KM Virgo Karam, 2 Putra Asal Bangli Bali Belum Ditemukan, Ayah: Harapannya Selamat, Kembali
Putu Dewi Adi Damayanthi September 15, 2026 06:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Rasa cemas dan harapan keselamatan menyelimuti keluarga I Nengah Tirta di Dusun Cempunggung, Desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali, Senin 14 September 2026. 

Dua putra I Nengah Tirta yaitu I Putu Pramana Yoga (28) dan adiknya, Kadek Sayoga Putra, menjadi penumpang KM Virgo 8 yang dilaporkan tenggelam di Laut Jawa. 

KM Virgo Transport 8 milik PT Virgo Karya Shipping (buatan tahun 1987) tercatat membawa total 243 orang dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu 13 September 2026 dini hari. 

Hingga kemarin keduanya belum ditemukan dan belum ada kabar. 

Baca juga: Dua Bersaudara Asal Bangli Hilang Usai KM Virgo 8 Tenggelam, Bawa Peralatan Upacara ke Banjarmasin

Kedua kakak-adik tersebut diketahui menyeberang menuju daerah Batulicin, Kalimantan Selatan dengan membawa truk berisikan barang-barang kebutuhan upacara keagamaan Hindu. 

Orang tua korban, I Nengah Tirta, mengungkapkan dirinya telah berusaha menghubungi berbagai pihak terkait di lapangan untuk mencari keberadaan kedua anaknya, namun hasil pencarian masih nihil.

“Kemarin baru bisa hubungi petugas-petugas lapangan saja di Banjarmasin. Artinya petugas lapangan di Banjarmasin, Surabaya. Sudah saya hubungi masih pencarian evakuasi dibilang. Nah belum ada informasi yang lainnya ada sudah informasi, tapi anak saya ini belum ada informasinya,” ujar Nengah Tirta saat diwawancarai Tribun Bali pada, Senin 14 September 2026. 

Kabar mengenai kecelakaan kapal tersebut baru diterima keluarga pada Minggu 13 September 2026, sekitar pukul 09.00 Wita, dari otoritas pelabuhan di Banjarmasin. Mendengar kabar tersebut, Tirta sangat terpukul. 

Namun, ia hanya bisa menunggu informasi resmi mengenai keberadaan kedua putranya.

“Mendengar kabar itu saya sangat terkejut dan memikirkan nasib anak-anak. Kami tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menunggu informasi resmi dari petugas. Semoga kedua anak saya ditemukan dalam kondisi selamat,” harapnya.

Tirta menjelaskan kedua anaknya berangkat dari Bali pada Kamis 10 September 2026. 

Setelah tiba di Surabaya pada Jumat 11 September 2026, keduanya kemudian naik ke atas kapal pada Sabtu 12 September 2026 pagi. 

“Sabtu pagi naik kapal, siang sekitar jam 12.00 jalan kapalnya. Saya dapat komunikasi dengan anak saya dua-duanya waktu pas berangkat,” tuturnya. 

Komunikasi di atas kapal tersebut menjadi momen terakhir Tirta mendengar suara kedua buah hatinya sebelum mendapat kabar musibah tersebut. 

Menurut Tirta, perjalanan ke Kalimantan menggunakan truk pengangkut perlengkapan sarana upacara seperti pelinggih/pemrajan, genteng sanggah, dupa, hingga tikar merupakan pekerjaan rutin yang sudah dijalani kedua anaknya selama dua tahun terakhir untuk menggantikan dirinya.

“Sering. Anak saya niki sudah dua tahun jalan. Kalau saya sudah 6 tahun lebih. Karena tiang tidak kuat lagi, diganti dengan anak tiang ini,” kata Tirta.

Menurut Nengah Tirta, Putu dan Kadek merupakan dua bersaudara yang dikenal memiliki kepribadian ramah. 

“Kadang ceria, biasa-biasa dan suka bergaul Putu dan Kadek niki,” kenang Tirta.

Keduanya juga diketahui sudah memiliki keluarga kecil masing-masing. Sang adik, Kadek, sudah memiliki seorang anak. Sedangkan sang kakak, Putu, juga sudah menikah. 

