TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN – Deretan buku tersusun rapi di dalam rak sekat dengan sampul yang seolah menunggu untuk dibaca.
Mulai dari novel romantis hingga buku politik kritis memenuhi setiap sudut rak di Akademi Bahagia EA, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Berdiri sejak 2023, Akademi Bahagia EA awalnya menjadi ruang bersama bagi berbagai organisasi dan komunitas yang berkaitan dengan Puthut EA, founder Mojok.co.
Seiring waktu, tempat ini kemudian dibuka untuk umum sebagai perpustakaan.
Buka dari pukul 09.00 WIB hingga 20.00 WIB, tempat ini memberikan pengalaman baru menikmati waktu luang
Bukan Sekadar Tempat Membaca
Sebagian orang terlihat membaca, berbincang, atau sekadar menikmati suasana dengan secangkir kopi atau kudapan manis.
Berbeda dari tempat nongkrong yang umumnya menawarkan makanan atau minuman, Akademi Bahagia EA tidak mewajibkan pengunjung untuk membeli menu maupun buku yang tersedia.
Erina, salah seorang pengunjung, menjelaskan bahwa dirinya hanya ingin menikmati waktu dengan membaca buku.
“Kebetulan aku suka baca buku, jadi aku sempet lihat tempat ini di sosmed. Terus, karena menarik dan ternyata ngga harus beli minuman atau makanannya, jadi aku coba ke sini buat baca buku,” jelasnya.
Dimas, manajer Mojok Store, membenarkan bahwa saat ini pengunjung yang datang cenderung hanya membaca buku, menikmati suasana sore hari, atau berdiskusi ringan.
“Ada juga orang-orang yang ke sini hanya untuk sekadar menikmati suasana. Ada yang cuma mau main ke perpustakaan atau sekadar bosan, nyari kegiatan,” ujar Dimas, Manajer Mojok Store.
Baca juga: Guru Besar UGM Sebut Blunder Kepala BGN Tambah Eskalasi Konflik
Hal ini menjadikan Akademi Bahagia EA sebagai tempat yang menyediakan ruang berbeda untuk menghabiskan waktu di Yogyakarta.
Tempat Singgah di Tengah Rutinitas
Pengunjung yang datang cukup beragam, mulai dari pecinta buku, anak muda, hingga anggota keluarga.
Bagi pecinta buku, tempat ini menjadi surga tersembunyi.
Namun, bagi anak muda dan keluarga, tempat ini menjadi ruang singgah dari beragam rutinitas keseharian mereka.
Dari Koleksi Pribadi, Jadi Punya Makna Berarti
Dimas menjelaskan bahwa sebagian buku yang ada merupakan koleksi pribadi Puthut EA dan orang-orang terdekatnya, seperti jurnalis, penulis, serta mereka yang berkecimpung di dunia tulisan.
Koleksi yang sebelumnya tersimpan secara pribadi kemudian dibuka untuk umum.
Di tangan pengunjung, buku-buku tersebut kembali dibuka, dibaca, dan dimaknai.
(MG SOPHIA IKHSANTI)