Iran Tak Mau Mundur, Perang Sengit Lawan AS Masuk Fase Habis-habisan
Hasiolan Eko P Gultom September 11, 2026 10:19 PM

Iran Tak Mau Mundur, Perang Sengit Lawan AS Masuk Fase Habis-habisan

TRIBUNNEWS.COM - Iran memberi sinyal tidak akan mundur dari perang melawan Amerika Serikat meski tekanan militer dan ekonomi semakin berat.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan negaranya justru bersiap menghadapi perang yang lebih intens jika serangan AS terhadap wilayah dan infrastrukturnya terus berlanjut.

Baca juga: Iran Obrak-Abrik Pangkalan AS Kacau! 8 Jet Tempur F-15 dan 1 A-10 Rusak Dihantam Rudal

Pejabat yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengatakan para pemimpin Iran melihat konflik dengan AS sebagai ancaman terhadap keberlangsungan negara.

Karena itu, tekanan ekonomi yang semakin besar belum cukup untuk membuat Teheran menghentikan perlawanan.

Iran, menurut pejabat tersebut, juga telah membangun kembali sebagian kemampuan militernya sejak fase pertempuran paling intens berakhir pada April. Persediaan rudal disebut masih cukup untuk menghadapi konflik yang berlangsung lama.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perang yang sudah memasuki bulan ketujuh belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Iran Siapkan Balasan Lebih Keras

Ketegangan kembali meningkat setelah Washington mengatakan salah satu kapal perangnya harus menghindari serangan Iran.

AS kemudian mengklaim menghancurkan lima kapal tanker energi Iran sebagai respons.

Teheran membalas dengan sekitar 20 rudal yang diarahkan ke pangkalan udara di Yordania yang digunakan AS.

Iran juga menyerang sejumlah kapal perang Amerika dan beberapa kapal komersial.

Rentetan serangan tersebut menunjukkan pola yang semakin berbahaya: satu serangan dibalas serangan lain, kemudian masing-masing pihak meningkatkan tekanannya.

Kepala keamanan baru Iran, Mohsen Rezaee, bahkan mengatakan sikap militer negaranya terhadap kapal dan pangkalan AS telah "diubah secara mendasar".

Ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang sebelumnya terlibat dalam perundingan gencatan senjata dengan AS, juga memperingatkan bahwa era "respons proporsional" telah berakhir.

Artinya, Iran memberi sinyal bahwa balasan berikutnya bisa dibuat lebih keras daripada serangan sebelumnya.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas

Di balik eskalasi ini ada satu kawasan yang sangat penting: Selat Hormuz.

Selat sempit tersebut merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia karena menjadi pintu keluar masuk minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global.

Dalam konflik ini, AS berusaha mempertahankan akses pelayaran melalui Hormuz, sementara Iran bersikeras memiliki hak untuk mengatur lalu lintas di jalur tersebut.

Kapal yang melintas tanpa izin Iran disebut menjadi sasaran serangan. Amerika Serikat kemudian merespons secara militer untuk membuka dan menjaga jalur pelayaran.

Situasi tersebut menciptakan lingkaran eskalasi yang sulit diputus.

Semakin Iran menekan kapal yang melintas, semakin besar kemungkinan AS melakukan serangan balasan. Sebaliknya, setiap serangan AS dapat menjadi alasan bagi Iran untuk meningkatkan serangannya.

Harga Minyak Tembus US$100

Dampak konflik sudah terasa di pasar energi.

Harga minyak mentah Brent menembus US$100 per barel (Rp 1,65 juta dengan asumsi 1 dolar sama dengan Rp 16.500) pada Rabu (9/9/2026). 

Kenaikan tersebut membuat harga minyak Brent sudah melonjak sekitar 65 persen sepanjang tahun ini.

Bagi negara-negara konsumen energi, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya bahan bakar dan transportasi.

Bagi pemerintah AS, kenaikan harga energi juga menjadi persoalan politik karena dapat menambah beban masyarakat.

Harga solar di Amerika Serikat bahkan dilaporkan mencapai rekor pada pekan sebelumnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Washington disebut berusaha menghindari kembalinya perang besar seperti yang terjadi pada Maret dan awal April.

AS Pilih Tekan Ekonomi Iran

Amerika Serikat kini tidak hanya mengandalkan serangan militer.

Washington juga menggunakan blokade dan tekanan ekonomi untuk memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan.

AS juga mengancam pemerintah dan perusahaan yang tetap menjalin hubungan dengan Teheran.

Strategi tersebut mulai memberikan tekanan besar terhadap ekonomi Iran.

Blokade membuat Iran kesulitan mengekspor minyak dan mengimpor sejumlah barang penting. Inflasi disebut telah mendekati 90 persen, sementara nilai tukar rial terus melemah.

Tekanan ekonomi tersebut menjadi persoalan serius bagi pemerintah Iran karena sebelumnya juga telah memicu demonstrasi besar pada akhir tahun lalu yang kemudian ditindak aparat.

Iran Terjepit, tapi Belum Mau Menyerah

Di dalam pemerintahan Iran sendiri sebenarnya terdapat perdebatan mengenai jalan keluar dari perang.

Sejumlah pejabat, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, pernah menyatakan bahwa negosiasi dengan AS diperlukan untuk mengurangi tekanan ekonomi.

Namun, posisi mereka tetap memiliki syarat: Washington harus terlebih dahulu mencabut blokade dan kembali pada kesepakatan yang pernah dibahas dalam Memorandum of Understanding (MoU).

Kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Juni itu kemudian dengan cepat runtuh.

Situasi tersebut membuat Iran berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, perang semakin mahal dan tekanan ekonomi semakin berat.

Di sisi lain, sebagian elite Iran menilai menghentikan perlawanan tanpa jaminan kalau AS tidak akan kembali menyerang justru akan membuat negara mereka semakin rentan.

Analis Bloomberg Economics, Dina Esfandiary mengatakan para pemimpin Iran melihat pemerintahan Donald Trump sebagai pihak yang lebih mungkin merespons ancaman dan eskalasi.

Iran, menurut dia, juga tampak mulai menyusun pilihan respons yang lebih cepat dan efektif terhadap setiap peningkatan serangan AS.

Perang Bisa Masuk Babak Baru

Dengan belum adanya perundingan resmi selama berbulan-bulan, perang AS-Iran kini berada dalam situasi seperti jalan buntu.

AS ingin membuka kembali Hormuz dan menekan Iran agar kembali berunding.

Iran, sebaliknya, ingin memastikan bahwa Washington tidak lagi memiliki ruang untuk menyerang wilayahnya tanpa konsekuensi.

Masalahnya, kedua tujuan tersebut justru saling bertabrakan.

Jika Iran terus menyerang kapal dan kepentingan AS, Washington berpeluang meningkatkan serangan.

Jika AS memperkeras tekanan militer dan ekonomi, Teheran sudah memberi sinyal akan membalas dengan cara yang lebih agresif.

Karena itu, ancaman terbesar saat ini bukan hanya perang yang terus berlangsung, tetapi kemungkinan satu serangan berikutnya memicu eskalasi yang jauh lebih besar.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.