“(Kadek) sudah punya anak satu umurnya mau 2 tahun. Kakaknya sudah menikah tapi belum punya anak,” tambahnya.

Di tengah penantian yang mendalam, pihak keluarga juga telah mengerahkan kerabat yang bermukim di Kalimantan Selatan untuk memantau langsung proses evakuasi dan koordinasi di Pelabuhan Banjarmasin. 

“Niki Banjarmasin sudah ada saudara sana menunggu. Menunggu dari kemarin, sudah ada menunggu di Banjarmasin. Di pelabuhan, dari kemarin sudah ada keponakan, ada mantu, ada saudara di sana sudah ada menunggu,” jelasnya.

Selain upaya fisik dan komunikasi dengan petugas, keluarga di Bali juga menempuh jalur spiritual demi keselamatan Putu Pratama Yoga dan Kadek Sayoga.

“Sudah tiang nunasang (meminta) di Prajapati, Pura Khayangan Tiga sudah saya nunas. Mudah-mudahan ya nggih keselamatan. Pang mulih nggih Betara niki. Rahayu, Rahayu,” ucapnya dengan penuh harap.

Saat ditanya mengenai harapan besarnya di tengah proses pencarian yang masih berlangsung oleh tim SAR dan petugas evakuasi, Nengah Tirta menyampaikan keinginan sederhananya agar kedua anaknya dapat berkumpul kembali bersama keluarga. 

“Harapannya ya selamat, kembali seperti sedia kala,” pungkasnya.

Kepala Dusun Cempunggung, I Ketut Adnyana, membenarkan dua warganya yang berada di dalam kapal naas tersebut merupakan kakak-adik. 

Pihak desa juga telah membantu keluarga mempersiapkan sejumlah dokumen kependudukan yang diperlukan untuk proses penanganan dan pencarian korban.

“Kemarin pihak keluarga sempat meminta berkas KTP dan KK. Keduanya memang saudara kandung,” kata Adnyana.

Menurut Adnyana, perjalanan kedua bersaudara ke Kalimantan bukan kali pertama. 

Mereka memang rutin mengangkut dan menjual berbagai barang kebutuhan warga Bali yang tinggal di wilayah transmigrasi di Kalimantan. 

“Hampir setiap bulan mereka berangkat ke Kalimantan. Kami berharap keduanya bisa segera ditemukan dalam keadaan selamat,” harapnya. 

Kerabat kedua korban, Onna, menuturkan bahwa komunikasi terakhir dengan para korban terjadi pada 1 September 2026, sesaat sebelum kapal diberangkatkan dari pelabuhan asal. 

“Kontak terakhir pas sebelum berangkat bilang mau titip muatan untuk balik atau tidak, karena biasa saya titip tikar dari beliau untuk jual di sini,” ujar Onna, Senin 14 September 2026. 

Onna menambahkan, muatan yang dibawa kedua korban mencakup perlengkapan keagamaan dan bahan bangunan tradisional Bali yang biasa dikirim secara rutin. 

“Biasanya bawa dulang, genteng, alat-alat sembahyang,” jelas Onna.

Sementara itu, hingga Senin 14 September 2026, tim SAR gabungan mencatat sebanyak 114 orang telah ditemukan (108 selamat dan 6 meninggal dunia), sementara 129 orang lainnya masih dalam pencarian. 

Untuk mengoptimalkan penyisiran, Basarnas memperkuat operasi dengan mengerahkan lima pesawat udara, 17 kapal laut, serta KRI Kanopus milik Pushidros TNI AL yang dilengkapi teknologi drone bawah air.

Kapal Virgo Transport 8 berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin sebelum menghadapi cuaca buruk dan kehilangan kontak pada Minggu 13 September 2026 dini hari. 

Nakhoda sempat melaporkan kapal dalam kondisi miring sebelum komunikasi terputus. 

Data manifes yang disampaikan otoritas menyebut terdapat 243 penumpang di kapal tersebut. Basarnas kemudian melakukan pencarian dan pertolongan via laut dan udara. 

Kepala Basarnas RI, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menyampaikan bahwa tim penyelam dari Basarnas Special Group (BSG), Kopaska TNI AL, dan tim penyelam gabungan telah disiapkan. 

