Mahasiswa UHO Kendari Ciptakan Teknologi Pengering Berbasis AI untuk Jaga Kualitas Daun Nilam
Dewi Lestari September 12, 2026 11:50 AM

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Sebanyak lima mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), mengembangkan Syntera, teknologi pengering daun nilam berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT).

Syntera merupakan Smart Dehumidification Dryer yang dirancang untuk membantu mengontrol proses pengeringan daun nilam melalui pemantauan suhu dan kelembapan.

Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Inovatif (PKM-KI) 2026.

Tim Syntera terdiri dari Zaid Helsinki Putra, Muh Ridwan, dan Muh Fahril dari Teknik Informatika, Arya Limansyah dari Teknik Elektro, serta Fina dari Agroteknologi.

Kelima mahasiswa tersebut mengembangkan Syntera di bawah bimbingan Prof Laode Muhammad Golok Jaya.

Baca juga: Apa Itu LEXILIGHT? Inovasi Dikembangkan 5 Mahasiswa UHO Kendari Bantu Penderita Disleksia

Zaid Helsinki Putra mengatakan, gagasan tersebut berangkat dari proses penjemuran nilam yang masih banyak mengandalkan sinar matahari.

Ketergantungan terhadap cuaca, membuat proses tersebut menghadapi berbagai kendala, terutama ketika intensitas matahari tidak stabil atau lingkungan mengalami perubahan.

Padahal, proses pengeringan menjadi salah satu tahapan penting dalam pascapanen nilam. 

Suhu dan kelembapan yang tidak terkendali dapat memengaruhi kualitas bahan baku serta berpotensi berdampak pada kandungan Patchouli Alcohol (PA), salah satu komponen penting dalam minyak nilam.

Dari persoalan itu, Tim Syntera mengembangkan pengering yang memadukan sensor, mikrokontroler, sistem kendali, AI, dan IoT dalam satu perangkat.

Teknologi tersebut memungkinkan kondisi suhu dan kelembapan dipantau secara real-time melalui dashboard monitoring.

Dengan pendekatan tersebut, proses pengeringan tidak hanya mengandalkan kondisi lingkungan, tetapi dapat dipantau berdasarkan data yang diperoleh dari sensor.

“Kami ingin membawa teknologi lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam proses pascapanen nilam. Syntera kami kembangkan agar proses pengeringan dapat dipantau berdasarkan data, bukan hanya bergantung pada kondisi cuaca,” kata Zaid kepada Tribunnews Sultra, Sabtu (12/9/2026).

Baca juga: Tim Mahasiswa Informatika UHO Kendari Juara 1 Lomba Poster Ilmiah Nasional, Ini Tips Keberhasilannya

Ia menjelaskan, pengembangan Syntera juga diarahkan untuk memberikan nilai tambah terhadap komoditas nilam.

Dengan proses pascapanen yang lebih terkontrol, teknologi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga kualitas bahan baku sekaligus mendukung petani dan pelaku usaha dalam mengembangkan komoditas nilam.

Nilam merupakan salah satu komoditas yang digunakan dalam industri minyak atsiri.

Potensi tersebut menjadi alasan Tim Syntera mengembangkan teknologi pada tahap pascapanen untuk mendukung pengolahan komoditas lokal.

Dalam prosesnya, tim melakukan konsultasi dan pengujian dari berbagai aspek, mulai dari sistem elektronik dan kendali hingga pertanian serta pascapanen.

Pendekatan tersebut dilakukan agar Syntera tidak hanya dapat berfungsi secara teknis, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan pengeringan daun nilam.

Saat ini, Syntera masih dalam tahap pengembangan, perakitan, dan pengujian.

Tim melakukan kalibrasi sensor, integrasi perangkat, serta eksperimen pengeringan untuk mengevaluasi kinerja alat.

“Bagi Tim Syntera, inovasi bukan hanya tentang menciptakan teknologi baru, tetapi tentang bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat dan membuka peluang baru bagi masyarakat,” jelasnya. (*)

(Tribunnewssultra.com/Dewi Lestari)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.