TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Alunan musik klasik tertua dari Negeri Sakura menggema di Concert Hall Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Jumat (11/9/2026) malam.
Ratusan pasang mata tampak terpukau menyaksikan pertunjukan Gagaku seni musik tradisional Jepang yang kerap dijuluki sebagai "orkestra tertua di dunia" yang dibawakan langsung oleh kelompok musisi dari Nihon Ongaku Kokusai Koryukai (NOKK) atau The Association for International Exchange of Japanese Music.
Yogyakarta menjadi kota penutup dari rangkaian tur konser Gagaku di Indonesia, setelah sebelumnya sukses menggelar pertunjukan di Jakarta dan Surakarta (Solo).
Ketua Panitia Acara sekaligus Dosen Penyajian Musik ISI Yogyakarta, Andi Alexander, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat Yogyakarta untuk menyaksikan seni pertunjukan ini sangat tinggi. Terbukti, dari kapasitas Concert Hall yang berkapasitas sekitar 500 penonton, bangku yang tersedia tampak dipenuhi pengunjung.
"Puji Tuhan, respons penonton sangat luar biasa. Tadi seat bagian bawah sudah penuh dan memenuhi bagian atas. Ada sekitar 500 penonton yang hadir, termasuk tamu undangan," ujar Andi saat ditemui di sela-sela acara.
Andi menjelaskan, gelaran ini merupakan bagian dari misi NOKK untuk mengenalkan kekayaan seni dan budaya tradisional Jepang ke ranah global. Tur Asia Tenggara kali ini menjadi yang kedua kalinya digelar oleh NOKK, setelah dua tahun lalu sukses mengadakan tur di Vietnam.
Dalam pertunjukannya, pertunjukan Gagaku tidak hanya menyuguhkan harmoni instrumen musik tradisional seperti alat musik tiup dan perkusi, tetapi juga memadukannya dengan gerakan indah Tarian Bugaku.
Menariknya, musik Gagaku sendiri memiliki rekam jejak sejarah yang panjang dan melintasi batas negara. Musik ini masuk ke Jepang sekitar abad ke-7 hingga abad ke-8 (sekitar tahun 1300-an) dengan membawa pengaruh kuat dari kebudayaan Tiongkok dan Semenanjung Korea, sebelum akhirnya berkembang pesat di lingkungan Kekaisaran Jepang.
Hal senada disampaikan oleh Nagase Toshiko, Ketua Asosiasi Pertukaran Internasional Musik Jepang (NOKK). Dalam keterangannya, Nagase menyampaikan bahwa Gagaku merupakan bentuk musik tertua di Jepang yang telah bertahan lebih dari 1.000 tahun.
"Oleh karena sejarahnya yang telah berlangsung lebih dari 1.000 tahun, serta ciri khas ansambelnya yang terdiri dari alat musik gesek, tiup, dan perkusi, Gagaku adakalanya disebut sebagai 'orkestra tertua di dunia'," ungkap Nagase Toshiko.
Nagase menambahkan, proyek bertajuk "Gagaku - Warisan yang Diteruskan ke Masa Depan" ini terpilih dalam program Dewan Seni Jepang (Japan Arts Council) dan didanai oleh Dana Dukungan untuk Kreator Jepang guna memberdayakan seniman muda di panggung internasional.
"Kami sangat senang mendapat kesempatan untuk memperkenalkan Gagaku di Yogyakarta. Kami berharap melalui pertunjukan ini, pertukaran budaya dan pemahaman antara Indonesia dan Jepang dapat semakin diperdalam," tambah Nagase.
Bagi ISI Yogyakarta, kedatangan tim Gagaku dari Jepang bukan sekadar kolaborasi teknis penyediaan tempat pertunjukan semata.
Lebih dari itu, momentum ini menjadi media pembelajaran penting tentang bagaimana merawat dan memelihara tradisi agar tetap relevan di masa depan.
"Lewat kegiatan ini, kami ingin memberikan inspirasi bahwa tradisi itu bukan sesuatu yang kuno atau membeku oleh waktu. Sesuai tagline mereka, 'Japanese Heritage to the Future', tradisi harus terus dialirkan ke masa depan demi anak cucu. Ini bisa jadi inspirasi bagi kita di Indonesia," tegas Andi Alexander.
Sebelum menggelar konser puncak, rangkaian acara juga diisi dengan kegiatan workshop yang diikuti oleh sekitar 100 mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.
Uniknya, dalam sesi workshop tari, terjadi proses pertukaran budaya secara langsung (cross-cultural exchange). Tim Jepang memperkenalkan Tarian Bugaku kepada para mahasiswa, dan sebaliknya, mahasiswa ISI Yogyakarta memperkenalkan keindahan Seni Tari Jawa kepada para seniman Jepang.
Andi menyebutkan, suksesnya penyelenggaraan acara ini juga tak lepas dari peran dua dosen senior ISI Yogyakarta yang telah purna tugas, yakni Prof. Tamura dan KPH Soedradjat, yang bertindak sebagai penghubung antara pihak ISI Yogyakarta dan NOKK.
"Kunci dari pelestarian tradisi adalah konsistensi. Harapan kami, kerja sama kebudayaan ini bisa berlanjut terus ke depannya dan memberikan kesan yang baik untuk hubungan budaya kedua negara," pungkas Andi. (nto)