TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Di usia yang tak muda lagi, sembilan ibu-ibu berusia 50-60 tahun tampak fokus pada hakpen dan benang rajut di tangan.
Mereka duduk melingkari sebuah meja di ruang pertemuan di Rumah BUMN Purwokerto yang beralamat di Jalan A Yani No 28 Purwokerto Timur, Jumat (11/9/2026).
Hokpen di tangan kanan bergerak lincah saat menarik benang menjadi untaian berbentuk rantai.
Mereka sedang membuat pesanan hiasan dinding rajut dipenuhi bunga mawar berukuran 60x80 centimeter.
Sembilan ibu-ibu ini merupakan anggota Klub Rajut Purwokerto yang terbentuk 12 tahun lalu, tepatnya pada 2014.
Saat ini, komunitas tersebut masih eksis dengan anggota yang mencapai 30 orang.
Baca juga: Hampir 1.000 Penari Ramaikan Banyumas Ngibing 24 Jam: Libatkan 90 Komunitas, Ada dari Mancanegara
Ketua Klub Rajut Purwokerto, Mintarti (51) mengatakan, tidak ada batasan usia untuk bergabung menjadi anggota komunitas.
Tetapi, kebanyakan, mereka yang bergabung dalah usia pralansia dan lansia, bahkan sudah berumur 70 tahun ke atas.
Jika ada gen Z yang tertarik dengan keterampilan merajut ini, Minarti pun mempersilakan bergabung.
"Inisiatif awalnya karena di kota-kota lain sudah ada, seperti Semarang dan Jogja."
"Lama-lama yang suka merajut maupun yang ingin belajar membuat komunitas ini," kata MIntarti di sela kegiatan.
Bu Min, sapaan akrabnya, bercerita, tidak semua anggota komunitasnya mahir merajut sedari awal bergabung.
Tak sedikit yang bahkan belajar dari nol, alias belum bisa sama sekali.
Namun, bagi mereka yang sudah bisa merajut bahkan mahir, komunitas ini menjadi tempat sharing dan belajar teknik baru dalam merajut.
"Tapi setelah sering kumpul, lahir banyak ide. Ada motivasi belajar teknik lebih banyak," ungkapnya.
Menurut Mintarti, keberadaan komunitasnya juga membuka peluang ekonomi bagi ibu-ibu rumah tangga.
Dia sendiri sebelumnya merupakan karyawan swasta di perusahaan keuangan, pernah juga menjadi guru SMK.
Dia memang sudah bisa merajut tetapi hanya sebatas hobi.
"Jadi, semua anggota juga sudah punya brand sendiri-sendiri."
"Nah, kalau ada yang overload, nanti akan ditawarkan ke teman lain," ujarnya.
Baca juga: Perjalanan Budaya Banyumas Bisa Dinikmati di Banjoemas Heritage Week 2026, Digelar 4 Hari
Biasanya, masing-masing mereka memproduksi tas rajut, baju rajut, topi rajut, hingga payung rajut untuk dekorasi.
"Saya sendiri, dalam sebulan, bisa mendapatkan 3 sampai 4 tas."
"Untuk gantungan kunci, sebulan bisa sampai 50- 60 buah," jelasnya.
Selain produksi sendiri, mereka juga membuat produk bersama.
Seperti saat ini, Klub Rajut Purwokerto mendapat proyek membuat hiasan dinding rajut.
Proses pengerjaannya kemudian dilakukan secara bersama-sama atau bergantian.
Untuk harga, mereka mematok payung rajut produk spesial seharga sekira Rp2 juta, tas rajut Rp300 ribu, dan gantungan boneka mulai Rp10 ribu.
Mintarti mengatakan, komunitas merajutnya sekaligus menjadi tempat refresing bagi ibu-ibu di masa tua.
Karena kebanyakan anggota di usia pralansia dan lansia, kegiatan merajut bersama komunitas menjadi ajang mencegah demensia.
"Tentu kami juga berharap, ini menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas. Jadi bisa kumpul dan memiliki kegiatan yang menyenangkan," katanya. (*)