BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Hulu Sungai Selatan (HSS) pada Minggu (13/9) menewaskan satwa endemik Kalimantan, bekantan.
Tragisnya, lebih dari satu ekor satwa bernama latin Nasalis Larvatus tersebut dilaporkan mati terpanggang.
Awalnya, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, Lingkungan Hidup dan Pertanahan (Dispera KPLHP) HSS melaporkan 10 bekantan yang mati. Hingga kemudian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel yang tiba di lokasi mengonfirmasi kematian 12 ekor bekantan akibat karhutla tersebut.
Dari temuan relawan pemadam di lokasi, sejumlah bekantan dengan ukuran kecil hingga besar mati terbakar dengan kondisinya menghitam atau bekas terbakar. Bangkai bekantan ditemukan di beberapa pepohonan rumbia (sagu) dan sekitar aliran sungai.
Kepala Desa Balimau, Alamsyah, mengatakan dari penghitungan hari kejadian pertama ada 10 bangkai bekantan ditemukan. “Ternyata, hari ini tadi kita melakukan penjelajahan lebih ke dalam, kami temukan lagi dua bekantan yang mati, sehingga ada 12 ekor,” katanya, Senin (14/9).
Diceritakan Kades Balimau, api bermula dari arah seberang yang masuk kawasan Desa Karang Paci, Kecamatan Kalumpang. Saat kejadian api memasuki kawasan di sekitar pohon di Desa Balimau. “Diduga lantaran terjebak dan enggan menyeberang bekantan tadi terjebak di dalam kobaran api. Memang bekantan ini terbilang cukup pemalu berdekatan dengan warga,” kata Alamsyah usai melakukan penguburan terhadap bangkai bekantan tersebut.
Baca juga: Gelombang Besar jadi Kendala Evakuasi 22 Korban Selamat KM Virgo Transport 8 ke Banjarmasin
“Jadi ada tiga titik yang biasanya sering didatangi kawanan Bekantan ini dan salah satunya yang area terbakar tadi. Lokasi ini memang cukup strategis bagi mereka, ada sungai dan makanan yang disukainya,” sebut Kades Balimau.
Sementara, Fungsional pengendali ekosistem hutan pada BKSDA Kalsel, Jarot Jaka Mulyono, mengungkapkan usai proses pengecekan pascakebakaran lahan di habitat bekantan, ditemukan 12 bekantan mati dan telah dikuburkan.
Terpisah, Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna mengaku menerima mengenai bekantan yang terdampak kebakaran di kawasan Area Penggunaan Lain (APL) Desa Balimau. “Jadi, ada 12 ekor bekantan ya, kurang lebih, serta satu ekor ular piton dan satu ekor king kobra ikut terbakar,” ujarnya.
Selain satwa endemik Kalimantan itu, Agus mengatakan bahwa kawasan tersebut juga menjadi habitat satwa lain, seperti lutung atau hirangan dalam bahasa lokal, serta monyet ekor panjang yang masih dipantau keberadaannya oleh tim BKSDA Kalsel.
Tim penyelamatan BKSDA Kalsel telah mendatangi lokasi untuk memeriksa kondisi habitat yang terbakar, luas kawasan terdampak, serta memastikan kemungkinan masih terdapat satwa yang selamat dan membutuhkan penyelamatan atau evakuasi.
Hasil pengecekan menunjukkan habitat bekantan di lokasi tersebut terdiri atas dua kawasan terpisah yang masing-masing memiliki luas sekitar dua hingga tiga hektare dan dipisahkan oleh jalan, dengan satu kawasan merupakan tanah desa dan kawasan lainnya milik masyarakat.
BKSDA Kalsel telah menangani seluruh bangkai bekantan yang ditemukan dengan menguburkan, dan apabila ditemukan indikasi kematian akibat faktor lain, seperti penembakan, bangkai akan dibawa untuk diperiksa oleh dokter hewan.
DitambahkanKepala Dispera KPLH HSS, Susilo Adianto, di lokasi tersebut memang menjadi habitat kawanan satwa yang dilindungi ini. “Karena jumlahnya di sekitar kawasan Balimau tersebut memang cukup banyak ada puluhan ekor,” jelasnya.
Saat kejadian kebakaran lahan, diduga satwa ini terkepung api dari kebakaran lahan sehingga tidak bisa lari ke tempat aman.(banjarmasinpost.coid/adiyat ikhsan/antara)