Opini: Kenikmatan itu Membunuh
Dion DB Putra September 12, 2026 08:19 AM

Refleksi Parenting di Tengah Budaya Serba Instan

Oleh: Yulius Maran 
Penulis Buku Becoming an Outstanding Parent.

POS-KUPANG.COM - Sore ini saya berbincang dengan seorang teman yang berprofesi sebagai dokter. 

Ia tahu saya bekerja di bidang pendidikan, sehingga obrolan kami dengan cepat bergeser ke dunia anak dan pendidikan. 

“Pak, anak zaman sekarang itu mentalnya kompleks, ya?” katanya membuka percakapan. Saya pura-pura merasa tak terhubung, lalu balik bertanya, 

“Kompleks bagaimana? Boleh kasih contoh?” Dari pertanyaan sederhana itu, percakapan kami mengalir panjang, membawa kami pada perbandingan menarik antara anak-anak hari ini dengan masa ketika kami tumbuh dahulu.

Kami kebetulan masih tergolong generasi milenial yang pernah berhadapan dengan guru-guru dengan gaya mendidik cukup keras. 

Baca juga: Opini: Memulihkan Flores, Bukan Mengembalikan Kerentanannya

Salah mengerjakan tugas bisa berujung berdiri berjam-jam, tidak mengerjakan tugas bisa dihukum sambil menyelesaikannya, bahkan ada pengalaman berdiri di lapangan selama tiga puluh menit sambil hormat bendera. 

Dulu kami membenci hukuman-hukuman itu, bahkan mungkin diam-diam membenci gurunya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, sebagian pengalaman tersebut justru menjadi nostalgia yang kami ceritakan sambil tertawa. 

Bukan karena kami membenarkan kekerasannya, tetapi karena di dalam pengalaman itu ternyata ada pelajaran tentang disiplin, tanggung jawab, dan konsekuensi.

Tentu, kami tidak sedang mengatakan bahwa hukuman fisik adalah cara yang tepat untuk mendidik anak. 

Pengetahuan tentang perkembangan anak sudah jauh berkembang, dan pendidikan seharusnya semakin menghargai martabat serta kebutuhan psikologis anak. 

Tetapi ada satu hal menarik dari pengalaman generasi kami: kami pernah menjalani ketidaknyamanan, dan dari sana kami belajar bertahan. Kami pernah kecewa, malu, gagal, menunggu, dimarahi, dan harus menyelesaikan sesuatu yang tidak kami sukai. 

Mungkin karena pernah merasakan ketidaknyamanan itulah kami belajar bahwa tidak semua hal dalam hidup harus menyenangkan.

Teman saya kemudian berkata, “Nah, itu yang saya lihat sekarang, Pak. Banyak anak seperti tidak terbiasa dengan ketidaknyamanan.” Saya mengangguk.

Anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang hampir tidak mengenal kata menunggu. Ketika lapar, makanan dapat dipesan melalui ponsel; ketika bosan, ada hiburan dalam hitungan detik; ketika ingin mengetahui sesuatu, mesin pencari langsung memberikan jawaban. 

Teknologi telah membuat banyak hal menjadi lebih cepat, lebih mudah, dan lebih nyaman. Kita tentu tidak bisa dan tidak perlu memusuhi teknologi. 

Namun, di tengah segala kemudahan itu, saya mulai bertanya: apakah kita sedang membuat anak semakin pintar mendapatkan hasil, tetapi semakin lemah menjalani proses?

Ketika Hasil Lebih Penting daripada Proses

Kami kemudian bicara tentang daya juang. Teman saya melihat sebagian anak sekarang lebih mudah mencari jalan pintas ketika berhadapan dengan sesuatu yang membutuhkan waktu dan ketekunan. 

Ketika mengerjakan tugas, yang dicari adalah jawaban, bukan proses menemukan jawaban. Ketika belajar sesuatu, yang dikejar adalah hasil, bukan penguasaan. 

Ketika menemui kesulitan, keinginan pertama kadang bukan mencoba lagi, tetapi mencari cara agar kesulitan itu segera hilang.

Di sinilah teknologi perlu kita tempatkan secara proporsional. Teknologi dapat mempercepat pekerjaan, tetapi pendidikan tidak selalu boleh dipercepat. 

