TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, telah melakukan pengecekan terhadap sekolah yang mengalami kejadian diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Patalan 2, Kapanewon Jetis.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji, menyampaikan, sempat mengunjungi salah satu korban di rumah sakit dan melakukan komunikasi dengan keluarga dari korban yang diduga mengalami keracunan MBG.
"Alhamdulillah perkembangan siswa yang sempat dirawat di rumah sakit bagus. Informasi dari nenek siswa itu, sore kemarin (Kamis (10/9/2026) sore) sudah boleh pulang," katanya, saat dihubungi Tribunjogja.com, Jumat (11/9/2026).
Dalam kunjungan kepada korban, Hermawan bertemu dengan embah dan ibu dari korban.
Lebih lanjut, Hermawan, juga sempat melakukan profiling siswa di SD Negeri 1 Sumberagung.
Hasilnya diketahui bahwa tidak sedikit anak yang tinggal bersama nenek/kakek dan lainnya dikarenakan satu dan lain hal.
Artinya, ada beberapa anak yang masih membutuhkan program MBG.
Maka dari itu, Hermawan menganjurkan agar sekolah melakukan pendataan mana saja siswa yang benar-benar membutuhkan MBG dan tidak membutuhkan MBG.
"Karena nek anak itu butuh (MBG) kan mesakke to, Mbak. Nah ini, sekolah lagi lakukan profiling mana saja kira-kira anak dan orang tua yang tidak membutuhkan program MBG siapa saja. Kemudian yang masih membutuhkan siapa saja," ujar Hermawan.
Setelah pemetaan data terbaru penerima manfaat MBG didapatkan, pihak penyuplai MBG atau SPPG tidak lagi berasal dari SPPG Patalan 2. Profiling tersebut akan dikomunikasikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk dilakukan tindak lanjut.
Sebab, usulan ini baru pertama kali dilakukan. Namun, jika disetujui BGN maka bisa jadi profiling ini dilebarkan ke sekolah lainnya.
Di sisi lain, Hermawan memaklumi jika sampai saat ini terdapat orang tua/wali murid yang mengalami rasa trauma dikarenakan anak diduga mengalami keracunan MBG. Rasa trauma ini perlu dihargai.
"Perasaan dan sikap orang tua/wali murid ini kami hargai. Tetapi, yang anak-anak di rumah tidak ada nasi dan ikut tinggal sama embah atau saudara juga perlu dipikirkan," papar dia.
Sementara itu, dikonfirmasi secara terpisah, Kepala SD Negeri 1 Sumberagung, Parjiyatmi, turut menyampaikan bahwa anak yang diduga menjadi korban keracunan MBG sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit sejak kemarin sore.
"Yang opname sudah diperbolehkan pulang, kemarin sore. Kemudian, hari ini yang belum masuk sekolah ada empat anak termasuk yang baru pulang dari opname itu," ucap Parjiyatmi.
Di sisi lain, pihaknya menyampaikan bahwa akan mengajukan MBG khusus bagi siswa yang menghendaki atau membutuhkan program MBG. Saat ini, pihaknya tengah melakukan pendataan terhadap siswa tersebut.
Puluhan orang yang terdiri atas siswa dan guru tersebut telah mendapatkan pengobatan. Akan tetapi, proses pembelajaran sekolah sempat dilakukan dengan waktu fleksibel.
Itu dilakukan karena korban diduga keracunan yang sudah masuk sekolah ada yang belum begitu sehat, sehingga siswa diperkenankan pulang selepas Zuhur atau pukul 12.00 WIB.
Menu yang dibagikan kala itu berupa potato wedges, buah semangka, sayur buncis wortel, tempe garit, hingga bistik galantin. Sampai saat ini, penyebab diduga keracunan MBG masih belum diketahui.(nei)