Lesung Tua di Bagelen Jadi Jejak Transmigran 1905 yang Masih Dijaga Keturunan Keluarga
taryono September 11, 2026 11:19 PM

Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Jejak transmigran 1905 di Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, tidak hanya tersimpan dalam cerita sejarah.

Baca juga: Tim SAR Kembali Temukan Pelampung Saat Cari 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda

Di salah satu rumah warga, sebuah lesung kayu berukuran sekitar 2,5 hingga 3 meter masih dirawat sebagai bagian dari warisan keluarga yang telah melewati beberapa generasi.

Lesung tersebut kini berada di rumah cucu Mbah Ubreg atau Pawinem. Benda tradisional itu diwariskan dari generasi ke generasi dan masih dipertahankan meski fungsinya tidak lagi seperti pada masa lalu.

Mbah Ubreg menuturkan, lesung tersebut merupakan peninggalan dari keluarga suaminya.

Ketika keluarga mereka datang dan menetap di Bagelen, lesung itu sudah menjadi bagian dari peninggalan keluarga sebelumnya.

“Dari bapaknya, ibunya, keluarga saya di sini,” ujar Mbah Ubreg kepada Tribun Lampung, Jumat (11/9/2026).

Melihat usia dan riwayat kepemilikannya, Mbah Ubreg memperkirakan lesung tersebut telah berada di Bagelen sejak generasi awal.

Menurutnya, benda itu bukan lagi sekadar peralatan rumah tangga, melainkan bagian dari perjalanan keluarga yang terus diwariskan kepada keturunan berikutnya.

Pada masa lalu, lesung digunakan untuk mengolah bahan makanan. Masyarakat memanfaatkannya untuk menumbuk berbagai keperluan sebelum peralatan modern digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Cuma untuk numbuk-numbuk saja, untuk bahan makanan,” katanya.

Seiring perubahan zaman, aktivitas menggunakan lesung dalam kehidupan sehari-hari semakin berkurang. Lesung tersebut kemudian lebih banyak disimpan sebagai benda peninggalan keluarga.

Meski demikian, keberadaannya tidak sepenuhnya terhenti. Pada kesempatan tertentu, masyarakat desa masih meminjam lesung tersebut untuk keperluan pertunjukan tradisional.

Ukurannya yang besar membuat lesung itu membutuhkan beberapa orang ketika digunakan secara bersama-sama. Mbah Ubreg menyebut sekitar enam orang diperlukan untuk memainkannya.

Lesung tersebut dibuat dari kayu utuh yang menurut Mbah Ubreg merupakan kayu nangka. Meski usianya telah sangat tua, kondisinya hingga kini masih relatif terjaga.

Benda itu bahkan pernah mengalami peristiwa yang cukup berat ketika terendam banjir pada 2018. Setelah banjir, keluarga kembali menyimpan dan merawatnya hingga tetap bertahan sampai sekarang.

Menurut Mbah Ubreg, bunyi lesung yang dimainkan secara bersama-sama memiliki irama tersendiri. Hal itu pula yang membuat benda tersebut masih memiliki tempat dalam kegiatan masyarakat meski tidak lagi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Lesung itu juga pernah mendapat perhatian dari pihak museum. Mbah Ubreg mengatakan, pihak museum sempat menawar untuk memilikinya.

Namun, keluarga memilih mempertahankan benda tersebut karena nilai yang melekat di dalamnya tidak hanya berkaitan dengan usia atau bentuk fisiknya.

“Kalau saya kan punya saya, kok dijual. Saya merasa dititipi,” tuturnya.

Bagi keluarga Mbah Ubreg, menjaga lesung berarti menjaga sesuatu yang telah diterima dari generasi sebelumnya untuk kemudian diteruskan kepada keturunan berikutnya.

Kini, lesung tua itu tetap berada di rumah keluarga, menjadi benda sederhana yang menyimpan kisah tentang kehidupan orang-orang yang datang dan menetap di Bagelen pada masa awal transmigrasi.

Di tengah modernisasi, jejak tersebut masih dapat disentuh dan dilihat secara langsung. Bukan di balik lemari museum, melainkan di rumah warga yang memilih merawatnya sebagai bagian dari sejarah keluarga dan perjalanan masyarakat Bagelen.

(Tribunlampung.co.id/Okyindrajaya)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.