Tim Penyelamat Akhirnya Masuk Kapal Feri Terbakar di Filipina, Puluhan Masih Hilang
Tiara Shelavie September 11, 2026 08:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Tim penyelamat Filipina akhirnya naik ke kapal feri MV June Aster yang hangus terbakar untuk mencari puluhan penumpang yang masih hilang, lebih dari 40 jam setelah kebakaran mematikan terjadi di kapal tersebut.

Lima orang telah dipastikan tewas, sementara 43 orang sejauh ini berhasil diselamatkan dan 84 lainnya masih hilang.

Kapal feri tersebut sedang dalam perjalanan dari ibu kota Manila menuju pulau wisata Coron di Provinsi Palawan ketika kebakaran terjadi pada Rabu malam.

Tim penyelamat sebelumnya tidak dapat memasuki kapal karena asap tebal dan suhu panas yang ekstrem. Sebelumnya, manifes penumpang mencatat kapal tersebut membawa 117 penumpang dan 17 awak ketika kebakaran terjadi.

Pada Jumat, Penjaga Pantai Filipina mengatakan dua orang yang sebelumnya tercatat hilang ternyata diketahui tidak naik ke kapal feri. Hal itu membuat jumlah orang yang masih hilang menjadi 84 orang, turun dari sebelumnya 86 orang.

Juru bicara Penjaga Pantai, Noemie Cayabyab, mengatakan kepada BBC, "Tantangan terbesar bagi kami adalah benar-benar memasuki kapal karena masih terlihat asap tebal."

Sebelumnya, dia mengatakan kepada wartawan, "Bagaimanapun kami mencoba menerobos masuk, suhu tinggi dan asap beracun tetap menjadi risiko serius bagi personel kami."

Baca juga: Feri Terbakar Dekat Destinasi Wisata Palawan Filipina, 5 Tewas dan 87 Hilang, Operasi SAR Berlanjut

Petugas akhirnya berhasil naik ke kapal sekitar pukul 11.30 waktu setempat pada Jumat.

Penjaga Pantai memperluas area pencarian dengan mengerahkan salah satu kapal terbesar mereka. Tim pencarian juga diperkuat oleh penyelam dan tenaga medis.

Wawancara awal terhadap para penyintas menunjukkan bahwa kebakaran diduga bermula dari ruang kargo, tempat kontainer dan barang-barang disimpan. Sejumlah penumpang juga dilaporkan tidak mengenakan jaket pelampung, menurut pihak berwenang.

Salah satu penyintas yang diidentifikasi News5 sebagai Arnulfo Nokki Villanueva mengatakan kepada media tersebut bahwa api dengan cepat menyebar. Dia kemudian terjatuh dan mengalami luka bakar di bagian punggung.

Villanueva mengatakan dirinya sempat berusaha mendapatkan jaket pelampung, tetapi tidak berhasil karena orang-orang berdesakan dan menginjaknya dalam kepanikan.

Dia akhirnya berhasil menyelamatkan diri dengan melompat keluar melalui jendela.

Richard Marceliano, salah satu penyintas lainnya, mengatakan kepada GMA News bahwa dia melihat sedikit asap yang kemudian dengan cepat berubah menjadi kebakaran besar dan menyebar ke seluruh kapal dalam hitungan detik. Dia mengatakan dirinya dan penumpang lainnya berada di laut selama hampir dua jam sebelum akhirnya diselamatkan.

Penyintas lainnya, Roland Lerma, juga menggambarkan kepanikan yang terjadi di dalam kapal yang terbakar. Pria berusia 30 tahun itu mengatakan kepada BBC bahwa ketika dirinya berada di lantai, orang-orang berdesakan dan menginjak tubuhnya.

Dia akhirnya melompat ke laut dan mengatakan melihat sejumlah anak melakukan hal yang sama.

"Air laut terasa dingin. Jika penyelamatan terlambat, saya pasti sudah meninggal," katanya.

Operator kapal, Atienza Interisland Ferries, mengatakan, "Hati dan pikiran kami tetap bersama keluarga yang terdampak, dan kami tidak akan berhenti sampai semua orang berhasil ditemukan dan dipastikan keberadaannya."

Otoritas maritim sedang menyelidiki penyebab kebakaran, termasuk kemungkinan ketidaksesuaian dalam manifes penumpang, pemuatan kargo, serta prosedur darurat yang diterapkan awak kapal.

Maritime Industry Authority, berdasarkan keterangan para penyintas, mengatakan terdengar dua ledakan berturut-turut dari dalam kapal sebelum kebakaran terjadi.

Penjaga Pantai mengatakan kapal feri tersebut memiliki kapasitas 330 orang dan membawa lima sepeda motor, sebuah kendaraan listrik, sebuah forklift, sebuah mobil pikap, serta sebagian besar barang kargo.

Sementara itu, di luar kantor Atienza Inter-Island Ferries di Manila, kerabat para penumpang yang masih hilang menunggu dengan cemas kabar mengenai orang-orang yang mereka cintai.

Evelyn Umpad, 64 tahun, mengatakan dirinya mendatangi kantor perusahaan setelah panggilan telepon berulang kali untuk mendapatkan informasi mengenai putra dan menantunya tidak mendapat jawaban. Pasangan tersebut sedang dalam perjalanan menuju Taytay, Palawan, untuk membeli tanah.

"Kami terus menelepon tetapi tidak ada yang menjawab. Mereka mencatat nomor saya dan mengatakan akan menelepon kembali, tetapi tidak ada yang menghubungi kami. Jadi, kami datang sendiri ke sini untuk mengetahui situasinya," kata Umpad.

"Permintaan saya adalah agar mereka mengambil tindakan dan terus memberikan informasi terbaru kepada kami."

Kecelakaan laut relatif sering terjadi di Filipina, negara kepulauan yang memiliki lebih dari 7.000 pulau dan kerap dilanda hujan monsun serta topan, sehingga membuat kondisi perjalanan menjadi berbahaya.

Kecelakaan sebelumnya juga dikaitkan dengan sejumlah faktor, termasuk kapal yang tidak terawat dengan baik, kelebihan muatan penumpang, serta penegakan aturan keselamatan yang tidak konsisten.

Pada Januari lalu, sebuah kapal feri yang membawa lebih dari 300 orang tenggelam di lepas pantai Pulau Baluk-baluk. Sedikitnya 18 orang tewas dalam insiden tersebut.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.