“Khusus untuk KRI Kanopus, ini merupakan kapal terbaru dari TNI AL yang dimiliki oleh Pushidros. Kita berharap, dari kapal ini, kita nanti bisa melaksanakan operasi underwater dengan optimal,” ujarnya dalam konferensi pers di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, seperti dilansir BanjarmasinPost.co.id, Senin 14 September 2026.

Meski KRI Kanopus sudah berada di lokasi kejadian, kendala arus laut berkecepatan tinggi sempat menunda penurunan tim penyelam. 

“KRI Kanopus yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan searching underwater dan sudah ada di lokasi. Namun untuk menurunkan personel-personel yang memiliki kemampuan underwater karena memang kondisi arus tidak memungkinkan, sampai di jam ini belum kita turunkan,” katanya.

Pada hari kedua pencarian, Basarnas menyempitkan pola area penyisiran dari delapan sektor menjadi enam sektor seluas 2.600 nautical mile, yang difokuskan langsung pada koordinat titik datum (last known position) keberadaan kapal. 

“Karena datum titik fix dari kapal itu sudah bisa kita tentukan, dan mudah-mudahan tidak ada pergerakan, sehingga operasi kita fokuskan kepada kapal itu sendiri,” jelasnya. (sar/weg/ali)

Mayoritas Penumpang Sedang Tertidur

Suasana mencekam mewarnai tragedi tenggelamnya kapal ro-ro KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa pada Minggu 13 September 2026 dini hari. 

Diduga masih banyak penumpang yang terjebak di dalam kapal saat peristiwa naas tersebut terjadi.

Hal itu diungkapkan oleh salah satu penumpang selamat, Rinto Arahab, saat berhasil dievakuasi ke posko penanganan korban di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. 

Rinto menjelaskan detik-detik saat kapal berkapasitas 8.540 GT itu hendak terbalik dan tenggelam. 

Saat kejadian sekitar pukul 02.00 WITA, gelombang ombak sangat tinggi hingga mencapai hampir 2 meter, sementara mayoritas penumpang sedang tertidur lelap.

Kepanikan hebat pecah ketika air laut tiba-tiba masuk dan merendam bagian dek kapal secara cepat. 

Sialnya, persediaan alat keselamatan dari pihak kapal sangat terbatas hingga terjadi perebutan pelampung antar penumpang. 

Rinto menyebut tidak ada satu pun petugas kapal yang memberikan arahan atau peringatan saat kapal mulai terendam air. 

Penumpang terpaksa mengambil inisiatif sendiri untuk menyelamatkan diri.

“Ada yang teriak. Kebanyakan masih ada yang tidur,” kata Rinto dikutip dari BanjarmasinPost, Senin 14 September 2026.

“Enggak ada, Pak,” tambah Rinto saat ditanyakan mengenai keberadaan sinyal atau peringatan dari pihak kapal sebelum kejadian.

Pria asal Sumatra Selatan yang mengalami cedera di dahi dan tangannya ini meyakini masih banyak penumpang terjebak di dalam kapal karena proses tenggelamnya berlangsung cepat. 

Rinto sendiri sempat bertahan selama 4 jam di atas badan kapal yang belum tenggelam sepenuhnya sebelum mendapat pertolongan.

Kisah pilu lain diungkapkan Marsianus, warga asal Flores yang menumpangi kapal untuk mengawal barang ekspedisi J&T Cargo. 

Saat kapal oleng dan terbalik, ia terbangun dari tidurnya di ruang barang. 

“Spontan. Panik langsung lari keluar spontan,” ujar Marsianus.

Tanpa sempat mengenakan pelampung pengaman, Marsianus langsung nekat melompat ke laut dan bertahan menggunakan pelampung karet. 

“Iya, menyelamatkan diri semua,” tuturnya seraya mengonfirmasi tidak adanya arahan darurat dari petugas kapal.

Meski berhasil selamat, Marsianus masih cemas memikirkan sang kakak, Wilfredus (30), yang hingga kini belum diketahui nasibnya. 

“Belum dapat lihat,” katanya saat ditanya mengenai keberadaan kakaknya. (ali)

Kapal Sudah Berusia 39 Tahun

KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di laut Jawa berangkat dari Surabaya ke Banjarmasin sudah berusia 39 tahun. 

