Ngeri, Ilmuwan China Temukan Virus Baru yang Ditularkan Kutu
GH News September 11, 2026 09:09 PM
Jakarta -

Ilmuwan di China mengidentifikasi virus baru yang ditularkan melalui kutu dan dapat menyebabkan penyakit mirip influenza. Infeksi tersebut ditandai dengan demam, kelelahan, gangguan saluran pencernaan, serta sejumlah hasil pemeriksaan laboratorium yang abnormal.

Tim peneliti yang dipimpin ilmuwan dari State Key Laboratory of Pathogen and Biosecurity di Beijing menamai virus baru dari kelompok orthonairovirus tersebut Asian longhorned tick nairovirus (ALTNV).

Dikutip dari University of Minnesota, temuan yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine itu berawal dari penelitian untuk mengetahui mengapa sekitar 30 persen pasien dengan tanda dan gejala infeksi Dabie bandavirus (DBV) menunjukkan hasil negatif saat diperiksa untuk penyakit demam berdarah yang ditularkan melalui kutu.

Demam berat dan jumlah trombosit rendah

DBV merupakan virus penyebab severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS) atau sindrom demam berat dengan trombositopenia. Penyakit ini ditemukan di berbagai wilayah Asia dan memiliki tingkat kematian kasus sekitar 10-30 persen. Trombositopenia merupakan kondisi ketika jumlah trombosit dalam darah berada di bawah normal.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan DBV sebagai salah satu patogen yang menjadi prioritas penelitian.

Tim peneliti memperoleh sampel dari pasien yang mengalami gigitan kutu di sejumlah rumah sakit sentinel di wilayah China yang diketahui menjadi tempat beredarnya virus yang ditularkan melalui kutu. Virus baru tersebut kemudian diidentifikasi melalui sekuensing RNA dan isolasi virus.

Analisis filogenomik menunjukkan ALTNV merupakan orthonairovirus dari famili Nairoviridae. Virus tersebut memiliki kesamaan kurang dari 80 persen asam amino dengan spesies lain dalam genus yang sama.

Peneliti juga melakukan pengujian menggunakan serum manusia yang positif mengandung RNA ALTNV. Hasilnya menunjukkan adanya pertumbuhan virus yang kemudian diidentifikasi sebagai ALTNV melalui pemeriksaan imunofluoresensi terhadap antigen virus.

Karakteristik orthonairovirus juga terlihat melalui pemeriksaan menggunakan mikroskop elektron. Replikasi virus ditemukan pada beberapa jenis sel yang digunakan dalam penelitian.

15 persen pasien yang negatif DBV ternyata positif ALTNV

Dari total 3.163 pasien yang diperiksa, sebanyak 10,4 persen dinyatakan positif ALTNV berdasarkan deteksi RNA atau antibodi imunoglobulin M (IgM).

Sementara itu, di antara pasien yang dinyatakan negatif DBV, 15,1 persen ternyata positif ALTNV.

Pada pasien yang hanya terinfeksi ALTNV, gejala yang paling banyak ditemukan adalah kelelahan (84 persen), gangguan saluran pencernaan (80 persen), trombositopenia (38 persen), serta peningkatan kadar aminotransferase (36 persen). Peningkatan aminotransferase dapat menjadi tanda peradangan atau kerusakan pada hati maupun jaringan lainnya.

Pasien dengan infeksi ALTNV saja dalam penelitian tersebut sembuh sepenuhnya.

Dibandingkan dengan pasien yang hanya terinfeksi DBV, pasien yang mengalami koinfeksi ALTNV dan DBV memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala pernapasan (61 persen vs 38 persen) dan gangguan fungsi ginjal (84 persen vs 66 persen).

Sebanyak 7 dari 38 pasien yang mengalami koinfeksi atau 18,4 persen meninggal dunia.

Kutu anjing menjadi salah satu pembawa virus

Peneliti mendeteksi RNA ALTNV pada 1,3 persen dari 47.428 kutu yang dikumpulkan dari 15 provinsi di China. Prevalensi tertinggi ditemukan pada kutu Haemaphysalis longicornis, yakni sebesar 1,8 persen.

Eksperimen juga menunjukkan bahwa H longicornis dapat menularkan virus tersebut kepada tikus.

Peneliti menyebut ALTNV dan DBV ditemukan beredar di wilayah yang sama dan menggunakan vektor kutu yang sama. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kemampuan diagnosis untuk membedakan infeksi kedua virus, terutama di wilayah yang menjadi endemis SFTS.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.