Ratusan Penumpang Terjebak di KM Virgo, Terungkap Penyebab Penyelam tak Bisa Diterjunkan
Yandi Triansyah September 15, 2026 11:27 AM

SRIPOKU.COM - Tim SAR gabungan belum dapat menerjunkan penyelam ke dalam bangkai KM Virgo Transport 8 yang terbalik di perairan Masalembo, Laut Jawa. 

Posisi kapal yang tengkurap serta pergeseran titik datum hingga 1,6 mil laut ke arah barat akibat arus laut dinilai berisiko tinggi bagi keselamatan personel.

Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menyatakan bahwa selain posisi kapal, perubahan tekanan udara di dalam sekat atau ruang kosong kapal yang tertutup dapat membahayakan keselamatan tim. 

Karena itu, Basarnas masih melakukan pembahasan teknis guna menentukan metode pencarian lanjutan, termasuk opsi mengubah posisi badan kapal.

"Apabila posisinya tengkurap saat tim penyelam masuk, tentunya memiliki risiko tersendiri. Operasi hanya bisa dilaksanakan jika memenuhi ketentuan keselamatan. Membuka sekat ruang kosong secara paksa juga dapat memicu perubahan tekanan luar biasa yang sangat berbahaya," ujar Syafii di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Senin (14/9/2026).

KM Virgo Transport 8 yang membawa total 243 penumpang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9/2026), sebelum akhirnya dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 02.00 WITA.

Hingga Senin (14/9/2026) pukul 22.00 WITA, Basarnas mengonfirmasi sebanyak 114 korban berhasil ditemukan, dengan rincian 108 orang selamat dan 6 orang meninggal dunia. 

Sementara itu, sebanyak 129 penumpang lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.

Dari total korban yang ditemukan, sebanyak 86 orang (85 selamat, 1 meninggal dunia) telah tiba di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. 

Dua korban lainnya dievakuasi ke Lanud Syamsudin Noor Banjarbaru untuk penanganan medis dan proses identifikasi oleh Tim DVI Mabes Polri, sedangkan 26 korban sisanya (22 selamat, 4 meninggal dunia) saat ini masih dalam perjalanan evakuasi menuju Pelabuhan Trisakti.

Syafii menjelaskan pihaknya perlu memperhitungkan kondisi tersebut sebelum menentukan metode apa yang tepat untuk dilakukan pencarian korban di dalam kapal. 

Sebab kata dia, kemampuan penyelam yang bekerja di bawah air memiliki batas sesuai aturan keselamatan. 

Menurut dia, risiko semakin besar saat penyelam harus menghadapi kondisi kapal yang terbali dan dengan sejumlah ruangan tertutup. 

“Begitu juga pada saat ada ruang-ruang di kapal yang kosong ini, kalau kita sampai memaksakan untuk masuk, apabila kita membuka misalkan salah satu sekat dari ruang kosong ini, di situ ada perubahan tekanan yang luar biasa, tentunya ini akan sangat membahayakan,” ungkap Syafii.

“Kita akan melaksanakan diskusi dan kita melibatkan personel-personel yang memang memiliki kemampuan, baik itu pengalaman atau pendidikan di kondisi-kondisi ini. Ini yang akan kita kembangkan,” tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.