Alasan 3 Pelaku Mengeroyok Bambang hingga Tewas di Pejompongan karena Kesal Demo DPR, Ini Kerjanya
Musahadah September 12, 2026 05:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Terungkap alasan 3 pelaku mengeroyok Bambang Setiawan (59) hingga tewas di kawasan Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat seusai demo di DPR 27 Agustus 2026. 

Kepada polisi, tiga pelaku masing-masing berinisial FP (23), DS (33), dan DDS (29) ini mengaku mengeroyok Bambang karena merasa kesal. 

Pelaku yang berinisial P (23), DS (33), dan DDS (29),  semuanya adalah pekerja kasar yang sedang mencari nafkah di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).

Para pelaku mengaku melakukan kerusuhan dan secara spontan mengincar pendemo karena merasa kesal dan terganggu dengan adanya kericuhan di lokasi tersebut.

Bambang yang melintas di kawasan itu dianggapnya sebagai pendemo di DPR yang lari karena rusuh. 

Baca juga: Sosok 3 Pengeroyok Bambang hingga Tewas di Pejompongan Usai Demo DPR 27 Agustus, Bukan GRIB Jaya

"Berdasarkan hasil pemeriksaan dari para penyidik kami, motif para pelaku ini kesal, merasa ada terganggu dengan peristiwa yang terjadi saat mereka bersama-sama melintas, karena kebetulan para pelaku ini mencari nafkah di sekitaran atau area tempat kejadian perkara," terang Dirreskrimum Polda Metro Jaya Kombes dalam keterangan pers pada Sabtu (12/9/2026).

Iman memastikan bahwa para tersangka merupakan warga sipil biasa yang tidak terafiliasi dengan instansi atau organisasi apa pun.

Termasuk, pelaku dipastikan bukan merupakan bagian dari ormas GRIB Jaya yang sebelumnya sempat ikut hadir membubarkan massa sambil membawa bambu.

"Kami pastikan tidak ada (afiliasi). Dari hasil keterangan yang disampaikan oleh para pelaku itu sendiri, mereka tidak terafiliasi dengan organisasi atau pun anggota organisasi tertentu.

Korban Diseret hingga Ditendang

Berdasarkan hasil penyidikan dan kecocokan alat bukti di lapangan, ketiga tersangka memiliki peran masing-masing dalam pengeroyokan terhadap Bambang hingga korban meninggal dunia.

Korban disebut diseret dan dianiaya di tengah jalan raya meski tidak terlibat dalam aksi demonstrasi 27 Agustus 2026.

Pertama, tersangka FP berperan memukul korban menggunakan potongan kayu.

Kemudian, tersangka DDS berperan menyeret dan menendang korban di tengah jalan raya.

"Ketiga, tersangka DS juga turut melakukan pemukulan dan menyeret korban sebelum dikeroyok," tutur Iman.

Saat ini, ketiga tersangka telah ditahan di Rutan Polda Metro Jaya di bawah pengawasan Subdit Kamneg Ditreskrimum untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. 

Atas perbuatannya, ketiga tersangka dijerat dengan Pasal 262 Ayat (3) atau Ayat (4) dan Pasal 466 Ayat (2) atau Ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman penjara hingga maksimal 12 tahun penjara.

Terdeteksi dari Sidik Jari

FP (23), DS (33), dan DDS (29) ditangkap di wilayah Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (11/9/2026) pukul 21.30 WIB.

Ketiga pelaku terlacak berdasarkan hasil investigasi dengan menggabungkan sejumlah alat bukti, mulai dari rekaman CCTV, video amatir, pelacakan sidik jari, hingga olah tempat kejadian perkara (TKP).

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin menyebut, dalam proses pengungkapan kasus, polisi memeriksa 16 orang saksi dan meminta keterangan dari berbagai ahli, mulai dari kedokteran forensik, digital forensik, psikologi forensik, hingga hukum pidana.

Selain itu, Tim Inafis Polda Metro Jaya awalnya menemukan sidik jari laten pada potongan kayu dan bambu yang digunakan untuk memukul korban di Jalan Pejompongan Raya.

Baca juga: Pengeroyok yang Tewaskan Warga Pejompongan Belum Ditangkap, Keluarga Korban Diumrohkan Sosok Rahasia

"Kemudian, setelah dilakukan surveillance (pengintaian), para terduga pelaku terlacak berada di sebuah rumah makan di kawasan Babakan Madang, Kabupaten Bogor," ucap Iman.

Polisi pun melakukan penangkapan sekaligus menyita barang bukti berupa berupa lima buah gelas kaca, delapan piring, dan sendok di rumah makan tersebut yang dipakai oleh FP.

"Hasil sidik jari laten pada potongan kayu memiliki kecocokan (identik) dengan hasil sidik jari laten pada piring dan gelas yang dimiliki sidik jari saudara FP (tersangka)," ujarnya.

Detik-detik Bambang Tewas Dikeroyok Massa

MENINGGAL - (kiri) Sudarsih, istri dari Bambang Setiawan, warga Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat yang menjadi korban tewas saat kericuhan pecah di kawasan itu pada Kamis (27/8/2026) malam.
MENINGGAL - (kiri) Sudarsih, istri dari Bambang Setiawan, warga Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat yang menjadi korban tewas saat kericuhan pecah di kawasan itu pada Kamis (27/8/2026) malam. (tribun jakarta)

Bambang Setiyawan (59), warga Bendungan Hilir tewas di Jalan Pejompongan Raya, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam.

Bambang Setiyawan tewas diduga akibat dianiaya sekelompok orang perusuh yang masuk di wilayah Pejompongan Raya, setelah demonstrasi di gedung DPR RI. 

Sebelum kejadian itu, Bambang masih berjualan cermin di pinggir Jalan Pejompongan Raya.

Istri Bambang, Sudarsi (56) mengatakan, sekitar pukul 16.30 WIB ia meminta suaminya menutup dagangan setelah melihat massa mulai ramai.

"Saya lihat massa udah dari sana udah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, 'Itu massa udah banyak', saya bilang tutup. Pas dia melihat, 'Oh ya udah, tutup'. Saya bantuinlah," ujar Sudarsi saat ditemui di rumah duka, Jumat (28/8/2026).

Setelah itu, Bambang mengantar seseorang yang sakit ke Rumah Sakit Pelni bersama anaknya. Ia kembali ke rumah sekitar pukul 21.00-21.30 WIB.

Setelah situasi dinilai aman, Bambang kembali keluar menuju tokonya di lokasi kericuhan. Namun, ia tak kunjung pulang.

Sekitar pukul 04.00 WIB, keluarga mengetahui Bambang meninggal setelah anaknya mengenali sang ayah dalam video yang beredar di media sosial.

Dalam video yang diperlihatkan kepada Kompas.com, tampak sejumlah pria membawa kayu. Seorang pria terlihat diseret dan dipukuli sekelompok pria.

Sudarsi mengatakan keluarga tidak melihat langsung kejadian tersebut.

"Justru kita tahunya dari video. Kita enggak ada yang lihat jelas nih posisi mayat ini, posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita nggak tahu," tuturnya.

Jenazah Bambang kemudian dibawa ke Rumah Sakit Polri sebelum menuju rumah duka di Bendungan Hilir. (kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.