Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
TRIBUNFLORES.COM, KUPANG – Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Timur (NTT), Irjen Pol. (Purn.) Dr. Johni Asadoma, mengecam keras aksi penembakan yang menewaskan tiga aparatur sipil negara (ASN) di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Aksi penembakan tersebut terjadi sekitar pukul 15.00 hingga 15.47 WIT, Rabu (9/9/2026) sore. Dari delapan orang yang berada dalam rombongan, lima orang dilaporkan selamat, sementara tiga lainnya meninggal dunia.
Ketiga korban masing-masing adalah Aprida Rapi (49), Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan; drh. Alfonsius Albinus Mehan (35); dan Wili Mbuik (24).
Ketiganya merupakan pegawai pada Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Baca juga: Kasus Penembakan di Papua Pegunungan, Bupati Rote Ndao Minta Diskresi untuk Panggil Pulang ASN
Dua dari tiga korban diketahui merupakan warga asal NTT yang berada di Papua untuk bekerja, mengabdi, dan melayani masyarakat.
Johni Asadoma menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga para korban.
Ia menegaskan bahwa warga NTT yang berada di Papua datang untuk bekerja dan mengabdi kepada masyarakat, bukan untuk mencari konflik ataupun berperang dengan siapa pun.
Karena itu, menurut mantan Kapolda NTT tersebut, tindakan kekerasan terhadap masyarakat sipil tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun.
“Kenapa harus dibunuh? Kalian boleh memperjuangkan apa yang kalian inginkan, tetapi tidak boleh membunuh dan mengorbankan rakyat sipil serta merusak fasilitas umum. Itu adalah tindakan biadab, tindakan yang tidak manusiawi,” kata Johni, Jumat (11/9/2026).
Ia juga mengecam keras pihak-pihak yang melakukan kekerasan terhadap masyarakat sipil. Johni turut hadir bersama pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) Provinsi NTT untuk menjemput jenazah Wili Mbuik di Kargo Bandara El Tari Kupang.
Johni secara khusus memberikan penghormatan kepada Wili, putri asal Busalangga Barat, Kabupaten Rote Ndao, tersebut.
Baca juga: Saksi Mata Ungkap Detik-detik OTK Serang Edwin dan Rekannya di Tambrauw, Papua Barat Daya
“Dan itu bukan manusia yang beragama. Kalian terkutuk semuanya,” kecamnya.
Purnawirawan Polri itu berharap kesadaran tumbuh di kalangan kelompok bersenjata agar tidak lagi menjadikan masyarakat sipil sebagai sasaran kekerasan. Menurutnya, warga yang bekerja dan mengabdi di Papua harus mendapatkan rasa aman dan perlindungan.
Pemerintah Provinsi NTT, kata Johni, akan memberikan pelayanan dan dukungan yang dibutuhkan keluarga korban selama masa berkabung.
Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat NTT meminta aparat keamanan segera mengejar dan menangkap para pelaku untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
“Semoga para pelaku bisa ditangkap dan dihukum setimpal dengan perbuatan mereka agar keluarga bisa mendapatkan keadilan,” ujar mantan Kadivhubinter Mabes Polri itu.
Johni juga mengingatkan seluruh masyarakat NTT yang masih berada di Papua agar meningkatkan kewaspadaan selama menjalankan aktivitas. Ia meminta warga selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan guna memastikan keselamatan.
“Selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan agar memberikan perlindungan,” kata Johni. (fan)