BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Meneladani perjuangan, keberanian, serta pribadi jujur Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menjadi inti pembahasan yang disampaikan Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin, Prof. Dr. H. Mujiburrahman, M.A., dalam tausiahnya pada peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, Jumat malam (11/8/2026).
Kegiatan yang diadakan Yayasan Qoryah Toyyibah ini diikuti seluruh mahasantri dan mahasantriwati Pesantren Tahfizd milik Yayasan Qurani Qaryah Thoyyibah dari berbagai kampus di Banjarmasin.
Acara turut dihadiri Ketua Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Kalimantan Selatan, H. Anwar Hadimi, yang juga selaku Pembina Yayasan Qurani Qaryah Thoyyibah.
Dalam tausiahnya, Prof Mujiburrahman tidak hanya mengajak menumbuhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah sebagai pembawa risalah, tetapi juga menekankan pentingnya meneladani sifat jujur Nabi di tengah pesatnya kemajuan teknologi masa kini.
Kehadiran mahasiswa dari berbagai kampus semakin menegaskan pesan agar penuntut ilmu tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi. Prof Mujib mengajak mereka kembali pada akar ilmiah yang jujur dan penuh tanggung jawab dengan meneladani kisah kejujuran Nabi.
Baca juga: Sinergi Mahasiswa Lintas Kampus di FORCE Chapter V, Meriahkan HUT FOSMA UIN Antasari Banjarmasin
"Nabi itu menghancurkan berhala mengajak orang kepada Tauhid. Anda mungkin orang zaman moderen nih merasa 'oh kami urang pintar kadada lagi menyembah berhala'. Nanti dulu, apa itu berhala?," kata Prof Mujib mengajak untuk berfikir, kemudian mengutip ucapan Ibrahim Alaihissalam yang dikisahkan dalam Al-Qur'an:
قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ (٩٥)، وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ (٩٦)
"Ibrahim berkata: 'Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? (95). Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu (96)'," (QS. As-Saffat).
Prof Mujib menjelaskan bahwa berhala adalah sesuatu yang diciptakan manusia, namun manusia justru tunduk kepadanya. Dalam konteks dunia teknologi, hal ini dapat dikaitkan dengan berbagai perangkat yang membuat manusia bergantung hingga lalai.
"Hp ini bisa jadi berhala kalau HP yang mengatur diri kita. Ada survey di Baylor University Amerika, saya membaca sekian tahun lalu, hasil surveynya mengatakan tiga per empat dari mahasiswa mengaku hal pertama yang dilakukan setelah bangun tidur adalah membuka ponsel," paparnya.
Para penuntut ilmu diajak menumbuhkan kembali budaya membaca buku, bukan sekadar bergantung pada konten media sosial di ponsel ataupun pada kecenderungan ketergantungan terhadap AI.
Dari peringatan Maulid ini diharapkan mahasiswa yang juga mahasantri di asrama tahfizd mampu mengamalkan ketekunan, kejujuran, dan sikap tanggung jawab, sekaligus menjauhkan diri dari ketergantungan pada teknologi yang kian masif, khususnya dalam penulisan karya ilmiah.
"Sebagaimana yang disinggung oleh Prof Mujib, banyak pesan-pesan ilmiah yang beliau sampaikan, salah satunya adalah bersikap jujur dalam mempublikasikan karya-karya ilmiahnya. Sifat jujur inilah yang harus dikuatkan sebagai pesan khusus pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, karena kejujuran merupakan sifat dari Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam," terang Pimpinan Yayasan Qurani Qaryah Thoyyibah, Ustadz Taufiqurrahman, S.Th.I., M.Pd. (Banjarmasinpost.co.id/Saifurrahman)