Kapal berlayar sejak 1987 dan berasal dari Jepang dengan nama awal Ferry Kurushima. 

Kapal ini menggunakan mesin diesel dengan keluaran gabungan sekitar 8.238 kW atau 11.200 PS dan mempunyai kecepatan operasional sekitar 18 knot. 

Kapal ini memiliki kapal saudara bernama Ferry Hayatomo 2. 

Ferry Kurushima awalnya beroperasi di bawah Kansai Kisen, kemudian sejak 2013 dioperasikan Matsuyama Kokura Ferry. 

KM Virgo Transport 8 menjadi sorotan setelah mengalami kecelakaan di Laut Jawa ketika melayani rute Surabaya-Banjarmasin pada Minggu 13 September 2026. 

Kapal tersebut memiliki riwayat panjang sebelum beroperasi di Indonesia dan telah berlayar sejak 1987.

Di balik kecelakaan tersebut, Virgo Transport 8 merupakan kapal berusia sekitar 39 tahun. 

Berdasarkan basis data VesselFinder, kapal dengan nomor IMO 8625179 dibangun pada 1987. 

Kapal berjenis passenger/Ro-Ro cargo ship itu memiliki panjang 119 meter dan lebar sekitar 21 meter.

VesselFinder mencatat gross tonnage kapal sebesar 4.277 GT dan deadweight 2.612 ton. Kapal ini terakhir kali tercatat menggunakan bendera Indonesia dengan MMSI 525110543 serta call sign YDIL4.

Sebelum beroperasi di Indonesia, kapal tersebut dikenal di Jepang dengan nama Ferry Kurushima. 

Basis data kapal mencatat Ferry Kurushima sebagai kapal Ro-Ro penumpang dan kendaraan yang dibangun di Kurushima Dockyard, Onishi, Jepang. Kapal memiliki panjang 119 meter dan lebar 21 meter.

Dalam konfigurasi operasionalnya di Jepang, Nippon Foundation Library mencatat Ferry Kurushima memiliki kapasitas hingga 756 penumpang. Ferry Kurushima mulai beroperasi pada April 1987 untuk melayani jalur Matsuyama-Kokura.

Setelah puluhan tahun beroperasi sebagai Ferry Kurushima, identitas kapal berubah pada 2025. 

Basis data kapal mencatat nama Virgo Transport 8 mulai digunakan pada tahun tersebut. 

VesselFinder mencatat kapal menggunakan bendera Mongolia pada Juni 2025.

Pada April 2026, seperti dilansir BanjarmasinPost.co.id status bendera kapal tercatat berubah menjadi Indonesia. 

Data tersebut menunjukkan kapal yang dibangun di Jepang pada 1987 itu beroperasi selama hampir empat dekade sebelum kemudian menggunakan nama Virgo Transport 8. 

Di Indonesia, kapal digunakan melayani rute Surabaya-Banjarmasin. 

KM Virgo Transport 8 merupakan kapal feri Ro-Ro penumpang berusia sekitar 39 tahun yang dibangun di Jepang pada 1987. 

Kapal sepanjang 119 meter itu sebelumnya bernama Ferry Kurushima dan selama hampir empat dekade melayani pelayaran di Jepang sebelum berpindah ke Indonesia pada 2025-2026. (ali)

Spesifikasi KM Virgo Transport 8       
Nama sekarang: Virgo Transport 8
Nama lama: Ferry Kurushima
IMO: 8625179
Tipe    Passenger/Ro-Ro Cargo Ship / car ferry
Tahun dibuat: 1987
Galangan: Kurushima Dockyard, Onishi Yard, Jepang
Panjang keseluruhan:  119 meter
Lebar sekitar: 21 meter
Gross Tonnage sekitar 4.277 GT
Deadweight: 2.612 ton
Mesin 2 mesin diesel, 8 silinder
Total tenaga ±11.200 PS / 8.238 kW
Propulsi 2 baling-baling
Kecepatan dinas   ±18 knot
Kecepatan maksimum   ±21,6 knot
Kapasitas penumpang awal  756 orang
Kapasitas kendaraan awal  73 truk + 41 mobil penumpang
Awak menurut spesifikasi Jepang  26 orang

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.