Harga Minyak Mentah Terkoreksi, Gangguan Selat Hormuz Masih Bayangi Pasar
Sanusi September 12, 2026 09:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga minyak turun pada perdagangan Jumat (11/9/2026), tetapi masih berada di jalur kenaikan lebih dari 8 persen dalam sepekan. Sementara itu, harga solar (diesel) di Amerika Serikat mencapai rekor tertinggi.

Mengutip Reuters pada Sabtu (12/9/2026), kondisi ini terjadi karena serangkaian serangan di jalur pelayaran Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi akan berlangsung lama.

Baca juga: Harga Minyak Mentah Tembus 104 USD Per Barel: Tanggapan Pertamina dan Keputusan Bahlil Hari Ini

Harga minyak mentah Brent ditutup pada 104,61 dolar AS per barel, turun 3,02 dolar AS atau 2,81 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat ditutup pada 100,05 dolar AS per barel, turun 2,43 dolar AS atau 2,37 persen.

Pada perdagangan Jumat, harga Brent dan WTI sempat mencapai level tertinggi sejak pertengahan Mei.

Namun, harga minyak kemudian berbalik turun setelah Financial Times melaporkan bahwa para menteri luar negeri di Timur Tengah sedang berupaya membuat kesepakatan sementara dengan Iran untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Sehari sebelumnya, harga Brent dan WTI melonjak lebih dari 6 persen setelah terjadi peningkatan serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.

Pada Jumat, para pelaku pasar mulai menilai kembali risiko yang sebelumnya memicu kepanikan.

"Hal-hal yang menyebabkan kepanikan kemarin mulai mereda hari ini," kata Phil Flynn, analis senior Price Futures Group. 

Namun, ia mempertanyakan apakah kondisi pasar akan tetap tenang selama akhir pekan.

Baca juga: Konflik Iran Kembali Memanas, Harga Minyak Mentah Melonjak jadi 87 Dollar per Barel

"Pertanyaannya, apakah pasar akan tetap tenang selama akhir pekan? Biasanya, berbagai kejadian justru terjadi pada akhir pekan," ujarnya.

Kabar mengenai pembicaraan terkait masa depan Selat Hormuz menjadi salah satu faktor terbesar yang memengaruhi sentimen pasar minyak.

Analis energi UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan bahwa kabar mengenai kemungkinan pembicaraan baru di Timur Tengah memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu, setelah Amerika Serikat menyerang lima kapal tanker minyak Iran. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mengatakan akan meningkatkan respons jika terjadi serangan berikutnya.

Data awal pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz turun menjadi 7 kapal pada Kamis, dari sebelumnya 11 kapal pada Rabu.

Sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari, Selat Hormuz dilalui sekitar 125 kapal pengangkut komoditas setiap hari. Jalur tersebut juga menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap hari.

Gangguan pasokan minyak akibat perang Iran, ditambah serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia, juga membuat harga bahan bakar di Amerika Serikat meningkat.

Harga rata-rata nasional solar (diesel) di AS menembus 6 dolar AS per galon untuk pertama kalinya pada Kamis, menurut pelacak harga GasBuddy.

Analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan produk hasil pengolahan minyak, terutama diesel, saat ini terkena dampak dari dua masalah sekaligus. Pertama, gangguan pengiriman minyak melalui kawasan Teluk. Kedua, gangguan pada kilang minyak Rusia.

"Produk olahan minyak, terutama diesel, saat ini terkena dampak dari dua tekanan sekaligus," kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.

"Selama gangguan pengiriman melalui kawasan Teluk dan gangguan operasional kilang minyak Rusia masih berlangsung, harga diesel dan produk olahan minyak lainnya kemungkinan akan memiliki kecenderungan kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan harga minyak mentah secara keseluruhan," tambahnya.

Bank Commerzbank menaikkan perkiraan harga minyak Brent pada akhir tahun menjadi 85 dolar AS per barel, dari sebelumnya 75 dolar AS.

Bank tersebut juga menaikkan perkiraan harga diesel menjadi 1.200 dolar AS per ton, dari sebelumnya 950 dolar AS per ton.

Sementara perkiraan harga bahan bakar pesawat atau jet fuel dinaikkan menjadi 1.230 dolar AS per ton, dari sebelumnya 980 dolar AS per ton.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.