Ada hal-hal yang justru membutuhkan pengulangan, kesalahan, latihan, penantian, dan pengalaman langsung. Anak tidak menjadi percaya diri hanya karena diberi tahu bahwa ia harus percaya diri. 

Ia menjadi percaya diri karena berkali-kali mencoba, gagal, memperbaiki, mencoba lagi, lalu suatu hari menemukan bahwa dirinya ternyata mampu.

Dalam kajian perkembangan anak, kemampuan menghadapi kesulitan tidak muncul begitu saja. 

Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa hubungan yang suportif dan kesempatan membangun keterampilan adaptif merupakan pondasi penting bagi resilience. 

Anak membutuhkan orang dewasa yang mendukung, tetapi pada saat yang sama membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mengatur diri, menghadapi tantangan, dan beradaptasi terhadap keadaan. 

Dengan kata lain, anak membutuhkan pendampingan, bukan penghapusan seluruh kesulitan dari hidupnya.

Maka, mungkin tugas orang tua dan guru bukan selalu membuat jalan anak menjadi mudah. Kadang-kadang tugas kita justru memastikan anak cukup kuat untuk melewati jalan yang tidak mudah.

Teori Bisa Dikuasai, Tangan Belum Tentu Bisa

Teman saya kemudian menceritakan pengalaman ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran. Ada satu materi yang menurutnya sangat ia kuasai secara teori, yaitu prosedur sunat. 

Ia merasa memahami konsepnya, mengetahui tahapannya, bahkan yakin ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan akademik. Tetapi ketika pertama kali harus melakukan praktik, tangannya justru gemetar. 

“Kok tangan saya gemetar?” katanya mengenang pengalaman itu, lalu ia tertawa dan berkata, “Ternyata saya nggak tega motong, hahaha.”

Kami pun tertawa.

Namun, di balik kelucuan cerita itu ada sebuah pelajaran pendidikan yang sangat serius. Ia kemudian menyadari bahwa mengetahui sesuatu tidak sama dengan mampu melakukan sesuatu. 

Teori memberikan peta, tetapi praktik membuat seseorang mampu berjalan. Pengetahuan yang tersimpan di kepala belum tentu otomatis muncul ketika seseorang berhadapan dengan situasi nyata yang penuh tekanan.

Tangan yang gemetar itu justru menjadi guru yang sangat jujur. Ada jarak antara tahu dan bisa, dan jarak itu tidak dapat ditempuh hanya dengan membaca buku atau menghafal teori. 

Ia membutuhkan pengalaman, latihan, pengulangan, koreksi, keberanian mencoba, dan pembiasaan. 

Dari sanalah pengetahuan perlahan tidak lagi sekadar berada di kepala, tetapi menjadi keterampilan dan akhirnya menjadi bagian dari respons seseorang ketika menghadapi situasi nyata.

Inilah mengapa pembiasaan dalam pendidikan menurut saya sering kali jauh lebih penting daripada sekadar menjejalkan pengetahuan. Kita tidak sedang hanya memasukkan informasi ke dalam kepala anak. 

Kita sedang membantu pengetahuan itu menjadi keterampilan, kebiasaan, sikap, dan akhirnya menjadi bagian dari dirinya. 

Ketika suatu hari anak berhadapan dengan situasi sulit, sesuatu yang telah dilatih berulang-ulang dapat muncul secara spontan karena telah menjadi bagian dari dirinya.

Belajar Tidak Cukup Menyenangkan Mata dan Telinga

Teman saya kemudian mengatakan sesuatu yang membuat saya kembali berpikir. Menurutnya, pengajaran yang baik tidak cukup hanya membuat mata anak senang melihat presentasi yang indah atau telinga mereka senang mendengar video yang lucu. 

Pembelajaran perlu melibatkan pengalaman yang lebih utuh sehingga pengetahuan tidak berhenti sebagai informasi yang lewat sebentar. Anak perlu mengalami, melakukan, merasakan, mengulang, dan merefleksikan apa yang dipelajarinya.

