Kemarau Panjang Rusak Tembakau di Jember, Ribuan Tanaman Petani Gagal Panen
Haorrahman September 11, 2026 10:39 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Jember - Kemarau berkepanjangan mulai berdampak pada tanaman tembakau di Kabupaten Jember.

Cuaca panas disertai angin kencang membuat sebagian tanaman tembakau milik petani di Kecamatan Pakusari mengalami kerusakan. Kondisi itu terlihat dari daun yang keriting hingga tanaman yang layu dan akhirnya mati.

Salah seorang petani tembakau di Dusun Krajan, Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Sujai, mengatakan kerusakan tanaman terjadi akibat kondisi cuaca dan keterbatasan air untuk pengairan sawah.

"Daunnya keriting, tidak bisa dipanen. Ini karena cuaca panas dan berangin. Angin panas, angin panas, begitu terus. Karena kemarau, pengairan di sawah juga sulit," ujar Sujai, Jumat (11/9/2026).

Baca juga: Stok BBM Jember Melimpah, Hiswana Migas Duga Ada Penimbunan

Sujai menanam sekitar 6.500 batang tembakau jenis Kasturi. Dari jumlah tersebut, sekitar seperempat tanaman mengalami kerusakan sehingga tidak dapat dipanen.

Sementara sebagian tanaman lainnya mulai dipanen. Daun tembakau yang telah dipetik kemudian dipilah dan dikeringkan sebelum nantinya dikirim ke gudang pabrik rokok.

Untuk harga, Sujai memperkirakan nilainya tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.

"Kalau harga mungkin tidak jauh dari tahun lalu, berkisar Rp 7 juta per kuintal," imbuhnya.

Baca juga: Fraksi PDIP Jember Boikot Paripurna KUA-PPAS 2027, Tolak Rencana Utang Rp 786 Miliar

Petani Kesulitan Mendapat Air

Kondisi serupa juga dirasakan Ruliyati, Kepala Dusun Krajan, Desa Jatian, yang turut menanam tembakau.

Menurut dia, kemarau tahun ini membuat petani kesulitan mendapatkan pasokan air untuk mengairi tanaman. Dalam kondisi normal, pengairan sawah dapat dilakukan lebih rutin. Namun saat ini, air baru tersedia sekitar 15 hari sekali.

"Karena waktunya nurap (mengairi sawah dalam Bahasa Madura, red) tidak bisa nurap. Airnya datang setiap 15 hari sekali. Musim kemarau ini sulit air," kata Ruliyati.

Ruliyati memiliki sekitar 20 ribu batang tembakau. Sejumlah tanaman miliknya juga mengalami kerusakan akibat kekurangan air.

"Pohonnya layu, terus mati. Tapi untuk jumlahnya saya nggak ngitung," imbuhnya.

Desa Jatian sebenarnya memiliki jaringan irigasi yang cukup banyak. Aliran air ke area persawahan juga diatur melalui sejumlah dam kecil.

Namun, kemarau yang telah berlangsung lebih dari dua bulan membuat debit air di saluran irigasi menurun. Akibatnya, petani harus berbagi pasokan air yang tersedia untuk mengairi lahan masing-masing.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.