TRIBUNKALTARA.COM, TANJUNG SELOR – Masyarakat di Ibu Kota Kalimantan Utara (Kaltara), Tanjung Selor, mengeluhkan sulitnya mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dalam dua pekan terakhir.
Warga harus menghadapi antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) hingga berjam-jam tanpa kepastian mendapat BBM Bersubsidi tersebut.
Tak hanya di SPBU, krisis pasokan ini membuat kios-kios eceran di sepanjang Jalan Sengkawit hingga kawasan Jelarai terpaksa tutup. Botol-botol kaca yang biasanya terpajang rapi kini kosong melompong.
Sebagian kecil pedagang yang masih beroperasi pun hanya menjual BBM non-subsidi jenis Pertamax dengan harga lebih tinggi.
Salah seorang warga Tanjung Selor, Julianti, mengaku sangat terbebani dengan kondisi ini. Ia terpaksa beralih membeli Pertamax eceran karena tak sanggup mengantre lama.
"Pertalite susah ditemui, kita mau antre di SPBU juga capek sekali karena antreannya benar-benar panjang sekali, bisa-bisa sekali isi antre 1 sampai 2 jam," ujar Julianti dengan nada kecewa, belum lama ini.
Julianti berharap Pemerintah Daerah maupun Pertamina segera mengambil langkah konkret, mulai dari penambahan kuota hingga penataan jalur distribusi agar tidak didominasi pengetap.
"Semoga kondisi BBM ini segera dapat ditangani di Bulungan. Kalau kurang kuota ya semoga bisa ditambah. Atau kalau bisa diatur mekanisme untuk para pengetap dan warga biasa, supaya masyarakat kecil tidak terus-terusan dikorbankan," tegasnya.
Baca juga: Antrean BBM Bersubsidi Mengular di SPBU, Gubernur Kaltara Desak Pertamina Tambah Kuota
Gubernur Kaltara Zainal Paliwang tak menampik adanya antrean kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU.
Pemprov Kaltara terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk mengusulkan penambahan kuota guna mengurai kelangkaan di lapangan.
"Kita selalu koordinasi dengan Pertamina untuk bisa menambah kuota BBM di Kalimantan Utara. Beberapa hari ini memang kita monitor di lapangan antrean di SPBU cukup panjang," kata Zainal Paliwang, Jumat (11/9/2026).
Meski usulan penambahan kuota telah disampaikan, realisasi dari Pertamina hingga kini belum dipenuhi.
"Kita sudah melaksanakan komunikasi ke Pertamina agar dapat diberikan tambahan kuota BBM. Tetapi sampai saat ini belum ada," lanjut purnawirawan Polri ini.
Baca juga: Warga Tana Tidung Mengaku Kesulitan Dapat BBM, Pengecer Mulai Kehabisan Stok
Zainal menjelaskan, keterbatasan dan kerentanan distribusi BBM di Kaltara terjadi karena wilayahnya belum memiliki fasilitas penyimpanan sendiri. Selama ini, pasokan BBM Kaltara masih bergantung penuh pada terminal penyimpanan (storage) di Berau, Kalimantan Timur.
"Kita komunikasi terus untuk kelancaran distribusi BBM. Karena sampai saat ini kita masih menerima pasokan dari Berau. Kita belum punya storage BBM di Kaltara," jelas Gubernur Kaltara.
Guna memutus ketergantungan pasokan dari luar daerah dan menyelesaikan krisis BBM secara permanen, Pemprov Kaltara tengah mengupayakan pembangunan fasilitas storage BBM mandiri dengan menggandeng pihak ketiga.
"Kita sudah berupaya membangun storage BBM di Kalimantan Utara dengan menggandeng vendor. Sehingga kebutuhan BBM Kaltara tidak lagi tergantung dari Berau, tetapi Kaltara sudah memiliki storage BBM sendiri," ungkap lulusan Akpol 1986 ini.
Proyek strategis tersebut ditargetkan mulai terealisasi pada tahun 2027 mendatang. Kesiapan lahan hingga dukungan pendanaan dari pemerintah pusat kini menunjukkan perkembangan signifikan.
"Insya Allah tahun 2027 sudah mulai berjalan. Investor sudah ada dan lokasi juga sudah kita siapkan. Dua hari lalu saya membaca running text, pendanaannya juga sudah dibantu oleh Menteri Keuangan," pungkas Zainal.
(*)