Saya kira ini poin penting dalam pendidikan hari ini. Kita kadang terlalu sibuk membuat pembelajaran fun, sampai lupa bahwa belajar tidak selalu harus terasa menyenangkan. 

Ada kalanya anak harus mengulang, berlatih, membaca perlahan, mengerjakan sesuatu dengan tangannya sendiri, berdiskusi, mencoba, gagal, dan mencoba kembali. Menyenangkan boleh, tetapi bermakna jauh lebih penting.

Anak juga perlu diberi kesempatan mengalami pembelajaran secara nyata. Jika belajar tentang tanaman, biarkan mereka menanam. Jika belajar tentang memasak, biarkan mereka mengukur dan mencampur bahan. 

Jika belajar tentang tanggung jawab, berikan tugas yang benar-benar harus mereka selesaikan. 

Jika belajar tentang kegagalan, jangan buru-buru mengambil alih ketika mereka mengalami kesulitan.

Belajar pada akhirnya bukan sekadar membuat anak bisa menjawab pertanyaan guru. Belajar adalah proses membuat sesuatu yang awalnya berada di luar diri perlahan menjadi bagian dari diri. 

Pengetahuan yang diulang dalam pengalaman, dipraktikkan dalam situasi nyata, dan direfleksikan terus-menerus akan memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadi keterampilan dan kebiasaan. 

Di situlah pendidikan mulai menghasilkan manusia yang bukan hanya tahu, tetapi juga mampu.

Jangan Paksa Semangka Berdiri Menjadi Alpukat

Di titik inilah percakapan kami sampai pada persoalan lain yang sering terjadi dalam pendidikan anak. Orang tua senang ketika anak TK sudah bisa membaca. 

Guru kelas satu SD juga senang ketika mendapatkan anak-anak yang sudah lancar membaca sehingga tidak perlu lagi memulai dari dasar. 

Secara kasat mata, semuanya terlihat seperti keberhasilan. Tetapi saya mulai bertanya: apakah sesuatu yang bisa dilakukan lebih cepat selalu berarti lebih baik?

Anak memang perlu berkembang dan belajar, tetapi perkembangan memiliki tahapan. 

Ada saat untuk bermain, bergerak, berbicara, mengeksplorasi, bertanya, berimajinasi, dan membangun keterampilan sosial. Bermain bukan lawan dari belajar. 

Dalam banyak situasi, bermain justru menjadi jalan anak mengembangkan kemampuan berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, mengatur emosi, dan memahami dunia di sekitarnya.

Teman saya kemudian memberikan analogi yang menurut saya sederhana, tetapi sangat dalam. Bayangkan sebuah biji semangka. Ketika ditanam, ia memiliki karakter pertumbuhannya sendiri: menjalar, merambat, melebar mengikuti ruang yang tersedia, lalu menghasilkan buah pada waktunya. 

Kita tidak mungkin memaksanya tumbuh tegak seperti pohon alpukat hanya karena kita ingin melihatnya berdiri tinggi. Kalau kita memaksakan semangka menjadi alpukat, yang salah bukan semangkanya.

Demikian pula anak. Setiap anak memiliki tahap perkembangan, karakter, minat, kekuatan, dan kecepatan belajar yang tidak selalu sama. Tugas orang tua dan guru bukan memaksa semua anak mengikuti bentuk pertumbuhan yang kita inginkan. 

Tugas kita adalah menyediakan tanah yang baik, air yang cukup, cahaya yang memadai, ruang untuk bertumbuh, serta perawatan yang konsisten. Kita mendampingi, mengarahkan, memberi batas ketika diperlukan, tetapi tetap menghormati proses pertumbuhan mereka.

Sayangnya, orang dewasa sering kali tidak sabar menikmati hasil. Kita senang ketika anak lebih cepat membaca, lebih cepat berhitung, lebih cepat menguasai sesuatu, karena keberhasilan itu mudah dipamerkan dan mudah diukur. 

Anak kemudian tanpa sadar menjadi proyek ambisi orang dewasa. Boleh jadi, yang kita sebut sebagai “mempercepat perkembangan anak” sebenarnya hanyalah mempercepat kepuasan kita sendiri.

