36 Juta Meter Kubik Material Vulkanik Menumpuk di Lereng Semeru
Haorrahman September 11, 2026 10:39 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Lumajang - Sekitar 36 juta meter kubik material vulkanik menumpuk di lereng hingga kawasan puncak Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Perkiraan tersebut berdasarkan hasil mitigasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang dalam pemantauan aktivitas Gunung Semeru, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, mengatakan angka 36 juta meter kubik tersebut masih berupa perkiraan sementara. Material itu berpotensi bergerak turun dari kawasan puncak, bergantung pada kondisi lereng dan aktivitas vulkanik.

"Kalau sekitar 36 juta kubik itu saja. Ini kira-kira bisa salah, bisa benar. Itu yang berpotensi untuk turun," kata Isnugroho, Jumat (11/9/2026).

Baca juga: Motor Petani Dicuri di Lumajang, Unggahan Medsos Bantu Polisi Ungkap Pelaku

Pemetaan Material

Isnugroho menjelaskan, jumlah keseluruhan material vulkanik yang menumpuk di sepanjang lereng Gunung Semeru belum dapat dipastikan.

Pemetaan secara lebih detail, kata dia, perlu dilakukan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). BPBD Lumajang sebelumnya telah meminta pemetaan menggunakan drone, tetapi kondisi cuaca menjadi kendala.

"Kalau tumpukan material yang ada di lereng Semeru kami nggak bisa pastikan. Karena itu pernah saya request di PVMBG untuk dilakukan pemetaan drone, ternyata cuacanya berkabut, mendung," ujarnya.

Material yang berada di kawasan bukaan kawah Semeru berpotensi bergerak mengikuti kondisi lereng dan jalur aliran. Salah satu kawasan yang turut menjadi perhatian adalah Jonggring Saloko yang diperkirakan berpotensi mengarah ke tenggara.

"Endapan itu sudah memenuhi dari bukaan kawah hingga kilometer 2.000. Itu sudah dipatahkan, sudah penuh," katanya.

Baca juga: Empat Hari Kabur, Lansia Pelaku Pembacokan di Lumajang Diamankan Polisi

Aliran Material

Berdasarkan hasil mitigasi BPBD Lumajang bersama Pos Pantau Gunung Semeru, material vulkanik tersebut dinilai memiliki kemungkinan kecil mengarah ke Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, apabila terjadi banjir lahar.

Menurut Isnugroho, kondisi tersebut dipengaruhi perbaikan daerah aliran sungai (DAS) Curah Kobokan yang sedang dikerjakan.

"Atau mengarah ke Besuk Kembar, Pronojiwo itu kecil. Karena perbaikan daerah aliran sungai (DAS) Curah Koboan sudah dibuat oleh yang ngerjakan proyek sedang dikerjakan," jelasnya.

Sebaliknya, jutaan meter kubik material vulkanik tersebut berpotensi mengarah ke sisi timur Gunung Semeru apabila terjadi awan panas guguran (APG) atau lahar dingin. Hal itu karena endapan material erupsi disebut lebih banyak berada di kawasan bukaan kawah.

"Endapan material banyak yang numpuk di bukaan kawah. Jika jalur (lahar terbuka) larinya di Kebon Seket, Desa Sumbermujur, Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro. Nah ini yang perlu kita waspadai," imbuhnya.

Baca juga: 14.809 Warga Lumajang Terdampak Krisis Air Bersih, BPBD Salurkan Air ke 191 Titik

Untuk mengantisipasi potensi pergerakan material vulkanik, BPBD Lumajang telah menyiapkan sistem peringatan dini bagi masyarakat di kawasan rawan.

Sistem tersebut antara lain berupa sirene yang dipasang di kawasan Curah Kobokan dan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, serta Bukit Padat, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.

Selain sirene, masyarakat di kawasan Supiturang dan Oro-Oro Ombo juga dapat memanfaatkan aplikasi deteksi dini apabila terjadi letusan yang disertai awan panas guguran.

"Dan ada aplikasi deteksi dini yang dapat dimanfaatkan masyarakat kawasan Supiturang dan Oro-Oro Ombo jika ada letusan disertai awan panas guguran. Supaya mereka tidak terpengaruh informasi hoax," ucap Isnugroho.

Isnugroho menambahkan, Gunung Semeru merupakan gunung berapi aktif sehingga aktivitas erupsi dapat terjadi setiap hari. Namun, skala dan tingkat bahayanya tidak selalu sama.

Menurutnya, berbagai material atau aktivitas yang keluar dari dalam gunung hingga kawasan bukaan kawah, seperti letusan, embusan, guguran, lontaran material, maupun lava pijar, termasuk dalam bentuk erupsi.

"Apapun yang keluar dari perut gunung sampai ke bukaan kawah, baik itu letusan, embusan, guguran, lontaran material, lava pijar, itu dikatakan erupsi. APG salah satu bentuk erupsi. Hanya APG ini skalanya lebih besar karena ada awan panas guguran," jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.