejak itu pula, pemerintah Belanda terpaksa menyediakan 2000 gulden tiap tahun untuk upah para pekerja yang dikerahkan membersihkan bengok-bengok dengan tangan.

Namun demikian, Departemen Pekerjaan Umum waktu itu sudah pesimistis sekali dan meramalkan dengan nada defiant bahwa usaha pembersihkan secara itu percuma saja. Dalam tempo 35 tahun rawa ini pasti sudah kering.

Pembesar-pembesar Perikanan Darat yang mendengar ramalan itu benar-benar panik, dan turut mengerahkan segala funds and forces untuk menyelamatkan kehidupan para nelayan yang pasti akan mati kutu kalau rawa itu kering.

Selama enam tahun berturut-turut (antara 1932 dan 1939) mereka membersihkan bengok-bengok tadi tanpa menghitung biaya lagi. Seluruh perasi telah menelan 88.130 gulden.

Pulau-pulau bengok tadi dikumpulkan menjadi satu pulau yang besar dulu. Habis itu dihanyutkan ke hilir supaya hilang ke laut melalui Sungai Tuntang.

Bengok-bengok yang degil menancapkan akar-akarnya di tepian didongkel seakar-akarnya, untuk kemudian dibakar habis setelah dikeringkan.

Tapi yang lebih bikin pening adalah pulau-pulau campuran bengok dan rumput-rumputan Phragmites. Digiring ke laut tidak mungkin, didongkel-dongkel juga mustahil.

Satu-satunya jalan adalah menggergaji saja. Dan sungguh bukan pekerjaan yang menyenangkan kalau kita mesti menggergaji tanah yang membut-membut tidak stabil, yang sewaktu-waktu bisa buyar hingga kita kehilangan tempat berpijak.

Itu pun rupanya belum cukup bikin pening!

Gas-gas metana yang kemudian membludak timbul di tempat-tempat terbuka yang sudah bersih, menyebabkan permukaan rawa itu bergolak sampai nampak seperti air mendidih.

Ini benar-benar bikin pening (dalam arti yang sebenar-benarnya), sampai para pekerja yang bersangkutan banyak yang siuman. Dan mereka semakin percaya adanya setan-setan dan jin peri prayangan yang merasa tidak senang tempat tinggal diobrak-abrik.

Situasi pada 1940 sudah agak menggembirakan, sebetulnya, karena volume air sudah pulih seperti situasi sebelum tahun 1930, sedang sebagai lingkungan hidup bagi ikan-ikan, air itu sudah mulai bagus, dengan tumbuhnya tanaman-tanaman ganggang rantai (Hydrilla) dan ganggang brendel (Ceratophyllum).

Hasil penangkapan ikan naik, dari 6,5 ton setahun (1930) menjadi 200 ton setahun (1940).

Obat semprot 2,4-D

Kemudian ada perang Jepang. Selama pendudukan Jepang itu kita tidak mendengar apa-apa lagi tentang rawa itu.

Baru ada “berita” setelah para pembesar perikanan darat kita pada zaman RIS mau menggunakan sejenis herbisida yang mengandung 2,4-Dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) sebagai pemberantas bengok tadi.

Usahanya berhasil dengan gilang-gemilang. Dan semua orang memuji-muji 2,4-D ini.

Tapi sudah tentu, gerakan pembersihkan semacam itu hanya bisa awet hasilnya kalau follow up berupa pencegahan infeksi kembali oleh benih bengok baru tidak macet. Dan sebenarnya maintenance inilah yang lebih penting (walaupun tidak berat dan kolosal pekerjaannya), daripada operasi penyemprotan kalau semuanya sudah terlanjur hebat.

Karena di tahun-tahun kemudian tidak ada dana yang cukup guna penyelenggaraan penyemprotan, sedang obat 2,4-D itu sendiri juga tidak ada lagi, karena tidak ada importir yang bisa mengimpornya lagi (Kabarnya karena pemerintah waktu itu tidak punya devisa lagi).

Maka peningnya kepala-kepala lantas tidak terbatas pada kalangan perikanan darat dan jawatan irigasi saja, tapi menjalar ke kepala-kepala PLN yang menjalankan masing-masing turbin pembangkit tenaga listrik, yang menggunakan air dari Rawa Pening tadi.

Sebab, setelah mesin-mesin itu sering macet karena ada bengok masuk turbin, sampai sering bengok-bengok: “Ada bengok masuk turbin”. Mereka menjadi sasaran ejekan masyarakat yang merasa kurang senang lampunya sering byar pet byar pet.

Semprotan Orde Baru

Baru setelah hubungan dengan negara-negara penghasil 2,4-D dan lain-lain herbisida yang sejenis dipulihkan kembali (di zaman Orde Baru sesudah 1967) perjuangan melawan bengok tadi dimulai lagi. Kini dengan cara-cara modern.

Tidak lagi dengan diambili tangan satu per satu seperti dulu. Dan juga tidak dengan semprotan punggung saja, tapi dibantu pula dengan pesawat terbang semprot (ataukah semprotan pesawat terbat istilahnya?)

Cuma sayang, pulau-pulau terapungnya kadang-kadang masih terpaksa harus digergaji karena vegetasinya berupa rumput-rumput gelagah (Phragmites) tidak mempan disemprot 2,4-D dengan konsentrasi yang dimaksudkan untuk bengok.

Pernah didatangkan weed cutter yang di negeri asalnya memang bisa memotong rerumputan dalam air, tapi terhadap pulau-pulau terapungnya Rawa Pening tidak menggembirakan hasilnya.

Kalau masalah bengok sudah tidak ada persoalan lagi, masalah timbulnya pulau-pulau terapung (kalau gas metana sudah membludak) inilah yang masih tetap merupakan persoalan abadi yang setiap saat bisa timbul. Dan naga-naganya Rawa Pening itu masih tetap akan abadi juga bikin pening terus sepanjang masa.

Rawa Pening benar-benar bikin pening!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.