Kenikmatan Itu Membunuh

Mungkin sekarang judul tulisan ini mulai menemukan maknanya. Kenikmatan tidak membunuh karena kenyamanan itu buruk. Kenikmatan membunuh ketika kenyamanan diberikan terlalu cepat, terlalu banyak, dan terlalu lama, sampai anak kehilangan kesempatan untuk mengalami proses.

Ketika semua keinginan segera dipenuhi, anak kehilangan kesempatan belajar menunggu. Ketika setiap kesulitan segera diselesaikan orang tua, anak kehilangan kesempatan belajar mengatasi masalah. 

Ketika setiap kegagalan segera ditutupi, anak kehilangan kesempatan belajar bangkit. Dan ketika setiap proses dipotong demi hasil yang instan, anak bisa kehilangan pengalaman paling penting dalam pendidikan: menemukan bahwa dirinya mampu melewati sesuatu yang awalnya terasa sulit.

Maka, kita tidak perlu kembali kepada pola pendidikan keras masa lalu. Tetapi kita juga tidak perlu jatuh ke ekstrem sebaliknya, yaitu pendidikan yang menghilangkan seluruh ketidaknyamanan dari kehidupan anak. 

Kita membutuhkan pendidikan yang penuh kasih, tetapi tidak memanjakan; penuh perlindungan, tetapi tidak mengambil alih; menyenangkan, tetapi tetap menantang; dan memberi bantuan, tetapi tidak merampas kesempatan anak untuk berjuang.

Sebab kehidupan tidak pernah menjanjikan kenyamanan. Akan ada kegagalan, penolakan, kehilangan, kekecewaan, proses panjang, dan jalan yang tidak sesuai rencana. Pada saat itulah anak membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan. 

Mereka membutuhkan keterampilan, kebiasaan, ketahanan, dan pengalaman yang telah mereka endapkan sepanjang perjalanan hidupnya.

Mungkin itulah mengapa kenikmatan bisa membunuh. Bukan karena anak tidak boleh menikmati hidup, tetapi karena kenikmatan yang berlebihan dapat membunuh proses; proses yang hilang dapat membunuh daya juang; dan daya juang yang mati dapat membuat seorang anak tumbuh tanpa kesiapan menghadapi kehidupan.

Karena itu, mungkin kita perlu mengubah pertanyaan dalam mendidik anak. Bukan lagi hanya, “Bagaimana supaya anak saya tidak mengalami kesulitan?” tetapi juga, “Apakah saya sudah mempersiapkan anak saya untuk menghadapi kesulitan?”

Biarkan anak sesekali menunggu. Biarkan mereka mencoba dan gagal dalam kadar yang aman. Biarkan mereka menyelesaikan persoalannya sendiri sebelum kita datang menyelesaikannya. Biarkan mereka merasakan bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi dan tidak semua proses bisa dipotong.

Sebab biji semangka tidak perlu dipaksa menjadi pohon alpukat. Ia hanya perlu ditanam di tanah yang tepat, disiram, dirawat, diberi ruang, dan dipercaya untuk tumbuh sesuai karakternya. 

Begitu pula anak-anak kita: mereka tidak membutuhkan orang tua yang tergesa-gesa melihat hasil, tetapi membutuhkan orang tua yang sabar menemani proses. Mendidik bukanlah mempercepat anak menjadi dewasa; mendidik adalah merawat pertumbuhannya sampai ia siap menjadi dirinya sendiri.

Dan mungkin, pada akhirnya, inilah yang perlu kita ingat: anak yang hari ini selalu kita selamatkan dari ketidaknyamanan mungkin akan tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak siap ketika kehidupan berhenti memanjakannya. 

Sebaliknya, anak yang kita dampingi untuk melewati proses, belajar dari kegagalan, dan terbiasa menghadapi kesulitan akan membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kepandaian—ia membawa daya juang.

Karena pendidikan sejati bukan tentang seberapa cepat anak menikmati hasil, tetapi seberapa kuat ia bertahan dalam proses untuk sampai pada hasil itu. 

Dan ketika kita terlalu sibuk memberi anak segala kenikmatan, jangan-jangan tanpa sadar kita sedang membunuh hal yang paling mereka butuhkan untuk menghadapi kehidupan: kemampuan untuk berjuang. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.